Tangisan Janda Miskin di Cot Tunong Gandapura Pecah, Rumah dan Harta Benda Ludes Dilalap Api
THE ATJEH NET - Tangisan Suryani (50), warga Dusun Drin Bungkok, Gampong Cot Tunong, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, pecah saat melihat rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung bersama anak-anaknya dilalap si jago merah, Rabu, 7 Oktober 2026.
Dalam hitungan menit, kobaran api menghanguskan sebagian besar bangunan rumah beserta harta benda miliknya. Satu unit sepeda motor Honda Beat keluaran 2016 yang menjadi satu-satunya kendaraan untuk menunjang aktivitas mencari nafkah juga ikut terbakar.
Musibah itu bukan hanya menghanguskan sebuah rumah. Bagi Suryani, kebakaran tersebut sekaligus merenggut tempat berteduh, kendaraan untuk bekerja, uang tunai sekitar Rp250 ribu, serta berbagai barang kebutuhan rumah tangga yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil bekerja sebagai buruh.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Api diduga pertama kali muncul dari bagian belakang rumah, tepatnya di sekitar dapur dan kamar WC, sebelum dengan cepat membesar dan merambat ke bagian lainnya.
Satu unit armada pemadam kebakaran terlihat di lokasi untuk menjinakkan kobaran api. Namun, derasnya api membuat sebagian besar isi rumah tidak berhasil diselamatkan.
Informasi awal dari Kepala Dusun Drin Bungkok menyebutkan, api diduga berasal dari instalasi listrik pompa air yang berada di kamar WC. Dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan kepastian dari pihak berwenang.
Saat kejadian, Suryani juga mengalami luka bakar pada bagian tangan. Kondisinya kemudian membuat ia harus mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Gandapura.
Kini Tak Punya Rumah, Tak Punya Kendaraan
Di balik musibah tersebut, tersimpan kisah kehidupan keluarga yang selama ini bertahan dengan penghasilan pas-pasan.
Suryani merupakan ibu dari lima anak. Dua di antaranya telah berumah tangga, sementara tiga lainnya masih menjadi tanggungannya. Anak-anak yang masih dalam tanggungannya antara lain Nazila Zura (17), Andi Azkar Rafacah (11), serta Riski (20) yang saat ini berada di perantauan.
Andi Azkar Rafacah masih bersekolah di Sekolah Rakyat di Desa Bunyot, Kecamatan Juli.
Dalam kesehariannya, Suryani bekerja sebagai buruh congkel buah kelapa di salah satu pabrik minyak di desa tersebut. Penghasilannya berkisar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, tergantung ada atau tidaknya pekerjaan.
Penghasilan sebesar itu menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
“Kalau sehari atau dua hari tidak bekerja, bisa-bisa tidak ada yang dimakan,” ujar seorang warga Cot Tunong yang mengetahui kondisi kehidupan Suryani.
Warga tersebut juga menyebut Suryani memiliki riwayat penyakit hipertensi.
“Memang kondisi kehidupannya seperti itu. Kalau tidak bekerja, kebutuhan sehari-hari sangat sulit dipenuhi,” katanya.
Kini, setelah rumahnya terbakar, persoalan yang dihadapi Suryani jauh lebih berat. Ia tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan sepeda motor yang selama ini menjadi sarana transportasi untuk mencari nafkah.
Keuchik berharap Pemerintah dan Dermawan Turun Tangan
Keuchik Gampong Cot Tunong, Hasbalah, membenarkan bahwa Suryani merupakan warganya yang selama ini hidup dalam kondisi ekonomi terbatas.
Menurut Hasbalah, Suryani memiliki lima orang anak. Dua sudah berumah tangga, sementara tiga lainnya masih membutuhkan perhatian dan tanggung jawab keluarga.
“Suryani merupakan warga kami. Kondisi ekonominya memang sangat terbatas. Setelah rumahnya terbakar, kami berharap pemerintah dan pihak-pihak yang memiliki kepedulian dapat membantu,” kata Hasbalah kepada Theatjehnet. Rabu 7 Oktober 2026 malam,
Ia berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa rumah layak huni beserta perlengkapannya agar Suryani dan anak-anaknya kembali memiliki tempat tinggal.
Selain rumah, Hasbalah juga berharap ada bantuan untuk mengganti sepeda motor yang terbakar karena kendaraan tersebut selama ini menjadi alat transportasi utama Suryani untuk bekerja.
“Kalau memungkinkan, kami berharap ada bantuan sepeda motor. Kendaraan itu sangat penting bagi Kak Yani untuk mencari nafkah dan menghidupi anak-anaknya,” ujarnya.
Ia juga meminta dinas terkait segera menyalurkan bantuan masa panik serta menyediakan tempat tinggal sementara bagi keluarga korban sampai mereka memiliki tempat untuk menetap kembali.
Camat Gandapura Turun ke Lokasi
Di tengah kondisi lokasi yang gelap akibat aliran listrik sementara dipadamkan oleh pihak PLN Gandapura, Camat Gandapura Birul Walidin bersama Keuchik Cot Tunong Hasbalah turut berada di lokasi kebakaran untuk melihat langsung kondisi rumah korban.
Kehadiran aparat pemerintah di lokasi menjadi bagian dari respons awal terhadap musibah yang menimpa keluarga Suryani.
Pantauan Theatjehnet di lokasi menunjukkan, bagian dapur dan bangunan rumah bantuan milik Suryani mengalami kerusakan parah akibat kebakaran. Sejumlah bagian bangunan dan barang-barang di dalam rumah tidak lagi dapat digunakan.
Sepeda motor milik korban juga ikut ludes terbakar, begitu pula uang tunai sekitar Rp250 ribu dan barang-barang kebutuhan keluarga lainnya.
Sebuah Musibah, Sebuah Seruan Kemanusiaan
Kebakaran ini menyisakan persoalan yang jauh lebih besar daripada kerugian materi. Suryani kini harus memikirkan bagaimana bertahan hidup tanpa rumah dan tanpa kendaraan yang selama ini digunakan untuk mencari penghasilan sehari hari.
Dengan pendapatan harian yang tidak tetap, membangun kembali rumah dan membeli kendaraan baru tentu bukan perkara mudah bagi keluarga tersebut.
Karena itu, musibah yang dialami Suryani menjadi perhatian kemanusiaan bagi pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, komunitas, serta para dermawan yang memiliki kepedulian terhadap warga yang sedang tertimpa musibah.
Bantuan tidak hanya dibutuhkan untuk kebutuhan masa panik. Keluarga tersebut juga membutuhkan tempat tinggal sementara, perlengkapan rumah tangga, kebutuhan pendidikan anak, serta dukungan agar Suryani dapat kembali bekerja dan menghidupi keluarganya.
Bagi keluarga Suryani, bantuan sekecil apa pun bukan sekadar materi. Bantuan tersebut dapat menjadi jalan untuk kembali berdiri setelah seluruh harta benda yang dimilikinya habis dilalap api.
Kini, yang tersisa dari rumah itu bukan hanya puing-puing kebakaran, tetapi juga harapan agar masih ada tangan-tangan yang bersedia membantu seorang ibu kembali memiliki tempat berteduh dan melanjutkan kehidupan bersama anak-anaknya.(MS)
Baca Juga: