Sawah Belum Pulih, Petani Bireuen Terjebak Utang Hampir Setahun Pascabanjir
Petani di Desa Kuburan kehilangan pendapatan setelah sawah tertutup lumpur. Mereka mengaku harus berutang untuk memenuhi kebutuhan keluarga
| Ilalang hampir dua meter tumbuh subur menutupi areal persawahan di Desa Kuburan, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen. |
THE ATJEH NET — Hampir setahun setelah banjir besar melanda Kabupaten Bireuen, petani di Desa Kuburan, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, masih kehilangan sumber pendapatan. Puluhan hektare sawah belum dapat digarap karena tertutup lumpur dan ditumbuhi semak.
Pantauan pada Rabu, 9 September 2026, menunjukkan alang-alang setinggi sekitar 1,5 hingga 2 meter menutupi areal persawahan. Lahan yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan warga kini sebagian berubah menjadi rawa dan semak belukar.
Dampaknya dirasakan langsung oleh petani. Tanpa sawah yang dapat ditanami, mereka kehilangan pendapatan dari sektor pertanian dan harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Hampir setahun pascabencana, belum ada pergerakan yang kami rasakan. Sawah masih seperti ini, irigasi tertutup lumpur, sementara kami terus menunggu tanpa kepastian,” kata seorang petani.
Menurut dia, saluran irigasi yang tertutup sedimentasi menjadi salah satu persoalan utama. Saluran tersebut sebelumnya mengatur aliran air ke areal persawahan, tetapi belum kembali berfungsi setelah banjir.
“Kalau saluran itu dibuka, masyarakat sudah bisa mulai menanam kembali. Tapi sampai sekarang tidak ada tindakan. Akibatnya, hujan sedikit saja sawah kembali tergenang tanpa saluran pembuangan,” ujarnya.
Persoalan air tidak hanya muncul ketika hujan. Saat kemarau, petani juga kesulitan memperoleh pasokan air karena sebagian sawah di Desa Kuburan, Cot Aneuk Batee, dan Alue Krueb merupakan sawah tadah hujan.
“Kalau musim hujan banjir, saat kemarau tidak bisa tanam karena tidak ada air. Jadi masyarakat seperti terjebak di tengah kondisi yang sama-sama sulit,” katanya.
Pendapatan Hilang, Utang Bertambah
Tidak bisa menggarap sawah membuat sebagian petani kehilangan pemasukan utama. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak, mereka mengaku terpaksa berutang.
“Kami ini petani. Sawah tidak bisa digarap, otomatis tidak ada pemasukan. Untuk kebutuhan keluarga kami harus berutang. Anak-anak tetap harus sekolah, kebutuhan mereka tidak bisa ditunda,” tuturnya.
Tekanan ekonomi warga juga bertambah karena sejumlah infrastruktur yang rusak akibat banjir belum sepenuhnya pulih.
Putusnya Jembatan Pante Lhong yang menghubungkan wilayah menuju Matang Kota, Kecamatan Peusangan, membuat warga harus menggunakan jasa penyeberangan untuk aktivitas sehari-hari.
“Anak saya masih sekolah. Kebutuhan mereka harus tetap dipenuhi. Setiap hari kami juga harus menyiapkan uang penyeberangan karena akses jembatan masih terputus,” katanya.
Selain persoalan sawah dan akses transportasi, warga juga mengaku masih menunggu sejumlah bantuan pascabencana. Salah seorang warga mengatakan belum menerima bantuan jatah hidup (jadup) dan bantuan rehabilitasi-rekonstruksi rumah.
“Data sudah diminta perangkat desa. Sebagian sudah cair, bagi tahap dua sampai hari ini saya belum menerima jadup maupun bantuan rusak rekon. Tidak ada kejelasan kapan bantuan itu diberikan,” ujarnya.
Bagi petani, pemulihan sawah menjadi kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kemampuan mereka untuk kembali mandiri secara ekonomi. Selama lahan belum dapat ditanami, sumber pendapatan utama mereka belum kembali.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen mempercepat normalisasi saluran irigasi dan pembersihan sedimentasi agar sawah kembali produktif. Mereka juga meminta kepastian mengenai bantuan bagi warga yang terdampak banjir.
“Yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukan seremonial atau pencitraan. Kami butuh sawah yang bisa digarap kembali agar keluarga bisa makan dan anak-anak bisa tetap sekolah,” katanya.
Pemulihan, menurut warga, tidak cukup hanya dengan memperbaiki kerusakan fisik. Bagi mereka, sawah yang kembali produktif merupakan tanda bahwa kehidupan ekonomi setelah bencana benar-benar mulai pulih.
Baca Juga:
