SWIPE UP TO READ

Harga Minyak Tembus US$100, Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu

Brent menembus US$107,63 per barel setelah gangguan di Hormuz dan Laut Merah. Pertamina memperingatkan risiko kenaikan harga BBM
Foto: Pertamina tegaskan kualitas BBM Pertamax (RON 92) sesuai spesifikasi. (Dok. PT Pertamina Patra Niaga)

THE ATJEH NET — Harga minyak mentah dunia kembali menembus US$100 per barel. Brent naik 6,34 persen menjadi US$107,63 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,69 persen menjadi US$102,48 pada Kamis, 10 September 2026.

Kenaikan tersebut membawa harga kedua minyak acuan itu ke level tertinggi sejak 19 Mei. Lonjakan dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan setelah serangkaian serangan terhadap kapal di tengah perang Iran serta meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran strategis.

Gangguan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memperketat pasokan minyak global. Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar selat tersebut setelah Amerika Serikat menyerang lima kapal tanker Iran.

Di Laut Merah, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan mengambil alih Pelabuhan Mocha di Yaman. Kondisi itu meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran yang menjadi bagian penting dari distribusi energi dan barang internasional.

Dampaknya mulai menjadi perhatian pelaku industri energi di Indonesia. Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan risiko geopolitik saat ini menjadi salah satu tekanan terberat terhadap pasar energi.

Menurut Eko, perang di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz tidak hanya mempengaruhi ketersediaan energi, tetapi juga membuat harga minyak dunia lebih sulit diprediksi.

“Adanya perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global, selain ketersediaan energi di dunia, harga juga menjadi tidak stabil,” kata Eko kepada media di Yogyakarta, Jumat, 11 September 2026.

Eko berharap ketegangan geopolitik mereda sehingga harga minyak kembali ke kisaran US$60-US$70 per barel. Jika harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap harga BBM dalam negeri akan semakin besar.

Ia memperkirakan harga Pertamax dan produk BBM nonsubsidi lainnya berpotensi berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribuan per liter jika harga minyak dunia tidak kembali turun.

“Karena kalau tidak turun, kondisi ini akan berdampak, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan,” ujar Eko.

Tekanan tersebut terlihat dari pergerakan Indonesian Crude Price (ICP). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan rata-rata ICP Agustus 2026 sebesar US$89,43 per barel, naik US$7,75 dari US$81,68 per barel pada Juli.

Kenaikan ICP sejalan dengan penguatan sejumlah harga minyak mentah acuan di pasar internasional.

Pada Agustus, harga Brent yang diperdagangkan di ICE naik dari US$83,97 menjadi US$88,08 per barel. WTI di Nymex meningkat dari US$79,22 menjadi US$82,45 per barel.

Sementara itu, Dated Brent naik dari US$83,41 menjadi US$90,84 per barel. Kenaikan Dated Brent mencapai US$7,43 per barel dalam sebulan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kenaikan ICP dipengaruhi risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan di jalur pelayaran utama.

“Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia,” kata Laode dalam keterangan tertulis, Jumat, 11 September 2026.

Selain gangguan jalur pelayaran, pemerintah menyebut pengetatan sanksi politik dan ekonomi serta kebuntuan diplomasi internasional turut membatasi peluang penurunan harga minyak.

Memasuki September, pemerintah memproyeksikan ICP masih berada di level tinggi, sekitar US$83-US$87 per barel. Perkiraan itu mempertimbangkan risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz dan potensi penurunan cadangan minyak Amerika Serikat.

Ancaman terhadap harga BBM

Kenaikan harga minyak dunia menjadi persoalan penting bagi Indonesia karena harga minyak berpengaruh terhadap biaya pengadaan energi dan perhitungan harga BBM nonsubsidi.

Jika tekanan harga berlangsung lama, beban tidak hanya dirasakan konsumen melalui harga BBM. Biaya logistik, transportasi, dan produksi juga berpotensi meningkat karena energi merupakan salah satu komponen utama dalam aktivitas ekonomi.

Pemerintah menyatakan masih memantau perkembangan harga minyak mentah dunia. Formula ICP tetap digunakan untuk mencerminkan dinamika pasar internasional dan menjadi salah satu dasar dalam pengelolaan sektor hulu minyak dan gas.

Persoalannya kini bukan hanya seberapa tinggi harga minyak naik, tetapi berapa lama gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik dapat bertahan. Jika harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel, tekanan terhadap harga energi dan biaya ekonomi domestik berpotensi semakin besar.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Harga Minyak Tembus US$100, Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu
  • Harga Minyak Tembus US$100, Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu
  • Harga Minyak Tembus US$100, Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu
  • Harga Minyak Tembus US$100, Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu
  • Harga Minyak Tembus US$100, Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu
  • Harga Minyak Tembus US$100, Pertamax Terancam Naik ke Rp20 Ribu