Tradisi Maulid di Aceh Utara Berlangsung Berbulan-bulan, Bupati Ajak Warga Merawatnya
Peringatan Maulid Nabi di Aceh Utara digelar bergiliran di gampong dan masjid, diisi kenduri, zikir, doa bersama, serta santunan
THE ATJEH NET - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh Utara tidak berhenti pada 12 Rabiul Awal. Tradisi keagamaan itu biasanya berlangsung bergiliran di gampong dan masjid selama beberapa bulan setelahnya.
Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau Ayah Wa mengajak masyarakat mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Aceh.
“Mari kita sambut 12 Rabiul Awal, hari lahirnya Nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW. Di 27 kecamatan dan berbagai lapisan masyarakat di gampong-gampong, ayo semarakkan Maulid Rasul,” kata Ayah Wa.
Menurut dia, peringatan Maulid dapat diisi dengan kenduri dan doa bersama. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk bersyukur sekaligus mempererat kebersamaan.
“Dengan memperingati dan mengadakan kenduri maulid, kita memohon kepada Allah agar mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW di yaumil mahsyar kelak,” ujarnya.
Maulid Menjadi Tradisi di Gampong
Di Aceh Utara, peringatan Maulid umumnya digelar di masjid dan meunasah secara bergiliran antargampong. Warga berkumpul untuk mengikuti zikir dan doa, kemudian makan bersama dalam kenduri yang disiapkan masyarakat.
Sejumlah kegiatan sosial juga kerap menyertai peringatan tersebut, seperti santunan kepada anak yatim. Selain menjadi bagian dari syiar Islam, kegiatan itu menjadi ruang pertemuan warga dan memperkuat silaturahmi.
Pola pelaksanaan yang berlangsung berbulan-bulan membuat Maulid tidak hanya menjadi peringatan sehari, tetapi juga bagian dari kalender sosial masyarakat di tingkat gampong.
Ayah Wa meminta masyarakat menjaga kebersamaan dalam menjalankan tradisi tersebut. Pemerintah daerah, kata dia, berharap peringatan Maulid tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh Utara tanpa kehilangan nilai keagamaannya.
Dengan 27 kecamatan yang terdiri dari ratusan gampong, pelaksanaan Maulid berlangsung pada waktu yang berbeda-beda. Tradisi kenduri, zikir dan doa bersama pun menjadi salah satu ciri kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Aceh Utara.
Baca Juga:
