Harga Semen di Aceh Tembus Rp120 Ribu, DPRA Desak Pemerintah Telusuri Rantai Distribusi
Komisi III DPRA meminta pemerintah menelusuri kenaikan harga semen dari produsen hingga toko untuk memastikan tidak ada permainan harga.
![]() |
| Wakil Ketua Komisi III DPRA Armiyadi |
THE ATJEH NET - Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) meminta pemerintah segera menelusuri penyebab kenaikan harga semen di Aceh. Pengawasan diminta dilakukan dari tingkat produsen, distributor hingga pedagang agar kenaikan harga tidak dibebankan kepada masyarakat.
Wakil Ketua Komisi III DPRA Armiyadi mengatakan kenaikan harga semen di sejumlah toko bangunan sudah dirasakan masyarakat. Namun, dugaan permainan harga di tingkat distributor belum dapat dipastikan dan harus dibuktikan melalui pemeriksaan.
“Yang pasti di tingkat toko sudah terjadi kenaikan harga. Kalau di distributor apakah ada permainan harga atau tidak, itu harus diperiksa lagi. Pemerintah harus memastikan persoalan ini selesai secara menyeluruh,” kata Armiyadi, Selasa, 11 Agustus 2026.
Keluhan harga semen mencuat setelah sejumlah masyarakat melaporkan kelangkaan semen yang kemudian diikuti kenaikan harga di tingkat pengecer. Harga semen di sejumlah toko disebut mencapai sekitar Rp120 ribu per sak.
Menurut Armiyadi, pemerintah tidak cukup hanya memantau harga jual di toko. Pemeriksaan perlu menelusuri ketersediaan stok, produksi, distribusi, biaya angkutan hingga harga yang ditetapkan pedagang.
Aceh, kata dia, juga memiliki fasilitas produksi semen sendiri melalui Pabrik Semen Lhoknga yang dikelola PT Solusi Bangun Andalas (SBA). Karena itu, ia menilai perlu ada penjelasan mengenai penyebab harga semen di sejumlah wilayah Aceh yang disebut lebih mahal dibandingkan Medan.
“Jangan sampai masyarakat hanya melihat harga sudah tinggi, tetapi tidak tahu penyebabnya. Pemerintah harus memastikan apakah kenaikan itu karena pasokan, distribusi atau faktor lainnya. Kalau memang ada permainan harga, harus ditindak,” ujarnya.
Armiyadi mengatakan persoalan harga semen menjadi semakin penting karena kebutuhan material bangunan di Aceh berpotensi meningkat. Selain pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, kebutuhan semen diperlukan untuk pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur setelah bencana hidrometeorologi.
Kenaikan harga semen akan langsung berdampak pada biaya pembangunan. Masyarakat yang membangun atau memperbaiki rumah maupun pelaksana proyek infrastruktur harus menanggung biaya material yang lebih tinggi jika harga tidak terkendali.
Karena itu, Armiyadi meminta pemerintah dan perusahaan terkait memperketat pengawasan terhadap distributor dan pedagang. Jika ditemukan pelanggaran tata niaga atau permainan harga, ia meminta tindakan tegas dilakukan.
“Kalau nanti terbukti ada permainan harga di distributor, perusahaan harus mengambil tindakan. Jangan hanya memberikan teguran biasa, karena persoalan ini sudah beberapa kali dikeluhkan masyarakat,” katanya.
Armiyadi menegaskan pengawasan harga semen harus dilakukan secara transparan. Pemerintah juga perlu memastikan pasokan tersedia agar kelangkaan tidak menjadi alasan bagi kenaikan harga yang terus berulang.
“Persoalan semen ini jangan dibiarkan menjadi masalah berulang. Pemerintah harus hadir memastikan tata niaga berjalan sehat sehingga masyarakat tidak terus-menerus menanggung mahalnya biaya pembangunan,” ujarnya.
Baca Juga:
