SWIPE UP TO READ

Edukasi Ratusan Penyintas Bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Gelar KPM Berdampak di Bireuen

THE ATJEH NET - Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah, jalan, jembatan, dan fasilitas publik yang rusak. Pengetahuan masyarakat dalam mengenali risiko, menyelamatkan diri, serta mengambil keputusan secara tepat ketika bencana terjadi menjadi fondasi penting dalam membangun ketangguhan menghadapi ancaman bencana.

Semangat itulah yang dibawa Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh melalui Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) Berdampak, yang menyasar ratusan warga pesisir penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Bireuen.

Kegiatan yang berlangsung di Meuligoe Residen Cot Gapu, Bireuen, Rabu (12/8/2026) pagi, menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir dan daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

KPM Berdampak tersebut dibuka langsung Anggota Komisi V DPR RI, H. Ruslan M. Daud, S.E., M.A.P. Dalam sambutannya, Ruslan menegaskan bahwa masyarakat merupakan garda terdepan ketika bencana terjadi sehingga memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekadar pilihan.

Menurutnya, penanggulangan bencana tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas kebencanaan. Masyarakat harus dibekali pemahaman mengenai apa yang harus dilakukan sebelum bencana, bagaimana menyelamatkan diri saat bencana terjadi, hingga langkah yang perlu dilakukan setelah kondisi kembali aman.

“Melalui kegiatan ini, kita berharap silaturahmi antarmasyarakat semakin kuat sekaligus pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana meningkat. Warga menjadi tahu langkah apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana,” ujar Ruslan kepada wartawan seusai membuka kegiatan.

Ia berharap bencana banjir maupun berbagai bencana hidrometeorologi lainnya tidak kembali menimbulkan dampak besar terhadap masyarakat Bireuen dan Aceh secara umum.

“Harapan kita bersama, bencana banjir maupun lainnya tidak terjadi lagi di Bireuen maupun Aceh secara umum,” katanya.

Ruslan juga memberikan apresiasi terhadap langkah Politeknik Pelayaran Malahayati yang menghadirkan program pengabdian langsung kepada masyarakat terdampak. Menurutnya, perguruan tinggi tidak semestinya hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus mampu menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Bangun Budaya Kesiapsiagaan

Direktur Politeknik Pelayaran Malahayati, Ir. Andi Fiardi, mengatakan KPM Berdampak merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menjalankan fungsi pengabdian kepada masyarakat.

Ia menyebutkan, edukasi kebencanaan menjadi semakin penting karena Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki kerawanan terhadap berbagai jenis bencana.

“Kami memberikan edukasi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana, agar tidak panik dan tetap tenang. Mengingat hampir seluruh wilayah Aceh rawan berbagai jenis bencana, masyarakat wajib memahami upaya penyelamatan yang perlu dilakukan,” ungkapnya.

Andi berharap pengetahuan yang diberikan kepada peserta tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Sebaliknya, informasi tersebut diharapkan dibawa pulang, diteruskan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat di lingkungan masing-masing.

Dengan cara tersebut, edukasi kebencanaan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi budaya kesiapsiagaan yang hidup di tengah masyarakat.

Sasar 6.400 Warga di Delapan Kabupaten/Kota

Ketua Panitia sekaligus Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pelayaran Malahayati, Ir. Dedi Kurniawan, menjelaskan KPM Berdampak dilaksanakan secara masif di delapan kabupaten/kota di Aceh.

Program tersebut menyasar masyarakat di wilayah yang terdampak bencana hidrometeorologi. Materi yang diberikan berfokus pada mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, sekaligus memperkenalkan peran serta kontribusi Politeknik Pelayaran Malahayati kepada masyarakat.

“Fokus utama kami adalah mengedukasi masyarakat terkait mitigasi bencana hidrometeorologi bersama para pemateri, sekaligus menyosialisasi peran institusi Politeknik Pelayaran Malahayati di tengah masyarakat,” jelas Dedi.

Ia menyebutkan, secara keseluruhan program tersebut menargetkan 6.400 warga terdampak bencana yang tersebar di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Bener Meriah, hingga Aceh Tengah.

Di setiap kabupaten/kota, sekitar 800 warga dari gampong-gampong terdampak diundang mengikuti rangkaian edukasi selama satu hari.

“Di setiap kabupaten/kota, kami mengundang 800 peserta dari gampong terdampak bencana hidrometeorologi untuk mengikuti edukasi selama satu hari. Para peserta kami bekali fasilitas seperti topi, baju, uang saku, dan kelengkapan lainnya,” terang Dedi.

Tak Hanya Edukasi, 400 Anak Terima Bantuan

Kepedulian Politeknik Pelayaran Malahayati juga menyentuh kelompok usia anak. Dalam rangkaian KPM Berdampak di Bireuen, institusi tersebut menyalurkan bantuan peralatan sekolah kepada 400 murid TK dan siswa SD kelas 1.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan pendidikan anak-anak yang berasal dari wilayah terdampak bencana sekaligus menjaga agar proses pendidikan tetap menjadi perhatian selama masyarakat menjalani masa pemulihan.

Program ini memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar membangun kembali infrastruktur. Ketika sebuah bencana terjadi, yang terdampak bukan hanya bangunan dan fasilitas umum, tetapi juga kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga kesiapan mental masyarakat.

Karena itu, penguatan kapasitas manusia melalui pendidikan, edukasi mitigasi, dan peningkatan kesadaran menjadi investasi penting untuk mengurangi risiko ketika bencana kembali datang.

Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, legislatif, dan masyarakat melalui kegiatan tersebut diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang tidak hanya mengetahui bahwa wilayahnya rawan bencana, tetapi juga memahami bagaimana menghadapi ancaman tersebut secara tepat.

Bagi masyarakat pesisir Aceh yang hidup berdampingan dengan berbagai potensi ancaman alam, kemampuan mengenali risiko, tetap tenang dalam situasi darurat, mengambil keputusan secara tepat, serta memahami prosedur keselamatan merupakan modal penting untuk membangun masyarakat yang tangguh.

Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan hanya tentang bagaimana menyelamatkan diri ketika bencana datang, tetapi bagaimana pengetahuan dan kesadaran masyarakat mampu mengurangi risiko sebelum bencana terjadi.(MS)

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Edukasi Ratusan Penyintas Bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Gelar KPM Berdampak di Bireuen
  • Edukasi Ratusan Penyintas Bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Gelar KPM Berdampak di Bireuen
  • Edukasi Ratusan Penyintas Bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Gelar KPM Berdampak di Bireuen
  • Edukasi Ratusan Penyintas Bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Gelar KPM Berdampak di Bireuen
  • Edukasi Ratusan Penyintas Bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Gelar KPM Berdampak di Bireuen
  • Edukasi Ratusan Penyintas Bencana, Politeknik Pelayaran Malahayati Gelar KPM Berdampak di Bireuen