Akses Beutong Ateuh Banggalang Kembali Terhubung, Proyek Pemulihan Dikebut hingga Desember
Jalur yang sempat terputus akibat bencana kini bisa dilalui kendaraan besar. Proyek permanen masih terkendala pasokan semen dan solar.
![]() |
| Satgas PRR meninjau pemulihan infrastruktur di Beutong Ateuh, Nagan Raya, Aceh. |
NAGAN RAYA — Akses warga Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, yang sempat terputus akibat bencana hidrometeorologi kini kembali terbuka. Kendaraan angkutan berukuran besar mulai melintas, sementara pekerjaan pemulihan permanen jalan, jembatan dan aliran sungai masih dikebut hingga Desember 2026.
Pemulihan dilakukan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera di sejumlah titik yang terdampak. Salah satunya Desa Blang Puuk, tempat badan jalan sebelumnya hilang akibat gerusan sungai.
Project Manager Proyek Penanganan Bencana Alam Ruas Genting Gerbang–Jeuram, Feri Ejin, mengatakan tim telah merekonstruksi badan jalan sekaligus mengembalikan aliran sungai yang melebar dan menggerus jalan ke jalur semula.
Untuk memperkuat perlindungan infrastruktur, tim juga membangun tanggul di sisi kanan dan kiri sepanjang 400 meter di sekitar jembatan.
“Sekarang kita membangun tanggul kanan dan kiri sepanjang 400 meter. Tanggul itu dibangun untuk melindungi konstruksi utama jembatan dan jalan,” kata Feri di Desa Blang Puuk, Ahad, 9 Agustus 2026.
Pemulihan akses tersebut mulai berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Jalur yang sebelumnya terisolasi kini dapat dilalui kendaraan pengangkut barang. Distribusi hasil pertanian dan pasokan dari Takengon menuju Nagan Raya dan Meulaboh kembali berjalan.
“Masyarakat sudah terlayani sehingga akses yang kemarin terputus sudah kembali. Mobil-mobil muatan besar untuk suplai dari Takengon ke Nagan Raya ataupun ke Meulaboh sudah mulai masuk,” ujar Feri.
Namun, pekerjaan konstruksi masih menghadapi persoalan pasokan material. Tim membutuhkan sedikitnya 400 ton semen selama Agustus, sedangkan pasokan yang tersedia saat pemantauan baru 45 ton. Tambahan semen didatangkan dari Belawan dan Dumai.
Kebutuhan solar untuk mengoperasikan alat berat juga cukup besar, mencapai sekitar 46 ribu liter per bulan.
Kepala Urusan Tata Usaha Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.7 Aceh, Fachrun Rizaldi, mengatakan progres pekerjaan secara kontraktual mencapai 17,29 persen. Untuk mempercepat pekerjaan, tim menyiapkan tambahan sembilan unit ekskavator serta mengupayakan ketersediaan bahan bakar dan semen.
Feri mengatakan pekerjaan di sekitar aliran sungai dekat Jembatan Blang Puuk hingga Ruas Beutong dan Celala ditargetkan selesai pada Desember 2026.
“Kita tetap mencari cara, dengan semangat bahwa di bulan Desember ini kita bisa menyelesaikan proyek tepat waktu,” katanya.
Selain pekerjaan di Blang Puuk, penanganan juga dilakukan terhadap material longsor dan limpahan air yang menutup Ruas Beutong dan Celala di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang.
Satgas PRR menilai pemulihan aliran sungai menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kerusakan berulang. Aliran sungai yang sebelumnya melebar kini diarahkan kembali ke bawah jembatan.
Perwakilan Tim Satgas PRR Aceh Kementerian Dalam Negeri, Imran, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya perkembangan dalam penanganan pascabencana.
“Dari sungainya yang begitu lebar sekarang bisa dikonsentrasikan kembali di bawah jembatan,” kata Imran.
Pemulihan akses juga mulai menghidupkan kembali aktivitas pasar, perkebunan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat setempat.
Peninjauan Satgas PRR di Nagan Raya merupakan bagian dari evaluasi rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh. Tim juga memantau Jembatan Rangka Baja Gunong Kong di Gampong Alue Wakie, Kecamatan Darul Makmur, yang sebelumnya terputus dan masih menunggu penanganan lebih lanjut.
Baca Juga:
