WNI di Jerman Cerita Sengatan Gelombang Panas Eropa: "Rumah Serasa Microwave"
Gelombang panas melanda Eropa. WNI di Jerman mengaku sesak meski di dalam rumah, sementara warga mulai memburu AC portabel.
![]() |
| Gambar Ilustrasi pengukur suhu cuaca panas |
JAKARTA – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa sejak awal Juni tidak hanya memicu gangguan aktivitas, tetapi juga menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur. Di Jerman, suhu tinggi membuat bantalan rel kereta hingga lampu lalu lintas mengalami kerusakan akibat panas.
Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Hamburg, Jerman, Jismi Akmam Bukhara, menggambarkan kondisi tersebut sebagai pengalaman yang tidak biasa bagi masyarakat setempat.
"Panasnya terasa menusuk. Rasanya megap-megap kalau berada di luar ruangan, udaranya terasa berat," kata Jismi dikutip dari CNNIndonesia, Sabtu, 4 Juli 2026.
Menurut dia, dampak gelombang panas di Jerman memang tidak separah di Prancis, yang dilaporkan mencatat ribuan kematian terkait cuaca ekstrem dalam sepekan. Namun, suhu tinggi tetap mengganggu aktivitas sehari-hari.
Saat siang hari, banyak warga memilih bertahan di dalam rumah. Meski begitu, kondisi di dalam ruangan juga tidak selalu lebih nyaman.
"Di satu sisi apartemen perlu sirkulasi udara, tetapi udara yang masuk justru membuat rumah seperti microwave. Kalau jendela tidak dibuka, udara di rumah menjadi sangat pengap," ujarnya.
Jismi menjelaskan sebagian besar bangunan di Eropa dirancang untuk mempertahankan suhu hangat saat musim dingin. Ketika terjadi gelombang panas, desain bangunan tersebut justru membuat panas terperangkap di dalam ruangan.
"Di Eropa kebanyakan wilayahnya beriklim sedang dan dingin. Begitu mendapat panas yang tidak biasa seperti ini, infrastrukturnya kewalahan. Dan ini belum tentu yang terparah," katanya.
Kondisi itu mendorong meningkatnya permintaan pendingin ruangan. Menurut Jismi, banyak warga mulai mencari AC portabel karena pemasangannya lebih praktis dibandingkan AC permanen.
"Minimal membeli AC portabel karena pemasangan AC konvensional sangat rumit," ujarnya.
Ia mengatakan sebagian besar warga Jerman tinggal di rumah atau apartemen sewa sehingga pemasangan AC permanen memerlukan izin dari pemilik bangunan. Selain itu, banyak hunian memang tidak dirancang untuk menggunakan sistem pendingin udara seperti yang lazim ditemui di negara beriklim tropis.
Hingga kini, kata Jismi, pemerintah Jerman belum menerapkan kebijakan darurat khusus karena dampak gelombang panas di negara itu dinilai belum seberat yang terjadi di Prancis. Namun, suhu ekstrem tetap menjadi tantangan baru bagi masyarakat yang selama ini lebih terbiasa menghadapi cuaca dingin.
Baca Juga:
