Gantikan Muktaruddin, Estafet Kepemimpinan FPRMI Aceh Resmi Berpindah Ke M Saleh Modus
BANDA ACEH- Musyawarah Daerah (Musda) II Forum Pemimpin Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) Aceh yang berlangsung di Banda Aceh, Minggu (28/6/2026), menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi para pemimpin redaksi media di Aceh. Berlangsung dalam suasana sederhana, penuh kekeluargaan, dan mengedepankan semangat musyawarah, forum tersebut secara aklamasi menetapkan Muhammad Saleh, S.E., S.H., M.M. sebagai Ketua FPRMI Aceh periode 2026-2029.
Pemilihan berlangsung tanpa persaingan maupun dinamika politik organisasi. Seluruh peserta Musda yang terdiri atas para pemimpin redaksi media dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh secara bulat memberikan mandat kepada Muhammad Saleh untuk memimpin organisasi selama tiga tahun ke depan.
Dengan keputusan tersebut, tongkat estafet kepemimpinan FPRMI Aceh resmi berpindah dari Pelaksana Tugas (Plt) Ketua, Muktaruddin Usman, S.E., kepada Muhammad Saleh yang dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid dan Media Siber MODUS ACEH.
"Dengan berakhirnya Musda ini, berarti kepemimpinan FPRMI Aceh berganti. Saya berharap kepengurusan yang baru mampu membawa organisasi ini semakin maju dan memberi manfaat lebih besar bagi dunia pers di Aceh," ujar Muktaruddin saat menutup sidang Musda.
Momentum Evaluasi dan Penguatan Organisasi
Dalam sambutannya, Muktaruddin menegaskan bahwa Musda bukan sekadar agenda memilih ketua baru, melainkan forum tertinggi organisasi untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan FPRMI sekaligus merumuskan arah kebijakan organisasi di tengah perubahan besar industri media.
Ia mengingatkan bahwa FPRMI Aceh lahir pada 8 Oktober 2023 melalui pertemuan para pemimpin redaksi media yang difasilitasi Serikat Perusahaan Pers (SPS) Aceh. Sejak berdiri, organisasi ini menjadi wadah komunikasi dan kolaborasi bagi para pimpinan media dalam membahas berbagai isu strategis, mulai dari profesionalisme pers, keberlanjutan bisnis media digital, hingga peningkatan kualitas jurnalistik.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi perusahaan pers saat ini semakin kompleks sehingga dibutuhkan kepemimpinan yang mampu memperkuat soliditas organisasi sekaligus menghadirkan gagasan-gagasan baru.
"Saya kira semua mengenal sosok Kanda Muhammad Saleh. Rekam jejak beliau panjang sebagai aktivis mahasiswa, kemudian berkarier sebagai jurnalis di berbagai media lokal Aceh hingga media nasional di Jakarta. Pengalaman itu menjadi modal besar untuk membawa FPRMI Aceh semakin berkembang," katanya.
Siapkan Kepengurusan dan Program Strategis
Sementara itu, Ketua FPRMI Aceh terpilih, Muhammad Saleh, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan seluruh peserta Musda. Ia menilai amanah tersebut merupakan tanggung jawab besar yang harus dijalankan secara kolektif bersama seluruh anggota organisasi.
Langkah awal yang akan dilakukan adalah segera menyusun struktur kepengurusan agar organisasi dapat langsung menjalankan program kerja.
"Secepatnya kami akan membentuk kepengurusan bersama teman-teman. Setelah itu kami menyusun program kerja yang sesuai dengan karakter organisasi para pemimpin redaksi," ujarnya.
Muhammad Saleh menegaskan bahwa FPRMI tidak hanya menjadi wadah berhimpun para pimpinan media, tetapi juga harus tampil sebagai organisasi yang mampu melahirkan pemikiran strategis bagi pembangunan Aceh.
Program kerja ke depan akan difokuskan pada peningkatan kapasitas pemimpin media, penyelenggaraan forum diskusi, kajian kebijakan publik, penguatan profesionalisme jurnalistik, serta penyampaian rekomendasi strategis kepada Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten/kota.
"Sebagai organisasi yang beranggotakan para pemimpin redaksi, tentu orientasi program kami juga harus berada pada level strategis. FPRMI harus mampu memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif bagi pembangunan daerah," tegasnya.
Menjawab Tantangan Era Disrupsi Digital
Terpilihnya Muhammad Saleh secara aklamasi juga mencerminkan harapan besar anggota terhadap lahirnya kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan dunia pers di era digital.
Industri media saat ini menghadapi perubahan yang sangat cepat. Persaingan dengan platform media sosial, maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi, tekanan ekonomi terhadap perusahaan pers, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi tantangan nyata yang harus direspons secara profesional.
Dalam situasi tersebut, FPRMI Aceh diharapkan mampu menjadi pusat pertukaran gagasan, penguatan kompetensi, sekaligus mitra strategis pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem pers yang sehat, independen, profesional, dan berintegritas.
Selain menjaga marwah jurnalistik sesuai Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, organisasi ini juga diharapkan dapat memperkuat fungsi kontrol sosial media serta menghadirkan informasi yang berkualitas bagi masyarakat.
Musda II FPRMI Aceh pun menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan organisasi. Di bawah kepemimpinan Muhammad Saleh, para anggota menaruh harapan besar agar FPRMI Aceh semakin solid, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjadi kekuatan intelektual yang berkontribusi nyata bagi kemajuan pers dan pembangunan Aceh.(Rel)
Baca Juga: