Bappenas Dorong Integrasi Platform Digital untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Bappenas menilai integrasi data pangan, gizi, dan iklim diperlukan untuk mendukung kebijakan berbasis bukti dan target swasembada pangan.
![]() |
| Gambar Ilustrasi Ketahanan Pangan Nasional |
JAKARTA – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mendorong integrasi berbagai platform digital untuk memperkuat transformasi sistem pangan nasional. Langkah ini menjadi bagian dari pelaksanaan agenda ketahanan pangan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Deputi Bidang Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Ifan Martino, mengatakan pemerintah kini menerapkan pendekatan yang melihat sistem pangan secara menyeluruh, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Pendekatan tersebut juga mempertimbangkan aspek gizi dan keberlanjutan lingkungan.
"Kami merancang pembangunan ketahanan pangan dengan pendekatan yang lebih holistik. Tidak hanya fokus pada produksi atau konsumsi, tetapi melihat sistem pangan secara utuh," kata Ifan dalam diskusi mengenai sistem pangan sehat dan tangguh di Jakarta, Rabu (2/7/2026).
Menurut Ifan, transformasi sistem pangan menjadi salah satu arah pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan RPJMN. Pemerintah tidak hanya menargetkan kecukupan pasokan pangan, tetapi juga peningkatan kualitas konsumsi masyarakat serta nilai tambah di sepanjang rantai pangan.
Ia menjelaskan, pembangunan sistem pangan bertumpu pada tiga sasaran utama, yaitu meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan, memperbaiki kualitas konsumsi dan gizi, serta memperkuat nilai tambah dan keberlanjutan dari sektor hulu hingga hilir.
Ifan mengatakan kebijakan pangan juga harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian. Karena itu, pemanfaatan platform digital berbasis riset dinilai penting untuk mendukung penyusunan kebijakan yang didasarkan pada data.
Salah satu platform yang dinilai berpotensi mendukung kebutuhan tersebut adalah MyIndahDiet. Menurut Ifan, platform itu mengintegrasikan data produksi pangan, konsumsi, gizi, dan iklim sehingga dapat menjadi sumber informasi bagi perumusan kebijakan.
Ia menambahkan, tantangan berikutnya adalah menghubungkan berbagai platform digital yang telah dimiliki pemerintah agar dapat saling melengkapi.
"Kita juga punya dashboard sistem pangan Indonesia, kemudian Integrated Digital Monitoring for Agriculture and Nutrition. Beberapa platform ini bisa kita integrasikan untuk saling melengkapi," ujarnya.
Selain integrasi data, Bappenas menilai transformasi sistem pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta dinilai perlu terlibat dalam penyusunan maupun pelaksanaan kebijakan.
Saat ini, Bappenas juga tengah menyusun Rencana Aksi Pangan dan Gizi sebagai acuan integrasi kebijakan sistem pangan nasional.
Transformasi sistem pangan menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mencapai target swasembada pangan dalam empat tahun melalui peningkatan produksi komoditas strategis, seperti beras, jagung, dan tebu.
Ifan juga menyinggung kinerja sektor pertanian yang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data yang dipaparkannya, produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian pada triwulan I 2025 tumbuh 10,52 persen, menjadi laju pertumbuhan tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
Baca Juga:
