Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Petani Cemas Benih Keburu Tua

Sawah tadah hujan di Cot Girek mengering. Petani meminta bantuan pompa air agar benih yang telah disemai tidak gagal ditanam.


ACEH UTARA – Puluhan hektare sawah tadah hujan di Desa Seuneubok Baro, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, terancam gagal tanam akibat kekeringan. Hingga Sabtu, 27 Juni 2026, lahan pertanian di desa tersebut belum mendapat pasokan air karena hanya mengandalkan curah hujan.

Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian besar petak sawah dalam kondisi kering. Desa itu tidak memiliki jaringan irigasi sehingga petani sepenuhnya bergantung pada hujan untuk memulai musim tanam.

Kondisi tersebut menjadi persoalan karena mayoritas petani telah menyemai benih padi sekitar dua pekan lalu. Jika hujan tak kunjung turun, bibit yang telah tumbuh dikhawatirkan melewati usia ideal untuk dipindahkan ke lahan.

"Benih sudah kami tabur, tetapi sawah masih kering. Kalau usia benih sudah sekitar 30 hari, akan sulit dipindahkan untuk ditanam. Kami khawatir kalau hujan tidak segera turun," kata Abdul Wahab, petani setempat.

Kekhawatiran serupa disampaikan Ismail K. Menurut dia, benih yang telah menghijau kini terancam tidak dapat ditanam apabila kondisi sawah tetap kering dalam beberapa pekan ke depan.

Kepala Desa Seuneubok Baro, Jon Junaidi, mengatakan sektor pertanian menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Karena seluruh areal sawah merupakan sawah tadah hujan, setiap musim kemarau selalu menghadirkan risiko bagi petani.

"Sebagian besar warga kami adalah petani sawah. Rata-rata sudah menabur benih, tetapi kondisi sawah sekarang kering. Kalau ini terus berlangsung, ancaman gagal tanam pada awal musim akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat," ujarnya.

Menurut Jon, pemerintah desa bersama masyarakat pernah berupaya mencari sumber air melalui pengeboran pada 2018. Namun, pengeboran hingga kedalaman sekitar 90 meter tidak menemukan sumber air sehingga pekerjaan dihentikan.

"Upaya pengeboran pernah dilakukan, tetapi sampai kedalaman sekitar 90 meter belum ditemukan air. Karena itu dihentikan. Sampai sekarang kami masih mencari solusi agar sawah di desa ini bisa memperoleh pasokan air," katanya.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan instansi terkait segera memberikan solusi untuk mengatasi kekeringan. Salah satu usulan yang diajukan ialah bantuan pompa air guna mengalirkan air dari Krueng Peutoe ke areal persawahan.

Petani menilai langkah tersebut dapat menjadi solusi jangka pendek untuk menyelamatkan musim tanam. Tanpa pasokan air dalam waktu dekat, benih yang telah disemai berisiko tidak dapat ditanam dan lahan sawah berpotensi tidak diolah pada musim tanam kali ini.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Petani Cemas Benih Keburu Tua
  • Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Petani Cemas Benih Keburu Tua
  • Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Petani Cemas Benih Keburu Tua
  • Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Petani Cemas Benih Keburu Tua
  • Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Petani Cemas Benih Keburu Tua
  • Puluhan Hektare Sawah di Aceh Utara Terancam Gagal Tanam, Petani Cemas Benih Keburu Tua