SWIPE UP TO READ

Tabungan Negara Menyusut Rp19 Triliun, Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Aman Jadi Penyangga APBN

Pemerintah menggunakan SAL untuk membiayai APBN 2025. Meski turun menjadi Rp438,26 triliun, Kemenkeu menyebut kondisinya tetap aman.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kiri) menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Jakarta, Jumat (26/6/2026). / Bisnis-Eusebio Chrysnamurti

JAKARTA – Pemerintah melaporkan posisi Saldo Anggaran Lebih (SAL) atau dana cadangan negara hingga akhir 2025 mencapai Rp438,26 triliun. Nilai tersebut turun dibandingkan posisi awal tahun yang sebesar Rp457,54 triliun setelah sebagian dana digunakan untuk mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah memanfaatkan SAL sebesar Rp93,15 triliun untuk menopang pembiayaan APBN 2025. Namun, penurunan tersebut sebagian tertutupi oleh Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp72,40 triliun sehingga posisi akhir SAL tetap berada di level Rp438,26 triliun.

"Saldo ini tetap berada pada level yang memadai dan berfungsi sebagai penyangga fiskal dalam menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian ke depan," kata Purbaya dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Menurut Purbaya, SAL berperan sebagai bantalan fiskal yang dapat digunakan pemerintah untuk menjaga stabilitas APBN ketika menghadapi gejolak ekonomi maupun ketidakpastian global. Karena itu, meskipun nilainya menyusut, kondisi fiskal dinilai masih dalam batas yang aman.

Selain melaporkan posisi SAL, pemerintah juga memaparkan kondisi neraca keuangan negara hingga 31 Desember 2025. Total aset pemerintah tercatat mencapai Rp14.600,98 triliun, sedangkan total kewajiban sebesar Rp11.527,29 triliun.

Dengan demikian, ekuitas atau kekayaan bersih negara mencapai Rp3.073,69 triliun.

"Hal ini mencerminkan kekayaan bersih negara sekaligus kapasitas fiskal yang dimiliki untuk mendukung agenda pembangunan secara berkelanjutan," ujar Purbaya.

Dari sisi operasional, pemerintah membukukan pendapatan sebesar Rp3.006,42 triliun. Namun, beban operasional mencapai Rp3.429,51 triliun sehingga terjadi defisit operasional sebesar Rp423,09 triliun.

Defisit tersebut bertambah dengan defisit aktivitas nonoperasional sebesar Rp109,91 triliun, sehingga total defisit laporan operasional mencapai Rp532,99 triliun.

Sementara itu, arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp243,90 triliun. Arus kas aktivitas investasi juga minus Rp712,07 triliun, sedangkan aktivitas transitoris mencatat arus kas negatif Rp44,16 triliun. Kondisi tersebut diimbangi oleh arus kas positif dari aktivitas pendanaan sebesar Rp828,37 triliun.

Purbaya menilai arus kas investasi yang negatif tidak mencerminkan pelemahan fiskal. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pemerintah tetap melakukan belanja investasi untuk mendukung pembangunan jangka panjang.

"Arus kas dari aktivitas investasi yang minus tersebut mencerminkan kuatnya komitmen pemerintah untuk terus melakukan investasi produktif guna mendorong akselerasi pembangunan nasional," katanya.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Tabungan Negara Menyusut Rp19 Triliun, Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Aman Jadi Penyangga APBN
  • Tabungan Negara Menyusut Rp19 Triliun, Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Aman Jadi Penyangga APBN
  • Tabungan Negara Menyusut Rp19 Triliun, Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Aman Jadi Penyangga APBN
  • Tabungan Negara Menyusut Rp19 Triliun, Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Aman Jadi Penyangga APBN
  • Tabungan Negara Menyusut Rp19 Triliun, Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Aman Jadi Penyangga APBN
  • Tabungan Negara Menyusut Rp19 Triliun, Pemerintah Pastikan SAL Rp438 Triliun Masih Aman Jadi Penyangga APBN