Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Beri Tenggat 30 Hari kepada AS untuk Capai Kesepakatan Damai
Iran menghentikan blokade Selat Hormuz usai kesepakatan awal dengan AS, namun memberi tenggat 30 hari untuk merampungkan negosiasi damai.
![]() |
| Gambar Selat Hormuz (AI) |
JAKARTA – Iran mencabut blokade di Selat Hormuz setelah mencapai kesepakatan awal dengan Amerika Serikat (AS) untuk meredakan konflik di Timur Tengah. Meski demikian, Teheran memberikan tenggat waktu 30 hari kepada Washington untuk merampungkan perundingan damai.
Dalam usulan tersebut, Iran meminta AS menyepakati langkah-langkah guna mengakhiri konflik yang melibatkan Iran dan Lebanon, sekaligus menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di tengah meredanya ketegangan, Duta Besar Iran untuk Cina, Abdolreza Rahmani Fazli, menyatakan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz nantinya akan dikenai biaya layanan. Namun, ia mengatakan negara-negara yang dianggap bersahabat akan memperoleh perlakuan khusus.
Berdasarkan kesepakatan awal, kapal-kapal komersial dapat melintasi Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari. Belum ada kepastian mengenai kebijakan yang akan diterapkan setelah masa tersebut berakhir.
Berbicara dalam Forum Perdamaian Dunia di Beijing, Sabtu, 4 Juli 2026, Fazli mengatakan Iran tengah berkoordinasi dengan Oman untuk menyusun mekanisme baru pengelolaan jalur pelayaran strategis itu.
"Sebagai negara yang memiliki wilayah teritorial di Selat Hormuz, kami tentu akan mengenakan biaya layanan," kata Fazli, seperti dikutip AFP, Minggu, 5 Juli 2026.
Menurut dia, mekanisme baru tersebut mencakup penguatan keamanan jalur pelayaran, pengawasan lalu lintas kapal, serta penanganan dampak lingkungan akibat tingginya aktivitas pelayaran di kawasan itu.
"Kami juga akan mempertimbangkan perlakuan khusus bagi negara-negara sahabat yang mendukung kami pada masa-masa sulit," ujarnya.
Sebelumnya, Iran mengajukan proposal perdamaian berisi 14 poin melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator. Proposal itu memuat jaminan agar tidak terjadi lagi serangan di masa mendatang, pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan oleh AS, serta pencabutan sanksi ekonomi.
Menurut sejumlah sumber, proposal tersebut disusun dalam beberapa tahapan. Tahap berikutnya baru dapat dijalankan apabila kesepakatan awal berhasil diwujudkan.
Fase lanjutan akan membahas program nuklir Iran, yang selama ini menjadi salah satu isu utama dalam hubungan Teheran dan Washington. Amerika Serikat menilai program tersebut sebagai persoalan strategis, sementara Iran berulang kali menegaskan bahwa pengembangan nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan tetap mempertahankan hak melakukan pengayaan uranium.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan keputusan selanjutnya kini berada di tangan Amerika Serikat.
"Sekarang bolanya ada di tangan Amerika Serikat untuk memilih jalur diplomasi atau melanjutkan pendekatan konfrontatif," katanya, seperti dikutip televisi pemerintah Iran, IRIB.
Baca Juga:
