El Nino Diprediksi Angkat Harga CPO, tetapi Ancam Produksi Sawit pada 2027
Analis memperkirakan El Nino menopang harga CPO dalam jangka pendek, namun risiko penurunan produksi sawit mulai membayangi tahun depan.
JAKARTA — Fenomena El Nino yang mulai terbentuk diperkirakan menjadi sentimen positif bagi harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dalam jangka pendek. Namun, kondisi cuaca yang lebih kering berpotensi menekan produksi tandan buah segar (TBS) pada 2027 sehingga dapat mengurangi manfaat dari kenaikan harga.
Sejumlah analis menilai dampak El Nino terhadap industri sawit akan berlangsung secara bertahap. Pada fase awal, pasar diperkirakan merespons potensi pengetatan pasokan dengan mendorong kenaikan harga CPO. Sementara itu, penurunan produksi baru diperkirakan mulai terasa setelah kekeringan berlangsung selama beberapa bulan.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) pada 11 Juni 2026 menyatakan El Nino telah mulai terbentuk dengan peluang sekitar 63 persen berkembang menjadi El Nino sangat kuat pada periode November 2026 hingga Januari 2027.
Mengutip The Edge, Analis Riset Ekuitas BIMB Securities Saffa Amanina Mohd Anwar mengatakan apabila El Nino berkembang menjadi sangat kuat dan memicu curah hujan di bawah normal dalam waktu lama di wilayah produsen utama, harga CPO berpotensi memperoleh dukungan lebih besar pada 2027.
"Jika El Nino yang sangat kuat terwujud, terutama jika disertai curah hujan di bawah normal yang berkepanjangan di wilayah penghasil utama, dan kerugian produksi mulai terlihat, harga CPO berpotensi meningkat lebih lanjut, terutama pada 2027," ujarnya.
Sepanjang 2026, harga CPO telah naik sekitar 12 persen ke kisaran RM4.491 per ton. Sejumlah analis memperkirakan rata-rata harga CPO tahun ini berada di sekitar RM4.400 per ton dan meningkat menjadi sekitar RM4.500 per ton pada 2027 seiring potensi pengetatan pasokan global.
Meski demikian, penurunan produksi diperkirakan tidak terjadi secara langsung. Siklus biologis tanaman kelapa sawit membuat dampak kekeringan terhadap pembentukan buah baru umumnya baru terlihat dalam enam hingga 12 bulan.
Menurut Saffa, apabila cuaca kering berlanjut pada paruh kedua 2026, gangguan terhadap produksi tandan buah segar mulai terlihat menjelang akhir tahun. Dampak yang lebih besar diperkirakan terjadi sepanjang 2027.
Kondisi tersebut membuat kinerja emiten perkebunan sawit pada 2026 masih berpeluang ditopang kenaikan harga jual CPO karena produksi tetap terbantu musim panen pada kuartal III. Namun, pada 2027 kenaikan harga diperkirakan mulai diimbangi penurunan volume produksi, terutama bagi perusahaan yang memiliki perkebunan di wilayah rawan kekeringan, menghadapi keterbatasan tenaga kerja, atau memiliki efektivitas pemupukan yang rendah.
"Kami memandang El Nino sebagai katalis positif bagi harga terlebih dahulu, sedangkan risiko terhadap hasil panen baru akan lebih terasa pada 2027," kata Saffa.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Riset CIMB Securities Ivy Ng. Dia memperkirakan produksi CPO Malaysia pada 2026 turun sekitar 2–3 persen menjadi 19,7 juta hingga 19,9 juta ton, dari realisasi 20,28 juta ton pada 2025.
Sementara itu, Penasihat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sekaligus Chairman IRGA Group of Companies M.R. Chandran memperkirakan produksi CPO Malaysia berada di kisaran 19,7 juta ton.
Untuk Indonesia, produksi CPO diproyeksikan mencapai 50,5 juta hingga 51 juta ton pada 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi 51,7 juta ton pada tahun sebelumnya.
Ivy menilai perusahaan perkebunan yang memiliki areal tanam di berbagai wilayah akan lebih mampu meredam dampak El Nino karena risiko cuaca tersebar. Sebaliknya, emiten yang bergantung pada perkebunan di kawasan dengan tingkat kekeringan tinggi diperkirakan menghadapi tekanan produksi yang lebih besar apabila fenomena El Nino berkembang sesuai proyeksi.
Baca Juga:
