Mualem Siapkan Surat ke Prabowo, Aceh Dorong Gas Blok Andaman Jadi Motor Industri Arun
Temuan gas dan kondensat di Blok Andaman dinilai bisa menghidupkan kembali kawasan industri Arun serta membuka ribuan lapangan kerja.
![]() |
| Ilustrasi The Atjeh/ AI |
BANDA ACEH — Pemerintah Aceh berencana menyurati Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pemanfaatan cadangan minyak dan gas (migas) Blok Andaman sebagai penggerak hilirisasi industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe.
Langkah tersebut muncul setelah pemerintah daerah bersama akademisi dan pakar energi membahas potensi pengembangan industri turunan migas dari temuan cadangan gas di Blok Andaman.
Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Jasman J. Ma'ruf, menilai upaya mendorong hilirisasi di KEK Arun merupakan langkah strategis yang dapat memberikan dampak besar bagi perekonomian Aceh.
Menurut Jasman, selama ini pembahasan pemanfaatan gas dari Blok Andaman masih terfokus pada kebutuhan pembangkit listrik. Padahal, cadangan gas dan kondensat yang ditemukan memiliki potensi lebih luas untuk mendukung pengembangan berbagai industri hilir.
Gas dari Blok Andaman, kata dia, dapat menjadi bahan baku produksi metanol dan hidrogen. Metanol sendiri merupakan komponen penting dalam industri biodiesel nasional yang berbasis minyak sawit.
"Sudah seharusnya mulai dipersiapkan pembangunan industri metanol di Aceh agar nilai tambah sumber daya ini tidak keluar dari daerah," ujar Jasman.
Selain gas, lapangan migas tersebut juga menghasilkan kondensat yang dapat diolah menjadi nafta, kerosin, dan bahan bakar minyak. Produk-produk tersebut dibutuhkan oleh berbagai sektor industri, mulai dari industri kimia hingga energi.
Data yang dipaparkan dalam pembahasan tersebut menunjukkan Lapangan South Andaman diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari. Ketersediaan bahan baku itu dinilai dapat menjadi dasar pengembangan kilang pengolahan (refinery) dan industri petrokimia di Aceh.
Pengembangan industri hilir diyakini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi migas, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain mendorong hilirisasi, Pemerintah Aceh juga berencana mengusulkan alokasi gas khusus untuk kebutuhan daerah dari produksi Blok Andaman.
Dalam pembahasan tersebut juga mengemuka persoalan keterbukaan informasi terkait rencana pengembangan Lapangan Gas Tengkulo di Wilayah Kerja South Andaman. Pemerintah Aceh mengaku belum menerima dokumen resmi Plan of Development (PoD) dari SKK Migas.
Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi Dinas ESDM Aceh, Dian Budi Dharma, mengatakan informasi yang dimiliki pemerintah daerah sejauh ini masih bersumber dari dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
Karena itu, Pemerintah Aceh berencana mengundang pihak Mubadala Energy dan SKK Migas untuk memaparkan secara langsung skema pengembangan Blok Andaman, termasuk rencana produksi, distribusi gas, dan peluang hilirisasi yang dapat dikembangkan di Aceh.
Pemerintah Aceh berharap keberadaan cadangan migas Blok Andaman tidak hanya menjadi proyek eksplorasi semata, tetapi mampu menjadi fondasi kebangkitan kawasan industri Arun yang selama bertahun-tahun kehilangan peran strategisnya setelah berakhirnya era LNG Arun.
Baca Juga:

