Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hanya 32 Persen Warga Indonesia Percaya Berita, Ini Temuan Terbarunya

Ilustrasi (Theatjeh.net/AI)

BANDA ACEH – Tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap berita kembali menurun pada 2026. Namun, di tengah meningkatnya arus informasi digital dan media sosial, sejumlah media arus utama masih mempertahankan tingkat kepercayaan yang relatif tinggi di mata publik.

Laporan Digital News Report 2026 mencatat tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap berita secara umum berada di angka 32 persen. Angka ini turun dibandingkan 36 persen pada 2025 dan berada di bawah rata-rata global yang mencapai 37 persen.

Penurunan tersebut terjadi seiring perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Sebanyak 64 persen responden mengaku memperoleh berita melalui platform digital dan media sosial, yang kini menjadi salah satu sumber informasi utama bagi publik.

Meski kepercayaan terhadap berita secara umum menurun, sejumlah media nasional masih mencatat tingkat kepercayaan yang cukup kuat. Kompas dan CNN Indonesia menempati posisi teratas dengan tingkat kepercayaan 61 persen, disusul Liputan6 sebesar 59 persen. TVOne News dan TVRI News masing-masing memperoleh 58 persen, Detik.com 57 persen, RCTI News 56 persen, serta Tempo 53 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa menurunnya kepercayaan terhadap berita tidak serta-merta diikuti penurunan kepercayaan terhadap seluruh institusi media. Sebaliknya, publik tampaknya semakin khawatir terhadap kualitas ekosistem informasi secara keseluruhan.

Profesor Media dan Urusan Publik serta Hubungan Internasional Universitas George Washington, Janet Steele, menilai audiens saat ini lebih mencemaskan lingkungan informasi yang semakin kompleks dibandingkan kredibilitas media arus utama secara individual.

"Kepercayaan terhadap sebagian besar merek media tidak mengalami penurunan yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa audiens lebih peduli terhadap lingkungan informasi yang lebih luas daripada terhadap media tertentu," kata Steele dalam laporan tersebut.

Menurut dia, masyarakat kini semakin sulit membedakan informasi yang diproduksi melalui proses jurnalistik dengan berbagai konten yang beredar di media sosial, akun anonim, agregator tidak resmi, maupun situs yang tidak memiliki standar verifikasi yang jelas.

Fenomena tersebut menjadi tantangan baru bagi industri media. Jika sebelumnya isu utama berkisar pada independensi dan kualitas pemberitaan, kini media juga harus berhadapan dengan derasnya arus informasi yang beredar tanpa proses verifikasi yang memadai.

Di sisi lain, situasi itu berlangsung ketika kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Dalam World Press Freedom Index 2026, Indonesia berada di peringkat ke-129 dari 180 negara.

Meski demikian, tingkat kepercayaan yang relatif tinggi terhadap sejumlah media profesional menunjukkan bahwa publik masih menempatkan institusi pers sebagai salah satu sumber informasi yang lebih kredibel dibandingkan berbagai kanal informasi lain di ruang digital.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa persoalan utama bukan semata-mata menurunnya kepercayaan terhadap media, melainkan semakin kaburnya batas antara produk jurnalistik yang melalui proses verifikasi dengan berbagai bentuk konten yang beredar bebas di platform digital.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Hanya 32 Persen Warga Indonesia Percaya Berita, Ini Temuan Terbarunya
  • Hanya 32 Persen Warga Indonesia Percaya Berita, Ini Temuan Terbarunya
  • Hanya 32 Persen Warga Indonesia Percaya Berita, Ini Temuan Terbarunya
  • Hanya 32 Persen Warga Indonesia Percaya Berita, Ini Temuan Terbarunya
  • Hanya 32 Persen Warga Indonesia Percaya Berita, Ini Temuan Terbarunya
  • Hanya 32 Persen Warga Indonesia Percaya Berita, Ini Temuan Terbarunya