Sering Minum Teh Manis dan Kopi Bergula? Dinkes Aceh Utara Ingatkan Dampaknya
Konsumsi minuman berpemanis setiap hari dapat menambah asupan gula tanpa disadari. Membatasi porsinya menjadi salah satu langkah menjaga kesehatan
THE ATJEH NET — Kebiasaan minum teh manis, kopi dengan gula, minuman kemasan, hingga minuman kekinian perlu diperhatikan jika dikonsumsi terlalu sering. Tanpa disadari, gula dari minuman dapat menambah asupan energi harian dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang.
Dinas Kesehatan Aceh Utara mengingatkan masyarakat agar lebih cermat memilih minuman sehari-hari. Mengurangi konsumsi minuman berpemanis merupakan salah satu langkah sederhana untuk membantu mencegah penyakit tidak menular, termasuk diabetes tipe 2 dan obesitas.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Nurzahri, SKM, MKM, melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Samsul Bahri, SKM, MKM, menjadi narasumber dalam pesan edukasi kesehatan ini. Pesan utamanya adalah membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sehat sejak dari rumah.
Gula dalam Minuman Sering Tidak Disadari
Minuman manis kerap menjadi pilihan saat sarapan, bekerja, berkumpul bersama keluarga, atau beristirahat. Masalahnya, konsumsi gula dari minuman sering kali tidak diperhitungkan seperti halnya makanan.
Teh manis, kopi bergula, minuman bersoda, minuman teh kemasan, sirup, dan minuman dengan tambahan topping dapat menyumbang gula dalam jumlah yang cukup besar, bergantung pada ukuran sajian dan resepnya.
Berbeda dengan makanan utuh yang mengandung serat dan perlu dikunyah, gula dalam minuman lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa menimbulkan rasa kenyang yang sebanding. Akibatnya, seseorang dapat memperoleh tambahan kalori dari minuman tanpa menyadari total asupan hariannya.
Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, asupan gula dan energi yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Dalam jangka panjang, kelebihan berat badan dan pola konsumsi yang tidak sehat juga berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2.
Risiko Tidak Selalu Terasa pada Awalnya
Konsumsi minuman manis berlebihan bukan berarti seseorang pasti mengalami diabetes. Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko, terutama ketika disertai kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan, riwayat keluarga diabetes, atau faktor risiko lainnya.
Diabetes tipe 2 dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, masyarakat tidak sebaiknya menunggu munculnya keluhan untuk mulai memperbaiki pola hidup.
Rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, mudah lelah, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas dapat menjadi tanda yang perlu diperiksa. Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu muncul pada setiap orang dan bukan satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis diabetes.
Pemeriksaan gula darah sesuai kebutuhan dan faktor risiko membantu tenaga kesehatan menilai kondisi seseorang. Masyarakat yang memiliki faktor risiko atau keluhan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan pemeriksaan yang tepat.
Mengurangi Gula Bisa Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Mengubah kebiasaan tidak harus dilakukan secara drastis. Masyarakat dapat mulai dengan mengurangi jumlah gula dalam teh atau kopi, memilih ukuran minuman yang lebih kecil, serta membatasi frekuensi konsumsi minuman berpemanis.
Air putih dapat dijadikan pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari. Jika ingin mengonsumsi minuman kemasan, biasakan membaca informasi nilai gizi dan memperhatikan kandungan gula per sajian. Perlu diingat, satu kemasan dapat berisi lebih dari satu sajian.
Kebiasaan lain yang dapat mendukung kesehatan adalah memperbanyak konsumsi sayur dan buah utuh, menjaga pola makan seimbang, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih mudah dipertahankan daripada perubahan sesaat.
Orang tua juga dapat membangun kebiasaan sehat di rumah dengan menyediakan air putih sebagai pilihan minuman sehari-hari dan tidak menjadikan minuman manis sebagai konsumsi rutin anak.
Pencegahan Dimulai Sebelum Penyakit Muncul
Pencegahan penyakit tidak menular membutuhkan perhatian terhadap kebiasaan sehari-hari, bukan hanya pengobatan ketika seseorang sudah sakit. Mengendalikan konsumsi gula, menjaga berat badan, bergerak aktif, dan memeriksa kesehatan sesuai faktor risiko merupakan bagian dari upaya tersebut.
Melalui edukasi kesehatan, Dinas Kesehatan Aceh Utara mendorong masyarakat agar lebih memahami hubungan antara kebiasaan konsumsi dan risiko penyakit. Langkah sederhana seperti mengurangi gula dalam minuman dapat menjadi awal perubahan menuju pola hidup yang lebih sehat.
Masyarakat tidak harus menunggu munculnya masalah kesehatan untuk mulai mengubah kebiasaan. Membatasi minuman manis dan lebih sering memilih air putih merupakan langkah yang dapat dilakukan setiap hari, baik di rumah maupun saat beraktivitas di luar.
Baca Juga:
