SWIPE UP TO READ

Kapolda Ungkap Jejak Ruko di Jeunieb, 3 Nama Asal Bireuen Terseret Pemetaan Jaringan Sabu Internasional

ACEH- Pengungkapan laboratorium rahasia narkotika jaringan internasional di Kabupaten Pidie membuka tabir dugaan pergerakan jaringan narkoba lintas negara di Aceh. Di tengah penyitaan 1,2 ton sabu cair dan penangkapan 11 orang, perhatian kini tertuju pada sebuah ruko di wilayah Jeunieb, Kabupaten Bireuen, yang disebut sempat disurvei untuk dijadikan lokasi laboratorium narkotika.

Nama Bireuen ikut mencuat setelah beredar gambar pemetaan jaringan yang memuat 11 nama beserta dugaan peran masing-masing. Tiga nama yang dikaitkan dengan wilayah tersebut adalah Raja Yazid, Ramadan, dan Riski.

Dalam gambar pemetaan yang beredar, Raja Yazid pada urutan ketujuh disebut berperan dalam pengamanan ruko di Bireuen. Nama Ramadan pada urutan kedelapan juga dikaitkan dengan peran serupa. Sementara Riski, yang tercantum pada urutan kesembilan, disebut berperan sebagai transporter atau pengangkut.

Nama Riski menjadi sorotan setelah muncul informasi bahwa dirinya diduga merupakan ajudan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen. Ia juga dikabarkan dibawa sejumlah orang dari gedung DPRK Bireuen pada Rabu sebelumnya.

Informasi mengenai keberadaan Riski di gedung dewan itu kemudian dikonfirmasi kepada Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRK Bireuen, Said Abdurrahman, S.Sos., oleh wartawan Theatjehnet pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026.

Said membenarkan adanya kedatangan sejumlah tamu yang menemui Riski. Akan tetapi, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti identitas mereka maupun persoalan yang dibicarakan.

“Pada hari Rabu kemarin memang ada sejumlah tamu yang datang. Saya melihat mereka berbincang dengan Saudara Riski. Tidak lama kemudian, Riski meminta izin untuk mengembalikan kunci mobil Ketua DPRK,” ungkap Said kepada wartawan Theatjehnet.

Setelah mengembalikan kunci mobil tersebut, Riski terlihat pergi bersama para tamu itu menggunakan mobil. Namun, pihak Sekretariat DPRK, menurut Said, tidak mengetahui secara pasti tujuan kepergian Riski maupun persoalan yang melatarbelakanginya.

“Kami tidak mengetahui secara persis apa persoalannya. Saat itu, yang kami lihat hanya kedatangan tamu, percakapan dengan Saudara Riski, kemudian ia mengembalikan kunci mobil milik Ketua DPRK sebelum pergi bersama mereka,” jelasnya.

Said mengatakan, pihaknya baru mengetahui kabar mengenai dugaan keterkaitan Riski dengan jaringan narkotika setelah beredarnya gambar pemetaan 11 orang yang dikaitkan dengan jaringan narkotika China-Aceh pada Jumat sore, 23 Oktober 2026.
“Kami baru terkejut setelah melihat gambar pemetaan 11 orang yang dikaitkan dengan jaringan narkotika China-Aceh. Dari informasi itulah kami mengetahui bahwa Saudara Riski dikabarkan telah diamankan aparat kepolisian terkait kasus tersebut,” tutup Said.

Dua WNA Survei Lokasi di Aceh

Sementara itu, Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan mengungkapkan bahwa penyelidikan jaringan narkotika internasional tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan. Dalam prosesnya, petugas mendeteksi kedatangan dua warga negara Tiongkok berinisial LJ dan XM yang diduga mencari lokasi untuk mendirikan clandestine laboratory atau laboratorium narkotika rahasia.

Keduanya terdeteksi tiba di Banda Aceh pada Mei 2026. Setelah dijemput oleh jaringan setempat, mereka disebut menghabiskan waktu sekitar 10 hari untuk menyurvei sejumlah lokasi yang berpotensi digunakan sebagai tempat pengolahan narkotika.

Salah satu lokasi yang disebut masuk dalam pencarian itu adalah sebuah ruko di wilayah Jeunieb, Kabupaten Bireuen.

Keberadaan ruko tersebut menjadi salah satu titik yang patut ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan apakah lokasi itu hanya sebatas objek survei atau memiliki kaitan lebih jauh dengan rencana operasional jaringan.

Penyelidikan berlanjut pada Juli 2026, ketika tim memperoleh informasi mengenai rencana pengiriman sabu cair melalui skema ship-to-ship, yakni pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lainnya di laut.

“Berdasarkan informasi yang dihimpun, proses pengiriman itu berlangsung selama kurang lebih 10 minggu,” ujar Ruddi, sebagaimana keterangannya pada Jumat malam, 23 Oktober 2026.

Pada 15 Oktober 2026, dua warga negara Indonesia diketahui berangkat ke Malaysia untuk menjemput LJ dan XM. Keduanya kemudian tiba di Aceh dua hari berselang dan kembali dijemput oleh jaringan setempat.

Menurut Kapolda, keberadaan dua warga negara asing tersebut merupakan bagian dari rangkaian penyelidikan yang akhirnya mengarah pada pengungkapan laboratorium narkotika di Kabupaten Pidie.

1,2 Ton Sabu Cair Disita

Pengungkapan berlangsung pada 20 Oktober 2026 di Desa Beureueh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. Dalam operasi yang menyasar lima lokasi tersebut, petugas menemukan laboratorium narkotika rahasia dan menyita 1,2 ton sabu cair yang disebut siap diolah serta didistribusikan.

Sebanyak 11 orang diamankan, terdiri atas sembilan warga negara Indonesia asal Aceh dan dua warga negara Tiongkok.

Ruddi menjelaskan, pengungkapan jaringan tersebut berawal dari penelusuran kasus penyelundupan 2,6 ton sabu cair di perairan Batam. Kasus itu diduga melibatkan jaringan lintas negara yang terhubung dengan sejumlah pihak dari Myanmar, Thailand, dan Malaysia.

“Dari hasil pemeriksaan terhadap anak buah kapal yang diamankan, diperoleh informasi bahwa masih terdapat jaringan lain yang beroperasi di Indonesia. Pengungkapan ini merupakan hasil operasi gabungan antara BNN, Polri, Bea Cukai, dan NNCC Tiongkok, sebagaimana telah disampaikan Kapolri,” kata Ruddi.

Dari hasil pengembangan, tim memperoleh informasi mengenai sabu cair berwarna kuning yang berasal dari Thailand dan direncanakan dibawa ke Aceh menggunakan kapal Ocean Kardon.

Jejak tersebut kemudian mengarah pada rencana pengiriman, kedatangan dua warga negara Tiongkok, pencarian lokasi, hingga akhirnya terungkapnya laboratorium narkotika di Pidie.

Kapolda Minta Warga Laporkan Aktivitas Mencurigakan

Kapolda Aceh menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berkompromi dengan siapa pun yang terbukti terlibat dalam penyalahgunaan maupun peredaran narkotika.

Ia juga mengingatkan masyarakat, terutama para geuchik, agar tidak mengabaikan aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing, termasuk pemanfaatan rumah kosong, gudang, atau bangunan yang tidak lazim digunakan.

“Kalau ada rumah kosong atau gudang kosong yang agak janggal, maka kepala desa atau keuchik informasikan. Kita pastikan akan cek, sehingga wilayah Aceh ini aman dan bisa zero narkoba,” kata Ruddi.

Kini, selain pengungkapan laboratorium narkotika di Pidie, perhatian publik juga tertuju pada dugaan survei ruko di Jeunieb dan kemunculan tiga nama asal Bireuen dalam gambar pemetaan jaringan yang beredar.

Sejumlah pertanyaan masih menunggu jawaban resmi: apakah ruko di Jeunieb benar-benar telah dipersiapkan untuk aktivitas laboratorium narkotika, sejauh mana dugaan peran tiga nama tersebut, serta apakah informasi mengenai Riski yang dibawa dari gedung DPRK Bireuen berkaitan langsung dengan pengembangan kasus ini.(MS)
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Kapolda Ungkap Jejak Ruko di Jeunieb, 3 Nama Asal Bireuen Terseret Pemetaan Jaringan Sabu Internasional
  • Kapolda Ungkap Jejak Ruko di Jeunieb, 3 Nama Asal Bireuen Terseret Pemetaan Jaringan Sabu Internasional
  • Kapolda Ungkap Jejak Ruko di Jeunieb, 3 Nama Asal Bireuen Terseret Pemetaan Jaringan Sabu Internasional
  • Kapolda Ungkap Jejak Ruko di Jeunieb, 3 Nama Asal Bireuen Terseret Pemetaan Jaringan Sabu Internasional
  • Kapolda Ungkap Jejak Ruko di Jeunieb, 3 Nama Asal Bireuen Terseret Pemetaan Jaringan Sabu Internasional
  • Kapolda Ungkap Jejak Ruko di Jeunieb, 3 Nama Asal Bireuen Terseret Pemetaan Jaringan Sabu Internasional