SWIPE UP TO READ

Tsunami dan Abrasi Ubah Garis Pantai, Makam Lama di Aceh Besar Kini Terancam Hilang

Abrasi membuka kembali area pemakaman lama di pesisir Peukan Bada. Tulang belulang diduga muncul saat air laut surut
Viral Tulang Belulang di Peukan Bada

THE ATJEH NET — Abrasi di kawasan pesisir Peukan Bada, Aceh Besar, kembali membuka bagian dari area pemakaman lama yang diyakini sudah ada sebelum tsunami 2004. Sejumlah tulang belulang terlihat di kawasan pantai Dusun Imuem Daud, Gampong Lamguron, Kecamatan Peukan Bada.

Temuan itu menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial. Polisi kemudian turun ke lokasi untuk memastikan informasi yang beredar, termasuk mengenai lokasi penemuan.

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Teguh Priyambodo Nugroho melalui Kapolsek Peukan Bada Iptu Suriyatno mengatakan lokasi tersebut bukan berada di Gampong Lamteungoh seperti disebut dalam sejumlah unggahan, melainkan di Gampong Lamguron.

“Kami telah berkoordinasi dengan Keuchik Gampong Lamguron, Ibnu Hibban, serta masyarakat di sekitar lokasi penemuan. Berdasarkan keterangan yang kami terima, lokasi tersebut berada di kawasan pantai Dusun Imuem Daud, Gampong Lamguron,” kata Suriyatno, Senin, 31 Agustus 2026.

Menurut keterangan perangkat gampong dan masyarakat, kawasan tersebut dahulu merupakan daratan yang digunakan sebagai perkebunan kelapa sekaligus lokasi pemakaman lama.

Sebelum tsunami, makam-makam di kawasan tersebut masih dapat terlihat. Perubahan bentang alam setelah tsunami dan abrasi kemudian membuat sebagian wilayah pemakaman tergerus dan kini berada di kawasan pesisir.

“Dari keterangan masyarakat dan perangkat gampong, tulang belulang yang ditemukan tersebut diduga berasal dari kawasan pemakaman lama,” ujar Suriyatno.

Abrasi Kembali Membuka Area Makam

Suriyatno mengatakan kawasan pemakaman lama tersebut membentang sekitar 800 meter di sepanjang garis pantai. Abrasi yang terjadi, terutama ketika musim timur, menyebabkan sebagian area makam terus terkikis.

Material dari pemakaman lama kemudian dapat muncul ke permukaan ketika air laut surut. Salah satunya berupa tulang belulang yang diduga merupakan tulang manusia.

“Menurut keterangan masyarakat, sebelum tsunami, kawasan tersebut merupakan daratan dan terdapat pemakaman lama di sepanjang garis pantai dengan panjang kurang lebih 800 meter,” katanya.

Polisi memperkirakan masih terdapat tulang belulang lain yang berada di kawasan tersebut. Material itu berpotensi kembali terlihat ketika air laut surut dan proses abrasi terus berlangsung.

Namun, polisi belum memastikan secara forensik identitas maupun usia tulang yang ditemukan. Dugaan bahwa tulang tersebut berasal dari pemakaman lama didasarkan pada keterangan masyarakat dan perangkat Gampong Lamguron.

Jejak Pemakaman Pascatsunami

Tsunami 26 Desember 2004 mengubah bentang alam pesisir Aceh, termasuk kawasan Peukan Bada. Sejumlah wilayah daratan berubah, sementara garis pantai juga mengalami perubahan akibat proses alam yang berlangsung setelahnya.

Kondisi itu membuat keberadaan pemakaman lama di kawasan pesisir menghadapi persoalan baru. Ketika tanah terus terkikis, makam yang sebelumnya berada jauh dari garis air dapat kembali terbuka.

Temuan di Lamguron menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan hanya berkaitan dengan tulang belulang yang muncul ke permukaan, tetapi juga menyangkut keberadaan makam lama yang semakin sulit dikenali.

Sebagian lokasi pemakaman bahkan berpotensi kehilangan tanda atau struktur makam akibat tergerus air laut.

Karena itu, pendataan menjadi penting untuk mengetahui keberadaan makam lama sekaligus menentukan langkah penanganan jika abrasi kembali mengikis kawasan tersebut.

Polisi Minta Temuan Tidak Langsung Disimpulkan

Polsek Peukan Bada mengapresiasi masyarakat yang menyampaikan informasi mengenai temuan tersebut melalui media sosial. Namun, polisi meminta warga melakukan konfirmasi sebelum menyebarkan kesimpulan mengenai asal-usul temuan.

Masyarakat yang menemukan tulang atau benda yang diduga berkaitan dengan pemakaman lama diminta melapor kepada perangkat gampong atau kepolisian.

Langkah itu diperlukan untuk memastikan lokasi, asal-usul temuan, serta menghindari kesalahpahaman mengenai batas wilayah administrasi antargampong.

“Kami berharap temuan tersebut dapat ditangani dan dipindahkan ke lokasi yang lebih layak oleh pihak terkait,” kata Suriyatno.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan makam lama di pesisir bukan sekadar persoalan sejarah. Abrasi yang terus berlangsung membuat jejak pemakaman tersebut perlahan hilang bersama perubahan garis pantai.

Tanpa pendataan dan penanganan, makam-makam yang selama ini hanya dikenal berdasarkan cerita masyarakat berisiko kehilangan jejak fisiknya.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Tsunami dan Abrasi Ubah Garis Pantai, Makam Lama di Aceh Besar Kini Terancam Hilang
  • Tsunami dan Abrasi Ubah Garis Pantai, Makam Lama di Aceh Besar Kini Terancam Hilang
  • Tsunami dan Abrasi Ubah Garis Pantai, Makam Lama di Aceh Besar Kini Terancam Hilang
  • Tsunami dan Abrasi Ubah Garis Pantai, Makam Lama di Aceh Besar Kini Terancam Hilang
  • Tsunami dan Abrasi Ubah Garis Pantai, Makam Lama di Aceh Besar Kini Terancam Hilang
  • Tsunami dan Abrasi Ubah Garis Pantai, Makam Lama di Aceh Besar Kini Terancam Hilang