Jalan Dibuka dalam Dua Hari, Tapi Pemulihan Infrastruktur Sawang Belum Selesai
BWS Sumatera I menargetkan pembukaan akses dalam dua hari. Sejumlah desa di Sawang masih terdampak kerusakan jalan dan tebing pascabanjir.
THE ATJEH NET — Pembukaan akses menjadi prioritas pemulihan infrastruktur di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, setelah kerusakan akibat banjir membuat sejumlah desa masih sulit dijangkau. BWS Sumatera I menargetkan perbaikan akses mulai dikerjakan dalam dua hari.
Hal itu disampaikan Staf Khusus BWS Sumatera I Jamaluddin setelah meninjau sejumlah titik kerusakan infrastruktur bersama Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi Panyang, Balai Jalan Nasional (BJN), dan Dinas PUPR Aceh Utara, Selasa, 1 September 2026.
Peninjauan dilakukan di Gampong Riseh Tengah, Riseh Baroh, Riseh Tunong, hingga Dusun Cot Talang. Kerusakan tidak hanya terjadi pada badan jalan, tetapi juga tebing dan sejumlah bagian aliran sungai yang berpengaruh terhadap akses warga.
“Saat ini hal yang paling penting adalah membuka akses terlebih dahulu. Karena itu merupakan hal yang sangat penting saat ini,” kata Jamaluddin.
Menurut dia, penanganan sungai dan tanggul menjadi bagian yang diprioritaskan BWS Sumatera I. Sementara perbaikan jalan akan dikoordinasikan bersama BJN Aceh.
Namun, membuka akses belum berarti persoalan infrastruktur Sawang selesai. Dinas PUPR Aceh Utara menyebut kerusakan jalan di kawasan tersebut telah terjadi sejak banjir besar pada 25 November 2025. Kondisi diperparah oleh banjir yang kembali terjadi di sejumlah titik.
Kepala Dinas PUPR Aceh Utara Jaffar mengatakan rehabilitasi jalan dan penguatan tebing perlu didesain secara matang. Penanganan tidak cukup hanya mengembalikan badan jalan seperti kondisi sebelumnya karena kawasan itu masih berisiko mengalami banjir.
Kerusakan lahan perkebunan masyarakat juga perlu diperhitungkan dalam perencanaan. Jika badan jalan telah bergeser akibat erosi, diperlukan kajian teknis sebelum pembangunan dilakukan.
Persoalan akses ini juga berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi warga. Geuchik Riseh Tunong Abdulrahman mengatakan sebagian desa masih terisolasi, terutama kawasan yang terhubung dari arah Cot Calang dan Alu Garot.
Menurut dia, pemulihan akses penting agar mobilitas warga dan kegiatan pertanian kembali berjalan. Sebagian masyarakat bahkan mulai kembali menggarap sawah setelah sebelumnya terdampak banjir.
Perbaikan jalan karena itu menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur. Akses menentukan apakah hasil pertanian bisa dibawa keluar, kebutuhan warga dapat masuk, dan aktivitas ekonomi masyarakat kembali normal.
Target pembukaan akses dalam dua hari menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan jalan, tebing sungai, dan infrastruktur pendukung pertanian dibangun dengan konstruksi yang mampu menghadapi ancaman banjir berulang.
Baca Juga:

