SWIPE UP TO READ

Harga Minyak Mendekati US$100, Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan

Harga Brent naik 1,6 persen ke US$99,49 per barel setelah serangkaian serangan Iran dan AS kembali meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak
Gambar ilustrasi Harga Minyak Dunia Mepet US$100 usai Iran Serang Aset Militer AS, dibuat AI Chat GPT

THE ATJEH NET — Harga minyak mentah Brent mendekati US$100 per barel pada perdagangan Rabu, 9 September 2026, setelah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah.

Brent naik US$1,57 atau 1,6 persen menjadi US$99,49 per barel. Sementara minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik US$1,60 atau 1,72 persen menjadi US$94,63 per barel. Kenaikan tersebut menjadi penguatan harga minyak untuk sesi keempat berturut-turut. ([Reuters][2])

Kenaikan harga terjadi setelah konflik di kawasan Timur Tengah meluas. Iran melancarkan serangan terhadap aset militer Amerika Serikat di kawasan, sementara pasukan AS sebelumnya menyerang sejumlah kapal tanker minyak Iran.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan Teluk, terutama jika konflik mengganggu jalur pelayaran strategis.

Brent Naik 25 Persen Sejak Awal Agustus

Harga Brent telah melonjak sekitar 25 persen sejak awal Agustus. Pasar minyak mulai memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang lebih lama setelah harapan terhadap penyelesaian permanen konflik selama sekitar enam bulan terakhir kembali memudar.

Reuters melaporkan serangkaian serangan terbaru mencakup serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sejumlah kota di Arab Saudi. Pada saat yang sama, Amerika Serikat menyerang kapal tanker minyak Iran dan Iran menyerang pangkalan AS di Yordania. 

Militer AS juga menyatakan telah menghancurkan lima kapal pengangkut minyak mentah Iran pada 8 September setelah terjadi upaya serangan rudal terhadap kapal perang AS dalam dua hari sebelumnya. 

Lalu Lintas Hormuz Menurun

Risiko terhadap pasokan minyak semakin besar karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz ikut menurun.

Data awal perusahaan pelacak kapal Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya enam kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Angka tersebut turun dari sembilan kapal sehari sebelumnya dan berada di bawah rata-rata 10 hari sekitar 12 kapal. 

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan premi risiko dalam harga minyak.

Namun, harga minyak belum sepenuhnya menembus US$100 karena sebagian aliran minyak masih berlangsung melalui Hormuz. Negara-negara produsen Teluk juga berupaya menggunakan jalur dan pelabuhan alternatif untuk mempertahankan ekspor.  

Pasar Menunggu Perkembangan Konflik

Analis ING menilai perkembangan terbaru memperkuat pandangan bahwa pembicaraan damai masih sulit dimulai kembali. Kondisi tersebut membuat pasar tetap memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.

Kenaikan harga minyak juga mulai mempengaruhi sentimen pasar keuangan global karena harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi.

Dengan Brent yang kini berada hanya sekitar US$0,51 di bawah level US$100 per barel, arah konflik Iran-AS dan keamanan jalur pelayaran di Timur Tengah menjadi perhatian utama pasar minyak dalam beberapa hari ke depan. 


Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Harga Minyak Mendekati US$100, Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan
  • Harga Minyak Mendekati US$100, Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan
  • Harga Minyak Mendekati US$100, Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan
  • Harga Minyak Mendekati US$100, Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan
  • Harga Minyak Mendekati US$100, Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan
  • Harga Minyak Mendekati US$100, Konflik Iran-AS Picu Kekhawatiran Gangguan Pasokan