Ekonomi Kreatif Pasca Bencana, Aceh Tamiang Didorong Tak Sekadar Pulih tapi Punya Sumber Penghasilan Baru
Lebih dari 500 warga mengikuti pelatihan usaha, sertifikasi, penguatan bisnis, dan program kreatif untuk membangun kembali penghidupan setelah bencana
![]() |
| Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya bersama Bupari Aceh Tamiang Armia Pahmi mendemonstrasikan memasak di depan pelaku usaha ekonomi kreatif Aceh Tamiang. |
THE ATJEH NET — Pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana di Aceh Tamiang diarahkan tidak berhenti pada kembalinya aktivitas warga. Lebih dari 500 peserta mendapat pelatihan dan penguatan keterampilan ekonomi kreatif yang diharapkan menjadi sumber penghasilan baru setelah bencana.
Program tersebut berlangsung melalui rangkaian Ekraf Peduli pada 10–13 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera.
Program menyasar sejumlah keterampilan yang dapat langsung dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi. Sebanyak 100 peserta mengikuti peningkatan kualitas memasak bersama Master (MASAMO), 80 konten kreator dan pelaku usaha mengikuti Aktivasi Ruang Kreatif Merah Putih, serta 100 barista difasilitasi untuk memperoleh sertifikasi kompetensi.
Pendekatan itu menunjukkan pemulihan pascabencana tidak hanya diarahkan pada bantuan jangka pendek, tetapi juga pada kemampuan warga untuk kembali bekerja dan menciptakan penghasilan.
Bagi pelaku usaha, keterampilan dan sertifikasi menjadi modal untuk kembali masuk ke pasar. Sementara bagi konten kreator, penguatan ruang kreatif membuka peluang mengembangkan kegiatan digital yang dapat menopang aktivitas ekonomi.
Anak Terdampak Banjir Dilibatkan
Pemulihan tidak hanya menyasar orang dewasa. Anak-anak terdampak bencana juga dilibatkan melalui kegiatan seni dan permainan edukatif.
Sebanyak 100 anak mengikuti Unjuk Karya Melukis. Sementara permainan board game Sekata dan Superfood melibatkan siswa dari delapan sekolah tingkat SD dan SMP.
Dalam program Creative Recovery for Children, anak-anak menggunakan pigmen alami dari lumpur dan debu sisa banjir untuk membuat karya seni. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak untuk mengekspresikan pengalaman setelah bencana sekaligus membangun kembali kepercayaan diri dan interaksi sosial.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan kreativitas dapat menjadi kekuatan masyarakat dalam menghadapi masa sulit.
“Melalui seni lukis, kita tidak lagi bicara tentang sisa bencana. Kita bicara tentang harapan baru,” kata Teuku Riefky.
Sebanyak 10 karya lukis anak Aceh Tamiang yang dinilai paling inspiratif akan dibawa ke Jakarta untuk dipamerkan. Karya tersebut juga direncanakan dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif seperti art print dan merchandise.
Langkah itu membuka peluang agar karya yang lahir dari proses pemulihan tidak berhenti sebagai dokumentasi. Karya tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa cerita tentang kebangkitan masyarakat Aceh Tamiang.
Tantangan Ada pada Keberlanjutan
Kementerian Ekonomi Kreatif menyiapkan 103 kegiatan PRRP dengan target 5.788 penerima manfaat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Hingga kini, 30 kegiatan dengan 2.216 peserta telah terlaksana. Sebanyak 73 kegiatan lainnya dengan sasaran 3.572 peserta dijadwalkan berlangsung bertahap hingga akhir 2026.
Di Aceh Tamiang, program tersebut diarahkan pada keterampilan memasak, kompetensi barista, produksi konten, ketahanan bisnis, serta kegiatan kreatif bagi anak.
Namun, keberhasilan pemulihan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta pelatihan. Dampak jangka panjang akan bergantung pada kemampuan peserta menggunakan keterampilan tersebut untuk mendapatkan pekerjaan, mengembangkan usaha, memperoleh akses pasar, dan menghasilkan pendapatan.
Karena itu, tantangan berikutnya adalah memastikan pelatihan tidak berhenti ketika program selesai. Pemulihan ekonomi pascabencana baru akan terasa jika keterampilan yang diberikan benar-benar berubah menjadi aktivitas usaha dan sumber penghasilan yang bertahan.
Baca Juga:

