SWIPE UP TO READ

Rumah Adat Cut Meutia di Aceh Utara Butuh Perhatian, Warga Soroti Minimnya Perawatan Cagar Budaya

Peringatan Hari Damai Aceh di rumah pahlawan nasional Cut Meutia menjadi momentum warga kembali menyoroti kondisi situs sejarah.

THE ATJEH NET — Rumah Adat Pahlawan Nasional Cut Meutia di Gampong Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, kembali menjadi sorotan. Warga meminta pemerintah memperhatikan kondisi bangunan bersejarah yang dinilai belum mendapat perawatan memadai.

Sorotan itu disampaikan dalam peringatan Hari Damai Aceh ke-21 dan HUT ke-81 Republik Indonesia yang digelar Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pase bersama masyarakat di kompleks cagar budaya tersebut, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Tokoh masyarakat setempat, M. Ali, mengatakan belum terlihat langkah perbaikan yang signifikan terhadap Rumah Adat Cut Meutia sejak kegiatan Haul Cut Meutia yang mempertemukan keturunan dan keluarga pahlawan pada 2018.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperlihatkan kondisi riil Rumah Adat Cut Meutia saat ini. Kami bersama masyarakat bersepakat untuk mendorong pemeliharaan dan menghidupkan kembali fungsi cagar budaya ini agar tidak terlupakan,” kata M. Ali.

Menurut dia, pemerintah daerah dan instansi terkait perlu mengambil langkah nyata untuk merawat dan memperbaiki bangunan tersebut. Rumah Adat Cut Meutia tidak hanya berkaitan dengan sejarah seorang pahlawan nasional, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sejarah perjuangan masyarakat Aceh.

Persoalan perawatan situs sejarah itu muncul di tengah kegiatan yang justru mengangkat pentingnya pewarisan sejarah kepada generasi muda.

Kurator Museum Samudera Pasai, Sukarna Putra, dalam kesempatan tersebut menyampaikan edukasi mengenai perjuangan Cut Meutia. Ia mengatakan keberanian dan kedisiplinan Cut Meutia perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

“Cut Meutia adalah sosok pahlawan yang sangat berdisiplin dan ditakuti musuh. Rekam jejak perjuangannya serta pahlawan lain seperti Sultan Iskandar Muda harus terus diperkenalkan kepada generasi muda. Jangan sampai sejarah tidak sampai ke anak cucu kita nanti,” kata Sukarna.

Ia berharap sejarah Cut Meutia dan tokoh-tokoh penting Aceh lainnya tidak berhenti pada generasi saat ini. Menurut dia, keberadaan situs sejarah dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan sejarah tersebut kepada generasi muda.

Kegiatan di Rumah Adat Cut Meutia juga diisi zikir, salawat dan doa bersama yang dipimpin Abu Raja Masjid. Panitia memberikan santunan kepada 39 anak yatim piatu.

Panitia kegiatan, Razali, mengatakan acara tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengenang jasa Cut Meutia dan mempererat hubungan masyarakat.

Namun, di balik kegiatan peringatan tersebut, kondisi Rumah Adat Cut Meutia menjadi persoalan yang kembali mengemuka. Warga berharap perhatian terhadap situs itu tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dilanjutkan dengan pemeliharaan dan perbaikan secara berkelanjutan.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Rumah Adat Cut Meutia di Aceh Utara Butuh Perhatian, Warga Soroti Minimnya Perawatan Cagar Budaya
  • Rumah Adat Cut Meutia di Aceh Utara Butuh Perhatian, Warga Soroti Minimnya Perawatan Cagar Budaya
  • Rumah Adat Cut Meutia di Aceh Utara Butuh Perhatian, Warga Soroti Minimnya Perawatan Cagar Budaya
  • Rumah Adat Cut Meutia di Aceh Utara Butuh Perhatian, Warga Soroti Minimnya Perawatan Cagar Budaya
  • Rumah Adat Cut Meutia di Aceh Utara Butuh Perhatian, Warga Soroti Minimnya Perawatan Cagar Budaya
  • Rumah Adat Cut Meutia di Aceh Utara Butuh Perhatian, Warga Soroti Minimnya Perawatan Cagar Budaya