SWIPE UP TO READ

Jelang Pengembangan Blok Andaman, PT PEMA Dinilai Butuh Pemimpin Berjejaring Investor

MFF Syndicate menilai PEMA membutuhkan pemimpin yang mampu menghubungkan pemerintah, BUMN, investor, dan pelaku industri.
Dr. H. Said Mulyadi, SE, M.Si

BANDA ACEH — PT Pembangunan Aceh (PT PEMA Perseroda) dinilai membutuhkan pemimpin dengan kemampuan membangun jejaring investasi menjelang peluang pengembangan industri berbasis gas di Aceh. Posisi tersebut dinilai semakin strategis seiring rencana pemanfaatan potensi gas dari Wilayah Kerja Andaman.

Pendiri MFF Syndicate, M. Fauzan Febriansyah, mengatakan direktur utama PEMA ke depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengelola perusahaan. Pemimpin perusahaan daerah itu juga harus mampu menjembatani kepentingan Pemerintah Aceh, pemerintah pusat, BUMN, investor, dan pelaku industri.

“PT PEMA kini berada pada titik yang menentukan. Perseroan membutuhkan pemimpin yang mampu menerjemahkan potensi sumber daya alam Aceh menjadi investasi produktif, industri baru, dan penerimaan daerah yang berkelanjutan,” kata Fauzan.

Menurut dia, potensi pengembangan gas dari Wilayah Kerja Andaman dapat menjadi salah satu peluang penting bagi Aceh untuk mendorong industrialisasi. Karena itu, PEMA perlu memiliki kepemimpinan yang mampu mengawal proses dari tahap penjajakan investasi hingga realisasi proyek.

PEMA sebelumnya telah mengambil bagian dalam penjajakan pengembangan ekosistem gas bumi melalui kerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN), termasuk kajian pemanfaatan gas dari Wilayah Kerja Andaman untuk mendukung pengembangan industri berbasis gas di Aceh.

Pemerintah Aceh juga mendorong agar potensi gas tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat hilirisasi dan pengembangan kawasan industri, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe.

Fauzan menilai kondisi itu membuat kebutuhan terhadap sosok pemimpin PEMA berubah. Direktur utama tidak hanya dituntut memahami manajemen perusahaan, tetapi juga memiliki kemampuan negosiasi dan membangun kepercayaan dengan calon investor.

“Direktur Utama PEMA ke depan harus mampu duduk satu meja dengan investor, kementerian, BUMN, hingga mitra internasional untuk memastikan proyek strategis benar-benar terealisasi,” ujarnya.

Ia menyebut sedikitnya tiga kapasitas yang dibutuhkan. Pertama, kemampuan membangun komunikasi lintas lembaga dengan kementerian, BUMN energi, SKK Migas, investor nasional, dan investor internasional. Kedua, pengalaman memimpin organisasi dengan kompleksitas pemerintahan dan pembangunan. Ketiga, kemampuan membaca arah kebijakan nasional agar PEMA dapat menjadi mitra strategis pemerintah.

Dalam konteks itu, MFF Syndicate menilai mantan Bupati Pidie Jaya, Said Mulyadi, sebagai salah satu figur yang memiliki pengalaman relevan. Fauzan menyebut pengalaman Said sebagai kepala daerah dapat menjadi modal untuk memahami sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, pengelolaan pembangunan, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Namun, menurut Fauzan, kebutuhan PEMA tidak berhenti pada latar belakang birokrasi. Perusahaan daerah tersebut harus mampu mengubah peluang investasi menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi Aceh.

“PT PEMA harus menjadi motor lahirnya industri baru. Karena itu perusahaan memerlukan kepemimpinan yang berpikir melampaui administrasi perusahaan dan mampu membangun ekosistem investasi,” katanya.

Ia menilai ukuran keberhasilan PEMA dalam beberapa tahun mendatang seharusnya tidak semata-mata dilihat dari besaran dividen yang disetorkan kepada Pemerintah Aceh. Perusahaan juga perlu dinilai dari kemampuannya menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, membangun rantai pasok lokal, dan mendorong industri hilir.

Fauzan mengatakan proyek energi dengan nilai investasi besar membutuhkan kepastian tata kelola dan kepercayaan dari mitra usaha. Karena itu, kemampuan membangun jejaring menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kepemimpinan PEMA.

“Direktur Utama PT PEMA ke depan tidak cukup hanya menjadi chief executive officer, tetapi juga harus berperan sebagai chief investment ambassador bagi Aceh,” ujarnya.

Menurut dia, pemimpin PEMA harus mampu meyakinkan investor sekaligus membangun komunikasi dengan pemerintah pusat, BUMN, dan pelaku industri agar peluang dari sektor energi dapat bermuara pada investasi dan penciptaan lapangan kerja.

“Dari perspektif kebutuhan strategis perusahaan, Dr. Said Mulyadi merupakan salah satu figur yang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk memainkan peran tersebut,” kata Fauzan.

MFF Syndicate merupakan kelompok kajian independen yang bergerak di bidang politik, hukum, ekonomi, dan kebijakan publik.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Jelang Pengembangan Blok Andaman, PT PEMA Dinilai Butuh Pemimpin Berjejaring Investor
  • Jelang Pengembangan Blok Andaman, PT PEMA Dinilai Butuh Pemimpin Berjejaring Investor
  • Jelang Pengembangan Blok Andaman, PT PEMA Dinilai Butuh Pemimpin Berjejaring Investor
  • Jelang Pengembangan Blok Andaman, PT PEMA Dinilai Butuh Pemimpin Berjejaring Investor
  • Jelang Pengembangan Blok Andaman, PT PEMA Dinilai Butuh Pemimpin Berjejaring Investor
  • Jelang Pengembangan Blok Andaman, PT PEMA Dinilai Butuh Pemimpin Berjejaring Investor