BPS: Produksi Beras Nasional hingga September 2026 Diproyeksi Naik Tipis 0,01%, Luas Panen Mulai Melambat
Potensi panen Juli–September diperkirakan turun 1,26% seiring memasuki puncak musim kemarau dan masih bergantung pada cuaca.
![]() |
| Petani perempuan di Desa Lamreh, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, menanam padi di tengah keterbatasan pasokan air saat musim kemarau. |
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional sepanjang Januari–September 2026 hanya tumbuh tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan yang nyaris stagnan itu terjadi di tengah perlambatan luas panen pada puncak musim kemarau Juli–September.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Juni 2026 menunjukkan sebagian besar lahan pertanian masih berada pada fase pertanaman. Kondisi tersebut menjadi penentu capaian produksi pada triwulan ketiga tahun ini.
"Hasil amatan KSA Juni 2026 menunjukkan mayoritas lahan pertanian masih berupa tanaman padi atau standing crop sebesar 40,27 persen," kata Ateng dalam Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (3/8/2026).
Selain lahan yang ditanami padi, sekitar 28,89 persen lahan digunakan untuk komoditas selain padi. Sebanyak 11,78 persen merupakan lahan bera sementara, 10,66 persen telah dipanen, dan 8,16 persen masih dalam tahap persiapan lahan.
BPS mencatat sekitar 13,34 persen tanaman padi telah memasuki fase generatif dan diperkirakan dipanen pada Juli 2026. Sementara tanaman yang masih berada pada fase vegetatif diproyeksikan dipanen dalam dua hingga tiga bulan berikutnya.
Pada Juni 2026, luas panen diperkirakan mencapai 840 ribu hektare atau naik 6,93 persen dibandingkan Juni tahun lalu yang mencapai 790 ribu hektare. Kenaikan tersebut turut mendorong estimasi produksi beras Juni menjadi 2,47 juta ton, meningkat 6,96 persen secara tahunan.
Namun, tren tersebut diperkirakan tidak berlanjut pada puncak musim kemarau. BPS memperkirakan luas panen sepanjang Juli hingga September 2026 hanya mencapai 3,15 juta hektare atau turun 1,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan luas panen itu diproyeksikan menekan produksi beras pada periode Juli–September menjadi 9,36 juta ton atau turun 0,88 persen secara tahunan.
Secara kumulatif, luas panen Januari–September 2026 diperkirakan mencapai 9,46 juta hektare atau naik tipis 0,11 persen dibandingkan periode yang sama 2025. Dari luas panen tersebut, produksi beras nasional diproyeksikan mencapai 28,71 juta ton atau hanya meningkat 0,01 persen.
Meski demikian, Ateng menegaskan seluruh angka tersebut masih berupa proyeksi dan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
Menurut dia, potensi gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) maupun dampak puncak musim kemarau masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi realisasi produksi hingga akhir kuartal ketiga.
"Ini angka potensi dan belum memperhitungkan faktor musibah, faktor OPT dan puncak kemarau yang mungkin terjadi pada bulan tersebut. Jadi kita lihat nanti bagaimana puncak kemarau pada bulan-bulan tersebut," ujar Ateng.
BPS menilai perkembangan pertanaman dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu apakah produksi beras nasional mampu dipertahankan di tengah risiko cuaca dan penurunan luas panen selama musim kemarau.
Baca Juga:
