Aceh Besar Hadapi Ancaman Kekeringan, 20 Hektare Sawah Diselamatkan dengan Pompa Air
Debit irigasi menurun saat kemarau membuat sawah di Mereu Ulee Titi kekurangan air. Pemerintah meminjamkan pompa untuk mencegah gagal panen.
![]() |
| Tim Pemkab Aceh Besar bersama BWS Sumatera I Kementerian Pekerjaan Umum, memfasilitasi pompanisasi di Gampong Mereu Ulee Titi, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (4/8/2026) |
JANTHO — Sekitar 20 hektare sawah di Gampong Mereu Ulee Titi, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, mulai kekurangan air akibat musim kemarau. Pemerintah daerah bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I memasang pompa untuk menjaga pasokan air dan mengurangi risiko gagal panen.
Kekurangan air terjadi ketika debit saluran irigasi menurun. Kondisi itu diperparah posisi saluran yang lebih rendah sehingga air tidak mampu mengalir ke seluruh areal persawahan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Aceh Besar, Imam Munandar, mengatakan pompanisasi menjadi langkah darurat untuk mengalirkan air dari sumber yang masih tersedia ke lahan pertanian.
“Fasilitasi pompa ini merupakan langkah cepat untuk mengatasi kekurangan air di areal persawahan yang terdampak kemarau,” kata Imam di Aceh Besar, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Imam, pompa tersebut difasilitasi BWS Sumatera I melalui skema pinjam pakai sementara. Secara keseluruhan, pemerintah daerah memperoleh 20 unit pompa untuk digunakan di sejumlah kawasan pertanian yang mengalami kekurangan air.
Di Mereu Ulee Titi, pompa digunakan untuk membantu mengairi sawah yang tidak lagi mendapatkan pasokan air secara optimal dari saluran irigasi.
“Permasalahan utama di lokasi ini adalah posisi saluran irigasi yang lebih rendah sehingga saat debit air menurun pada musim kemarau, sawah tidak lagi mendapatkan pasokan air yang cukup,” ujar Imam.
Petani sebelumnya mengandalkan pompa milik kelompok tani. Namun, mesin tersebut mengalami kerusakan sehingga tidak lagi dapat digunakan untuk mengalirkan air ke persawahan.
Muhammad Nazar, 51 tahun, salah seorang petani setempat, mengatakan keberadaan pompa pinjam pakai membantu petani mempertahankan pengairan sawah selama kemarau.
“Pompa yang kami miliki sudah rusak dan mesinnya tidak bisa dihidupkan lagi. Kami sangat berterima kasih atas bantuan pompa pinjam pakai ini,” katanya.
Nazar berharap pemerintah dapat menyediakan pompa permanen bagi kelompok tani agar persoalan pengairan tidak kembali terjadi ketika debit air irigasi turun.
Imam mengatakan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar akan terus mengoptimalkan pompanisasi di kawasan pertanian yang masih memiliki sumber air. Pemerintah juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan.
“Pompanisasi menjadi salah satu solusi cepat untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau,” ujarnya.
Langkah tersebut diperlukan karena ketersediaan air menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan tanaman padi. Jika kekurangan air berlanjut pada fase pertumbuhan tanaman, risiko penurunan produksi hingga gagal panen dapat meningkat.
Baca Juga:
