SWIPE UP TO READ

23 Gajah Mati dalam 4 Tahun, Kematian Yuna dan Gajah Aceh Tamiang Jadi Alarm Konservasi Aceh

Kematian gajah liar di Aceh Tamiang dan gajah jinak Yuna di PLG Saree terjadi hanya berselang dua hari.

THE ATJEH NET - Dua gajah sumatra mati di Aceh dalam waktu hanya dua hari. Kondisi ini mendorong Forum Jurnalis Lingkungan dan Jaringan Gajah Nusantara mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengevaluasi sistem perlindungan dan kesehatan satwa.

Gajah pertama merupakan gajah jantan liar yang ditemukan mati di areal perkebunan sawit PT MPLI, Gampong Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang, pada 9 Agustus 2026. Dua hari kemudian, anak gajah jinak bernama Yuna mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar.

Kepala Departemen Advokasi Forum Jurnalis Lingkungan, Hidayatullah, mengatakan bangkai gajah jantan ditemukan pada Minggu sekitar pukul 12.00 WIB. Kedua gadingnya masih utuh dan tidak terlihat luka pada tubuh.

Pemeriksaan awal, kata dia, mengarah pada dugaan keracunan. Gajah tersebut diperkirakan telah mati sekitar tiga hari sebelum ditemukan.

"Bang- kai gajah ditemukan tergeletak di jalur perkebunan dengan kedua gading masih utuh dan tidak terlihat luka pada tubuh," kata Hidayatullah, Kamis, 13 Agustus 2026.

Dua hari setelah temuan di Aceh Tamiang, Yuna, gajah berusia sekitar tiga tahun, mati di PLG Saree. Pada Selasa pagi, Yuna masih terlihat aktif. Menjelang sore, mahout menemukan kondisi tubuhnya memburuk, antara lain lemas, mata dan wajah membengkak, serta lidah pucat kebiruan.

Tim medis memberikan penanganan, tetapi kondisi Yuna terus menurun hingga mati pada pukul 20.48 WIB.

Dugaan sementara kematian Yuna berkaitan dengan infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV). Penyakit tersebut dapat menyerang anak gajah dan berkembang dengan cepat. Namun, dugaan itu dinilai perlu dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium.

"Kematian dua gajah ini menambah kekhawatiran terhadap tren populasi gajah sumatra yang terus menurun. Populasi gajah sumatra di Aceh sendiri sebelumnya diperkirakan hanya berkisar 500 individu," ujar Hidayatullah.

23 Gajah Mati dalam Empat Tahun

Forum Jurnalis Lingkungan mencatat sedikitnya 23 kasus kematian gajah di Aceh dalam empat tahun terakhir. Penyebabnya beragam, termasuk perburuan dan konflik antara gajah dengan manusia.

Hidayatullah menilai kematian dua gajah dalam waktu berdekatan perlu dilihat sebagai persoalan konservasi yang lebih luas, bukan sekadar dua kasus terpisah.

Ia meminta BKSDA Aceh mengevaluasi sistem pencegahan, pengawasan, deteksi dini penyakit, hingga penanganan kesehatan gajah, khususnya satwa yang berada dalam pengelolaan manusia.

"Kami mendesak BKSDA Aceh membuka riwayat kesehatan gajah, hasil nekropsi, serta hasil pemeriksaan laboratorium secara bertanggung jawab kepada publik," katanya.

Menurut dia, setiap individu gajah penting bagi keberlangsungan populasi satwa yang berstatus sangat terancam punah tersebut.

"Satu individu gajah mungkin tampak kecil dalam angka populasi, tetapi bagi konservasi, setiap nyawa sangat berarti. Pencegahan dan deteksi dini, bukan penjelasan setelah kematian terjadi, yang seharusnya menjadi prioritas," ujarnya.

Jaringan Gajah Minta Uji Laboratorium

Desakan evaluasi juga disampaikan Jaringan Gajah Nusantara. Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Publikasi Jaringan Gajah Nusantara, Yulham, meminta dugaan infeksi EEHV pada Yuna dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.

Yulham juga mempertanyakan penerapan biosekuriti di PLG Saree untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit kepada gajah lain.

Menurut dia, kematian gajah liar di Aceh Tamiang dan gajah jinak di PLG Saree menunjukkan dua persoalan berbeda yang sama-sama berkaitan dengan keselamatan gajah sumatra, baik di habitat alami maupun dalam pengelolaan manusia.

Karena itu, ia mendorong BKSDA Aceh melibatkan dokter hewan satwa liar, pakar gajah, akademisi, dan organisasi konservasi dalam evaluasi.

"Kematian gajah jinak Yuna dan gajah di Aceh Tamiang harus menjadi momentum, bukan sekadar duka yang berlalu begitu saja," kata Yulham.

Ia meminta pengawasan di kawasan yang rawan konflik, termasuk perkebunan sawit, diperkuat. Informasi mengenai kondisi kesehatan, hasil pemeriksaan, dan penanganan gajah juga dinilai perlu disampaikan secara terbuka.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • 23 Gajah Mati dalam 4 Tahun, Kematian Yuna dan Gajah Aceh Tamiang Jadi Alarm Konservasi Aceh
  • 23 Gajah Mati dalam 4 Tahun, Kematian Yuna dan Gajah Aceh Tamiang Jadi Alarm Konservasi Aceh
  • 23 Gajah Mati dalam 4 Tahun, Kematian Yuna dan Gajah Aceh Tamiang Jadi Alarm Konservasi Aceh
  • 23 Gajah Mati dalam 4 Tahun, Kematian Yuna dan Gajah Aceh Tamiang Jadi Alarm Konservasi Aceh
  • 23 Gajah Mati dalam 4 Tahun, Kematian Yuna dan Gajah Aceh Tamiang Jadi Alarm Konservasi Aceh
  • 23 Gajah Mati dalam 4 Tahun, Kematian Yuna dan Gajah Aceh Tamiang Jadi Alarm Konservasi Aceh