SWIPE UP TO READ

21 Tahun Damai Aceh, Warga Aceh Utara Ingatkan Pemerintah Rawat Rumah Adat Cut Meutia

Rumah Adat Cut Meutia di Matangkuli disebut belum mendapat perbaikan signifikan sejak 2018 dan dikhawatirkan terabaikan.

THE ATJEH NET — Peringatan 21 tahun Damai Aceh di Rumah Adat Pahlawan Nasional Cut Meutia, Aceh Utara, menjadi momentum warga mengingatkan pemerintah agar merawat situs sejarah tersebut.

Peringatan digelar Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pase bersama masyarakat di kompleks cagar budaya Gampong Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Sabtu, 15 Agustus 2026. Kegiatan diisi doa bersama, zikir, salawat, serta santunan kepada 39 anak yatim.

Tokoh masyarakat setempat, M. Ali, mengatakan kondisi Rumah Adat Cut Meutia perlu mendapat perhatian lebih serius. Menurut dia, belum terlihat perbaikan signifikan terhadap bangunan tersebut sejak kegiatan Haul Cut Meutia yang melibatkan keluarga dan keturunan sang pahlawan pada 2018.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin memperlihatkan kondisi riil Rumah Adat Cut Meutia saat ini. Kami bersama masyarakat bersepakat untuk mendorong pemeliharaan dan menghidupkan kembali fungsi cagar budaya ini agar tidak terlupakan," ujar M. Ali.

Ia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait mengambil langkah nyata untuk merawat dan memperbaiki bangunan tersebut. Rumah Adat Cut Meutia, kata dia, bukan hanya bangunan lama, tetapi bagian dari jejak sejarah perjuangan Aceh.

Sejarah Cut Meutia Diperkenalkan kepada Generasi Muda

Peringatan Damai Aceh juga diisi edukasi sejarah oleh Kurator Museum Samudera Pasai, Sukarna Putra. Ia mengulas perjuangan Cut Meutia serta catatan sejarah mengenai sosok pahlawan nasional tersebut.

Sukarna mengatakan keberanian dan kedisiplinan Cut Meutia dalam melawan kolonial Belanda perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

"Cut Meutia adalah sosok pahlawan yang sangat berdisiplin dan ditakuti musuh. Rekam jejak perjuangannya serta pahlawan lain seperti Sultan Iskandar Muda harus terus diperkenalkan kepada generasi muda," kata Sukarna.

Menurut dia, pelestarian sejarah tidak cukup hanya melalui peringatan tahunan. Pengetahuan mengenai perjuangan Cut Meutia dan tokoh sejarah Aceh lainnya perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Jangan sampai sejarah tidak sampai ke anak cucu kita nanti," ujarnya.

Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim

Selain membahas sejarah dan kondisi cagar budaya, kegiatan tersebut diisi doa bersama yang dipimpin Abu Raja Masjid. Panitia juga memberikan santunan kepada 39 anak yatim piatu.

Panitia kegiatan, Razali, mengatakan peringatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenang perjuangan Cut Meutia dan memperkuat silaturahmi.

"Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengenang jasa pahlawan nasional Cut Meutia," kata Razali.

Peringatan 21 tahun Damai Aceh yang digelar di rumah adat itu akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Warga juga menggunakan momentum tersebut untuk mendorong agar situs sejarah Cut Meutia kembali mendapat perhatian dan perawatan yang layak.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • 21 Tahun Damai Aceh, Warga Aceh Utara Ingatkan Pemerintah Rawat Rumah Adat Cut Meutia
  • 21 Tahun Damai Aceh, Warga Aceh Utara Ingatkan Pemerintah Rawat Rumah Adat Cut Meutia
  • 21 Tahun Damai Aceh, Warga Aceh Utara Ingatkan Pemerintah Rawat Rumah Adat Cut Meutia
  • 21 Tahun Damai Aceh, Warga Aceh Utara Ingatkan Pemerintah Rawat Rumah Adat Cut Meutia
  • 21 Tahun Damai Aceh, Warga Aceh Utara Ingatkan Pemerintah Rawat Rumah Adat Cut Meutia
  • 21 Tahun Damai Aceh, Warga Aceh Utara Ingatkan Pemerintah Rawat Rumah Adat Cut Meutia