Kementan Siapkan Jurus Hadapi El Nino 2026, Kekeringan Dinilai Masih Terkendali
Kementan menyiapkan mitigasi El Nino 2026 lewat pompa air, irigasi, dan alsintan. Kekeringan 12 ribu hektare masih terkendali.
![]() |
| Gambar Ilustrasi |
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementerian Pertanian Republik Indonesia) mulai menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi potensi dampak El Nino pada musim kemarau 2026. Meski kekeringan mulai muncul di beberapa wilayah, pemerintah menyebut kondisi masih dalam batas terkendali.
Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, mengatakan pengalaman El Nino 2015 menjadi pelajaran penting dalam penanganan dampak iklim terhadap sektor pertanian. Pada periode itu, luas lahan puso mencapai 217 ribu hektare.
“(El Nino tahun) 2015 itu puso 217 ribu hektare atau 1,5 persen dari luas panen. Untuk 2023 lalu, kekeringan menyebabkan puso 49 ribu hektare atau 0,4 persen,” kata Suwandi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
“Insyaallah, walaupun tetap harus waspada, per hari ini kekeringan baru sekitar 12 ribu hektare. Jadi masih terkendali,” ujarnya.
Kementan menggunakan data prakiraan iklim dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan International Research Institute for Climate and Society (IRI) sebagai acuan dalam menyusun strategi hingga Maret 2027.
“Itu yang kami pakai sebagai data global untuk memprediksi kondisi sampai 2027,” kata Suwandi.
Ia menjelaskan, berdasarkan proyeksi, kondisi iklim masih berada pada fase El Nino lemah hingga sedang. Sementara itu, data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan musim kemarau 2026 mulai terjadi sejak April di Nusa Tenggara Timur dan meluas ke berbagai wilayah lainnya, dengan puncak diperkirakan pada Agustus.
“Puncaknya Agustus, mulai dari Sumatra, Jawa, sebagian Bali dan NTT. Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua juga terdampak,” ujarnya.
Kementan mencatat musim kemarau mulai meluas pada Juni di 198 zona musim atau sekitar 31,6 persen wilayah Indonesia, dan bertambah pada Juli di 66 zona musim lainnya.
Menurut Suwandi, dampak El Nino berpotensi memengaruhi seluruh subsektor pertanian, terutama tanaman pangan yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Risiko yang muncul meliputi penurunan luas tanam, produksi, hingga meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Ia menyebut, salah satu ciri El Nino ekstrem adalah potensi kebakaran lahan dan kabut asap. Namun, kondisi saat ini dinilai belum menunjukkan gejala signifikan.
“Kalau ekstrem biasanya ada kebakaran lahan dan asap. Saat ini tidak begitu signifikan,” katanya.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kementan menerapkan tiga strategi utama: antisipasi sebelum kemarau, adaptasi saat kemarau berlangsung, dan mitigasi ketika dampak terjadi.
Langkah antisipasi dilakukan melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyediaan sarana produksi, hingga penguatan infrastruktur air. Sementara adaptasi mencakup efisiensi penggunaan air, penerapan teknologi budidaya, penggunaan varietas tahan kering, dan pengaturan pola tanam.
“Budidaya padi sistem macak-macak, airnya sedikit saja, supaya efisien,” ujar Suwandi.
Adapun langkah mitigasi meliputi asuransi pertanian, pengelolaan risiko produksi, serta bantuan bagi petani terdampak. Kementan juga memperkuat koordinasi lintas lembaga, termasuk meminta BMKG melakukan modifikasi cuaca di wilayah rawan kekeringan.
Selain itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman disebut telah menginstruksikan pengaktifan kembali “brigade kekeringan” di daerah rawan.
Di sisi infrastruktur, Kementan menyiapkan rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur dangkal, hingga pompanisasi. Total alat dan mesin pertanian (alsintan) yang disiapkan mencapai 94.767 unit pada 2026, meningkat dari tahun sebelumnya.
“Pompa-pompa harus segera dipasang sebelum Juli–Agustus,” kata Suwandi.
Pemerintah juga menyiapkan pembangunan dan rehabilitasi ribuan unit irigasi serta distribusi puluhan ribu pompa air ke daerah rawan kekeringan sebagai bagian dari antisipasi menghadapi musim kemarau panjang.
Baca Juga:
