IPO Lesu pada Semester I 2026, BEI: Perusahaan Beralih Himpun Dana Lewat Obligasi dan Sukuk
BEI mencatat hanya lima IPO hingga awal Juli 2026, sementara penerbitan obligasi dan sukuk mencapai Rp76,1 triliun.
![]() |
| Gambar ilustrasi IPO Lesu pada Semester I 2026 |
JAKARTA - Aktivitas penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melambat sepanjang semester pertama 2026. Di sisi lain, perusahaan justru lebih banyak memanfaatkan pasar modal melalui penerbitan efek bersifat utang dan sukuk sebagai sumber pendanaan.
mengutip idnfinancials, Sabtu (11/7), Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan hingga 9 Juli 2026 hanya lima perusahaan yang telah melantai di bursa. Jumlah tersebut belum termasuk PT Rans Entertainment Tbk (RANS) dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang masih dalam proses pencatatan.
Kelima perusahaan tersebut menghimpun dana sekitar Rp1,67 triliun dari pasar modal.
Sebaliknya, penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi. Hingga periode yang sama, tercatat 71 emisi EBUS dari 43 perusahaan dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp76,1 triliun.
"Memang lebih sedikit pada tahun ini. Namun kami tidak menilai keberhasilan kami hanya berdasarkan jumlah transaksi atau nilai nominal dari kegiatan penghimpunan dana," kata Saidu dalam keterangannya.
Menurut Saidu, BEI saat ini lebih menitikberatkan pada kualitas emiten yang masuk ke pasar modal dibanding mengejar jumlah IPO. Penilaian tersebut mencakup aspek fundamental perusahaan, tata kelola, hingga kesiapan menjalankan kewajiban sebagai perusahaan terbuka.
Meski realisasi IPO masih terbatas, BEI mencatat terdapat enam perusahaan dalam antrean (pipeline) pencatatan saham dengan potensi penghimpunan dana sekitar Rp2,47 triliun.
Dari sisi skala usaha, mayoritas calon emiten berasal dari kelompok perusahaan beraset besar. Sementara berdasarkan sektor, perusahaan di bidang kesehatan (healthcare) menjadi yang paling dominan, disusul sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, dan basic materials.
BEI menilai pasar modal tetap menjadi sumber pembiayaan yang diminati pelaku usaha, meski pola pendanaannya bergeser. Kondisi tersebut tercermin dari tingginya minat perusahaan menerbitkan obligasi dan sukuk dibandingkan menawarkan saham baru kepada publik.
Sejalan dengan itu, BEI menyatakan terus memperkuat ekosistem pasar modal melalui penyempurnaan regulasi dan peningkatan kualitas perusahaan tercatat guna menjaga kepercayaan investor dan mendukung pendanaan jangka panjang dunia usaha.
Baca Juga:
