IHSG Dibuka Melemah ke 5.842, Saham Big Caps Tertekan, Pasar Dibayangi Konflik AS-Iran
IHSG turun pada awal perdagangan dipicu aksi jual saham unggulan dan sentimen geopolitik setelah memanasnya konflik AS-Iran.
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, di zona merah. Pelemahan indeks terjadi di tengah tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka turun 30,78 poin atau 0,52 persen ke level 5.842,58. Pada awal perdagangan, indeks sempat bergerak di kisaran 5.841,98 hingga 5.870,64.
Sebanyak 169 saham menguat, 235 saham melemah, dan 216 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.247,33 triliun.
Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari pelemahan sejumlah saham unggulan. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) turun 2,53 persen menjadi Rp770 per saham. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) melemah 1,78 persen ke Rp3.320, sementara PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 1,62 persen menjadi Rp6.075 per saham.
Selain itu, saham PT Ekamas Mora Republik Tbk. (MORA) terkoreksi 1,54 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turun 1,43 persen, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melemah 1,20 persen.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 1,89 persen disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing sekitar Rp674 miliar.
Menurut dia, saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain BBRI, MAPI, BRMS, AMMN, dan CPIN.
"IHSG hari ini berpotensi melanjutkan koreksi ke level 5.850. Investor perlu berhati-hati jika indeks menembus ke bawah 5.850 karena koreksi dapat berlanjut ke kisaran 5.650 hingga 5.800," ujar Fanny dalam riset hariannya.
BNI Sekuritas memperkirakan area support IHSG berada di level 5.750–5.850, sedangkan resistance berada pada rentang 5.900–5.950.
Sentimen eksternal juga masih membebani pasar. Kekhawatiran investor meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut disusul serangan udara Amerika Serikat sebagai respons atas gangguan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Kombinasi tekanan geopolitik dan aksi jual investor asing membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan situasi global maupun sentimen domestik berikutnya.
Baca Juga:
