Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Museum Tsunami Aceh Hadirkan Jejak Tsunami dari Hikayat hingga Metadata Modern

BANDA ACEH - Di balik dinding Museum Tsunami Aceh, ingatan tentang bencana yang pernah mengubah wajah Aceh kembali dihidupkan. Kali ini bukan melalui sirene peringatan dini atau simulasi evakuasi, melainkan lewat perjalanan panjang pengetahuan manusia tentang tsunami, mulai dari hikayat yang diwariskan secara lisan hingga teknologi metadata modern.

Sejak 25 Mei 2026, Museum Tsunami Aceh menggelar pameran temporer bertajuk Jejak Ingatan Tsunami: Dari Tradisi Lisan atau Hikayat ke Metadata. Pameran yang akan berlangsung selama enam bulan itu mengajak pengunjung menelusuri bagaimana masyarakat Aceh dan berbagai bangsa di dunia merekam, memahami, serta mewariskan pengetahuan kebencanaan dari generasi ke generasi.

Pameran tersebut menjadi ruang pertemuan antara sejarah, budaya, dan sains. Di satu sisi, pengunjung diajak melihat manuskrip kuno yang memuat pesan mitigasi bencana. Di sisi lain, mereka diperkenalkan dengan teknologi pemantauan tsunami berbasis sistem peringatan dini yang menjadi andalan masa kini.

Salah satu temuan penting yang ditampilkan berasal dari penelitian pakar Universitas Syiah Kuala, Profesor Nazli. Hasil riset tersebut menyebutkan bahwa wilayah Aceh setidaknya telah mengalami 11 kali peristiwa tsunami sepanjang sejarahnya.

Temuan itu memperkuat pemahaman bahwa tsunami bukanlah peristiwa tunggal yang hanya terjadi pada 26 Desember 2004, melainkan bagian dari siklus alam yang berulang di kawasan pesisir barat Sumatra.

Konseptor pameran, Nurul Latifa, mengatakan pihak museum sengaja menghadirkan berbagai sumber pengetahuan dari masa lalu dan masa kini agar masyarakat memahami bahwa mitigasi bencana telah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak lama.

“Kami memajang beberapa koleksi manuskrip dan replika prasasti dari Jepang yang berisi pesan-pesan peringatan bencana untuk generasi berikutnya,” kata Nurul saat ditemui di Museum Tsunami Aceh, Selasa, 2 Juni 2026.

Di antara koleksi yang menarik perhatian pengunjung adalah manuskrip abad ke-19 karya Syekh Abbas Kuta Karang serta catatan Syarif Krueng Raya yang ditulis pada 1964. Kedua dokumen tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Aceh masa lalu telah memiliki kesadaran terhadap ancaman bencana alam dan pentingnya pengetahuan lokal dalam upaya penyelamatan.

Museum juga menghadirkan replika prasasti batu dari Jepang yang selama ratusan tahun digunakan sebagai penanda wilayah rawan tsunami. Prasasti-prasasti tersebut berisi pesan sederhana namun tegas agar masyarakat tidak membangun permukiman di bawah titik tertentu yang pernah diterjang gelombang besar.

Selain koleksi sejarah, pameran ini turut dilengkapi diorama proses terjadinya tsunami. Melalui visualisasi tersebut, pengunjung dapat memahami bagaimana gempa bawah laut memicu gelombang raksasa yang bergerak menuju daratan.

“Ada diorama yang menjelaskan proses tsunami dan juga beberapa foto alat pendeteksi tsunami yang digunakan saat ini,” ujar Nurul.

Menurut dia, penyandingan manuskrip kuno dengan teknologi modern sengaja dilakukan untuk menunjukkan bahwa upaya mitigasi selalu berkembang mengikuti zaman. Jika dahulu peringatan disampaikan melalui hikayat dan prasasti batu, kini informasi disebarkan melalui sensor, satelit, dan jaringan sistem peringatan dini.

Antusiasme masyarakat terhadap pameran tersebut terbilang tinggi. Hingga awal Juni 2026, jumlah pengunjung tercatat telah melampaui 10 ribu orang. Mereka tidak hanya berasal dari Aceh, tetapi juga wisatawan domestik dari Sumatera Utara serta wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia.

Tasya, 24 tahun, salah seorang pengunjung, mengaku tertarik datang karena ingin memahami lebih jauh sejarah tsunami yang pernah terjadi di Aceh.

“Yang menarik bagi saya adalah manuskrip abad ke-19 dan metadata modern ditempatkan dalam satu ruang yang sama. Dari situ kita sadar bahwa bencana ini memang bagian dari siklus alam yang nyata,” katanya.

Bagi Tasya, pameran semacam itu bukan hanya menyajikan informasi sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masyarakat harus selalu siap menghadapi kemungkinan bencana di masa depan.

Hal senada disampaikan Hasanah, 36 tahun, yang datang bersama keluarganya. Ia mengaku sengaja mengajak anak-anaknya mengunjungi pameran agar mereka memahami sejarah kebencanaan sejak dini.

“Anak-anak memang tidak mengalami langsung tsunami 2004. Tapi mereka harus tahu bahwa bencana alam itu ada dan mereka perlu mengenali tanda-tandanya,” ujarnya.

Melalui pameran ini, Museum Tsunami Aceh tampaknya ingin menyampaikan satu pesan sederhana: ingatan bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk dipelajari. Sebab di wilayah yang berkali-kali berhadapan dengan gelombang besar, pengetahuan bisa menjadi penyelamat paling berharga bagi generasi yang akan datang.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Museum Tsunami Aceh Hadirkan Jejak Tsunami dari Hikayat hingga Metadata Modern
  • Museum Tsunami Aceh Hadirkan Jejak Tsunami dari Hikayat hingga Metadata Modern
  • Museum Tsunami Aceh Hadirkan Jejak Tsunami dari Hikayat hingga Metadata Modern
  • Museum Tsunami Aceh Hadirkan Jejak Tsunami dari Hikayat hingga Metadata Modern
  • Museum Tsunami Aceh Hadirkan Jejak Tsunami dari Hikayat hingga Metadata Modern
  • Museum Tsunami Aceh Hadirkan Jejak Tsunami dari Hikayat hingga Metadata Modern