Ketika Rehab Rekon Belum Tiba, Petani Aceh Utara Bertaruh pada Upaya Mandiri
ACEH UTARA — Tujuh bulan setelah banjir merendam kawasan pertanian di Desa Tanjong Ara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, para petani mulai menggarap kembali sawah mereka secara mandiri. Langkah itu dilakukan karena program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) yang diharapkan membantu pemulihan lahan hingga kini belum terealisasi.
Adi, salah seorang petani setempat, mengatakan warga tidak bisa terus menunggu bantuan karena pertanian merupakan sumber penghidupan utama masyarakat desa tersebut.
“Tidak mungkin kami terus menunggu. Sudah tujuh bulan berlalu sejak banjir, sementara mata pencaharian kami hanya dari sawah. Sampai sekarang program yang dijanjikan belum juga terealisasi,” kata Adi kepada wartawan.
Menurut dia, lahan pertanian yang terdampak banjir masih menyisakan persoalan serius. Endapan lumpur yang terbawa banjir telah mengeras sehingga menyulitkan proses pengolahan tanah. Meski demikian, petani tetap berupaya membersihkan dan mengolah lahan dengan peralatan yang tersedia agar dapat kembali ditanami.
“Kondisi tanah sekarang sangat keras akibat lumpur yang mengendap. Namun, kami tetap berusaha mengolahnya semampu kami karena kebutuhan hidup tidak bisa ditunda,” ujarnya.
Desa Tanjong Ara memiliki areal persawahan sekitar 50 hektare yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat. Para petani menilai pemulihan lahan secara menyeluruh membutuhkan dukungan pemerintah, baik melalui normalisasi lahan maupun bantuan sarana produksi pertanian.
Mereka khawatir produktivitas pertanian akan terus menurun jika kondisi lahan tidak segera dipulihkan. Selain berdampak pada hasil panen, keterlambatan penanganan juga berpotensi memperpanjang tekanan ekonomi yang dialami petani sejak banjir melanda wilayah tersebut.
Para petani berharap pemerintah segera merealisasikan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dijanjikan. Menurut mereka, percepatan pemulihan sektor pertanian penting agar aktivitas bercocok tanam dapat kembali berjalan normal dan ekonomi masyarakat desa dapat pulih.
Hingga kini, sebagian petani memilih mengandalkan gotong royong dan kemampuan masing-masing untuk membersihkan sawah, sembari menunggu kepastian bantuan dari pemerintah.
