Impor Aceh Naik 14 Persen pada April 2026, Didominasi Gas dari Amerika Serikat dan Aljazair
![]() |
| Ilustrasi (Theatjeh.net/AI) |
BANDA ACEH - Aktivitas perdagangan luar negeri Aceh kembali menunjukkan peningkatan pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat nilai impor provinsi ini mencapai 49,25 juta dolar Amerika Serikat atau naik 14,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai impor Aceh masih mengalami penurunan sebesar 3,07 persen.
Kepala BPS Aceh Agus Andria mengatakan peningkatan impor pada April terutama didorong oleh masuknya komoditas energi berupa gas propana dan butana yang masih menjadi kebutuhan utama sejumlah sektor industri di Aceh.
“Nilai impor April 2026 mencapai 49,25 juta dolar AS. Angka ini meningkat dibandingkan Maret 2026, namun masih lebih rendah dibandingkan April tahun lalu,” kata Agus, Selasa, 2 Juni 2026.
Data BPS menunjukkan Amerika Serikat menjadi negara pemasok terbesar barang impor ke Aceh selama April. Nilai impor dari negeri itu mencapai 27,17 juta dolar AS atau sekitar 55,17 persen dari total impor Aceh.
Komoditas utama yang didatangkan dari Amerika Serikat adalah gas propana dan butana, bahan bakar yang banyak digunakan untuk kebutuhan industri maupun energi rumah tangga.
Posisi kedua ditempati Aljazair dengan nilai impor sebesar 18,74 juta dolar AS atau 38,04 persen dari total impor. Sama seperti Amerika Serikat, mayoritas barang yang masuk dari negara Afrika Utara tersebut juga berupa gas propana dan butana.
Sementara itu, Tiongkok berada di urutan ketiga dengan nilai impor mencapai 2,99 juta dolar AS atau sekitar 6,07 persen. Berbeda dengan dua negara sebelumnya, komoditas utama yang diimpor dari Tiongkok berupa bahan kimia anorganik yang digunakan untuk berbagai kebutuhan industri.
Secara keseluruhan, komoditas gas propana dan butana mendominasi struktur impor Aceh. Nilainya mencapai 45,91 juta dolar AS atau sekitar 93,20 persen dari total impor selama April 2026.
Adapun bahan kimia anorganik menyumbang nilai impor sebesar 2,99 juta dolar AS atau 6,07 persen.
Dominasi impor sektor energi menunjukkan masih tingginya ketergantungan Aceh terhadap pasokan bahan bakar dari luar negeri, meskipun provinsi ini dikenal memiliki potensi sumber daya energi yang cukup besar.
Di sisi lain, kinerja perdagangan luar negeri Aceh masih mencatatkan hasil positif. BPS mencatat nilai ekspor Aceh pada April 2026 tetap lebih besar dibandingkan nilai impornya sehingga menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar 7,74 juta dolar AS.
Surplus tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas ekspor masih mampu menopang keseimbangan perdagangan daerah meskipun terjadi peningkatan impor pada bulan yang sama.
Agus menjelaskan, berdasarkan tren selama periode April 2025 hingga April 2026, neraca perdagangan luar negeri Aceh relatif berada dalam kondisi surplus. Defisit hanya tercatat pada dua periode, yakni Mei dan Oktober 2025.
“Secara umum neraca perdagangan Aceh masih menunjukkan kondisi yang positif karena nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor,” ujarnya.
Kinerja perdagangan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi perekonomian Aceh. Selain mencerminkan aktivitas industri dan konsumsi energi, pergerakan ekspor-impor juga menjadi gambaran kemampuan daerah dalam memanfaatkan peluang pasar global sekaligus menjaga keseimbangan pasokan barang kebutuhan strategis.
Dengan kebutuhan energi yang masih mendominasi struktur impor, tantangan ke depan adalah bagaimana memperkuat kapasitas produksi dan pengolahan energi di dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap pasokan luar dapat dikurangi secara bertahap, tanpa mengganggu aktivitas ekonomi yang terus tumbuh.
Baca Juga:

