Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hujan Datang, Ancaman DBD Mengintai Banda Aceh

Ilustrasi Genangan air hujan di lingkungan permukiman dengan nyamuk Aedes aegypti diperbesar secara visual. (Theatjeh.net/AI)

BANDA ACEH - Langit mendung yang menggantung di atas Banda Aceh dan sekitarnya pada awal Juni bukan hanya membawa kabar tentang hujan. Di balik tetes air yang turun membasahi jalan dan halaman rumah warga, tersimpan ancaman lain yang kerap datang diam-diam: ledakan populasi nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan mengguyur Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Kota Sabang pada Selasa, 2 Juni 2026. Curah hujan yang meningkat berpotensi menciptakan banyak genangan air bersih di lingkungan permukiman, lokasi favorit bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Kondisi tersebut langsung mendapat perhatian Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Instansi itu mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini guna menghindari lonjakan kasus penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Entomolog Ahli Madya Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Darmansyah, mengatakan upaya pencegahan DBD sejatinya dimulai dari lingkungan rumah tangga. Namun, langkah sederhana itu kerap diabaikan.

“Yang paling mendasar justru sering tidak diperhatikan. Kita mulai dari bak mandi, vas bunga, hingga kaleng-kaleng bekas yang ada di sekitar rumah,” kata Darmansyah, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurut dia, nyamuk Aedes aegypti tidak membutuhkan kolam besar untuk berkembang biak. Sedikit genangan air yang tertampung selama beberapa hari sudah cukup menjadi tempat ideal bagi telur nyamuk menetas dan tumbuh menjadi serangga dewasa.

Karena itu, Dinas Kesehatan terus mendorong kader kesehatan di tingkat gampong untuk melakukan survei jentik secara rutin. Program tersebut menjadi salah satu strategi utama dalam mendeteksi potensi penyebaran nyamuk sebelum berkembang menjadi kasus penyakit.

“Kami mengharuskan kader melakukan survei minimal seratus rumah setiap bulan di wilayah desa masing-masing,” ujar Darmansyah.

Data Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan tren kasus DBD di Banda Aceh dalam dua tahun terakhir cenderung menurun. Pada 2024 tercatat sebanyak 339 kasus. Angka itu turun menjadi 258 kasus pada 2025. Hingga April 2026, jumlah kasus yang tercatat sebanyak 35 kasus.

Meski demikian, Darmansyah menilai penurunan tersebut belum menjadi alasan untuk lengah. Perubahan cuaca dan tingginya intensitas hujan dapat memicu peningkatan populasi nyamuk dalam waktu singkat jika lingkungan tidak dikelola dengan baik.

Untuk mengantisipasi hal itu, Dinas Kesehatan kembali mengingatkan pentingnya penerapan Gerakan 3M Plus yang selama ini menjadi strategi nasional dalam pengendalian DBD.

Langkah pertama adalah menguras tempat penampungan air seperti bak mandi dan vas bunga secara rutin sedikitnya sekali dalam sepekan. Kedua, menutup rapat seluruh wadah penyimpanan air seperti drum, ember, dan tangki air. Ketiga, mendaur ulang atau menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan air.

Sementara unsur “Plus” meliputi penggunaan larvasida atau bubuk abate pada tempat penampungan air yang sulit dikuras, membersihkan saluran air yang tersumbat, memangkas semak-semak di sekitar rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar.

Selain pengendalian lingkungan, perlindungan diri juga menjadi bagian penting dalam pencegahan. Warga dianjurkan menggunakan losion antinyamuk, memasang kelambu terutama bagi bayi dan lansia, serta memasang kawat kasa pada ventilasi rumah.

Dinas Kesehatan juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal penyakit. Demam tinggi mendadak, nyeri sendi, sakit kepala hebat, maupun munculnya bintik merah pada kulit harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Di tengah musim hujan yang mulai meningkat, kebersihan lingkungan menjadi garis pertahanan pertama bagi masyarakat. Sebab, dalam perang melawan DBD, genangan air sekecil apa pun dapat menjadi titik awal munculnya ancaman yang lebih besar.

“Kewaspadaan harus dimulai dari rumah sendiri. Jika lingkungan bersih dan bebas jentik, risiko penularan penyakit dapat ditekan secara signifikan,” kata Darmansyah.
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Hujan Datang, Ancaman DBD Mengintai Banda Aceh
  • Hujan Datang, Ancaman DBD Mengintai Banda Aceh
  • Hujan Datang, Ancaman DBD Mengintai Banda Aceh
  • Hujan Datang, Ancaman DBD Mengintai Banda Aceh
  • Hujan Datang, Ancaman DBD Mengintai Banda Aceh
  • Hujan Datang, Ancaman DBD Mengintai Banda Aceh