Harga Pangan Jelang Idul Adha Dorong Inflasi Aceh, Tomat dan Cabai Merah Jadi Pemicu Utama
BANDA ACEH - Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, tekanan harga sejumlah kebutuhan pokok kembali terasa di pasar-pasar tradisional Aceh. Kenaikan harga komoditas pangan, terutama tomat dan cabai merah, menjadi faktor utama yang mendorong inflasi bulanan di provinsi paling barat Indonesia itu sepanjang Mei 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menunjukkan inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) pada Mei 2026 mencapai 0,60 persen. Sementara secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), inflasi Aceh tercatat sebesar 5,12 persen.
Kepala BPS Aceh Agus Andria mengatakan lonjakan harga menjelang tradisi meugang dan perayaan Idul Adha menjadi penyebab utama meningkatnya inflasi di berbagai daerah di Aceh.
“Permintaan masyarakat meningkat cukup tinggi menjelang meugang dan hari raya, sementara pasokan beberapa komoditas terbatas. Kondisi ini mendorong kenaikan harga di tingkat pasar,” kata Agus, Rabu, 3 Juni 2026.
Berdasarkan catatan BPS, tomat menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,30 persen. Disusul cabai merah sebesar 0,19 persen, bahan bakar rumah tangga 0,12 persen, minyak goreng 0,04 persen, serta nasi dengan lauk sebesar 0,03 persen.
Sebaliknya, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi. Daging ayam ras, ikan tongkol, ikan dencis, emas perhiasan, dan telur ayam ras tercatat menjadi penyumbang deflasi selama periode yang sama.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,96 persen dan memberikan kontribusi 0,37 persen terhadap inflasi bulanan Aceh.
Secara tahunan, kelompok tersebut juga menjadi motor utama inflasi dengan kenaikan mencapai 6,89 persen dan andil sebesar 2,59 persen terhadap inflasi Aceh.
Menurut Agus, tingginya angka inflasi tahunan tahun ini juga dipengaruhi oleh basis perbandingan yang rendah. Pada Mei 2025, Aceh mengalami deflasi sehingga pergerakan indeks harga konsumen tahun ini terlihat lebih tinggi.
“Perubahan IHK pada Mei 2025 relatif rendah karena terjadi deflasi. Itu membuat inflasi tahunan pada Mei 2026 terlihat cukup tinggi,” ujarnya.
BPS mencatat Aceh Tengah menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni 6,09 persen. Disusul Aceh Tamiang 5,69 persen, Banda Aceh 4,77 persen, Lhokseumawe 4,62 persen, dan Meulaboh 3,99 persen.
Untuk inflasi bulanan, Banda Aceh mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,93 persen. Meulaboh berada di posisi kedua dengan 0,64 persen, diikuti Aceh Tengah 0,61 persen, Aceh Tamiang 0,42 persen, dan Lhokseumawe 0,03 persen.
Di Banda Aceh, komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan harga antara lain tomat, cabai merah, bahan bakar rumah tangga, nasi dengan lauk, ikan cakalang, dan daging sapi.
Agus menilai meningkatnya konsumsi masyarakat selama momentum Idul Adha menjadi faktor yang tidak dapat dihindari. Tradisi memasak dalam jumlah besar, penyelenggaraan kenduri keluarga, hingga meningkatnya aktivitas perdagangan pangan membuat permintaan sejumlah komoditas melonjak dalam waktu bersamaan.
“Momentum Idul Adha memberikan pengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat. Permintaan terhadap daging sapi, cabai merah, tomat, dan bawang merah meningkat, sementara pasokan belum tentu bertambah dalam jumlah yang sama,” kata Agus.
Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas harga pangan di Aceh. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat koordinasi pengendalian inflasi melalui pemantauan stok, distribusi barang, dan intervensi pasar jika diperlukan.
Dengan Idul Adha yang tinggal menghitung hari, pasar-pasar tradisional di berbagai kabupaten dan kota di Aceh diperkirakan masih akan dipadati pembeli. Di tengah tingginya aktivitas perdagangan itu, kestabilan pasokan menjadi kunci agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
Baca Juga:

