Aceh Kembali ke PRJ Setelah Delapan Tahun, Usung Konsep Wisata dan Budaya Interaktif
JAKARTA – Setelah absen selama delapan tahun, Pemerintah Aceh kembali ambil bagian dalam Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, provinsi paling barat Indonesia itu menghadirkan booth bertajuk “Aceh Creative & Cultural Experience”, sebuah ruang promosi yang memadukan pariwisata, budaya, dan produk ekonomi kreatif dalam satu konsep yang lebih interaktif.
Keikutsertaan ini menjadi penampilan perdana Aceh di ajang tahunan tersebut sejak terakhir kali hadir pada 2018. Pemerintah daerah memanfaatkan momentum itu untuk memperkenalkan wajah Aceh yang lebih beragam kepada publik nasional, mulai dari kekayaan budaya, destinasi wisata, hingga produk-produk kreatif hasil karya pelaku usaha lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, mengatakan kehadiran kembali Aceh di salah satu pameran terbesar di Indonesia tersebut merupakan bagian dari strategi memperluas promosi daerah sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
“Melalui Aceh Creative & Cultural Experience, kita ingin memperlihatkan bahwa Aceh memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kuat dalam nilai dan filosofi. Ini adalah bagian dari diplomasi budaya dan promosi pariwisata Aceh,” kata Dedy, Kamis malam, 11 Juni 2026.
Booth Aceh yang dikembangkan bersama Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Aceh dirancang dengan pendekatan modern tanpa meninggalkan identitas budaya lokal. Konsep tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih dekat dan menarik bagi pengunjung yang datang ke arena pameran.
Berbagai tenant yang terlibat menampilkan ragam potensi unggulan Aceh, mulai dari promosi destinasi wisata, kuliner khas daerah, produk wastra, hingga kriya yang merepresentasikan kekayaan budaya Tanah Rencong.
Pengunjung tidak hanya diperkenalkan pada produk-produk unggulan, tetapi juga diajak mengenal lebih jauh bentang alam Aceh yang beragam. Mulai dari pesona laut dan wisata bahari di Sabang, kawasan pegunungan yang hijau, hingga kekayaan kuliner yang dikenal dengan racikan rempah-rempah khasnya.
Bagi pemerintah daerah, PRJ tidak semata menjadi arena promosi wisata. Lebih dari itu, ajang tersebut dinilai sebagai peluang strategis untuk memperluas jaringan pemasaran produk UMKM dan ekonomi kreatif Aceh yang selama ini terus berkembang.
Menurut Dedy, pelaku usaha dapat memanfaatkan pameran tersebut untuk membangun kemitraan baru, menjajaki peluang kerja sama bisnis, sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di pasar nasional.
“Ajang ini menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk menjalin kemitraan, memperluas jaringan bisnis, dan meningkatkan daya saing produk lokal,” ujarnya.
Pemerintah Aceh berharap partisipasi dalam PRJ 2026 mampu memberikan dampak yang lebih luas, baik terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan maupun masuknya investasi ke sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Di tengah persaingan promosi antar daerah yang semakin ketat, kehadiran Aceh di PRJ juga menjadi upaya memperkuat citra daerah sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang memiliki karakter khas dan berbeda dengan daerah lain di Indonesia.
Dedy menegaskan, promosi budaya dan pariwisata akan terus menjadi agenda penting pemerintah daerah. Berbagai event nasional maupun internasional akan dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkenalkan potensi Aceh kepada pasar yang lebih luas.
“Kami akan terus mendorong promosi budaya dan pariwisata Aceh secara berkelanjutan melalui berbagai ajang nasional maupun internasional,” kata Dedy.
Melalui kehadiran kembali di Pekan Raya Jakarta, Aceh tidak hanya membawa produk dan destinasi wisata, tetapi juga membawa narasi tentang identitas budaya yang tetap hidup di tengah modernisasi. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa kekayaan Tanah Rencong terus dikenal, dihargai, dan menjadi bagian dari percakapan nasional.
Baca Juga: