Sisa 83 Hari, Menteri PUPR Tekankan Percepatan Proyek Sekolah Rakyat Aceh 1 di Lhokseumawe
0 menit baca
LHOKSEUMAWE- Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menegaskan pentingnya percepatan pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 1 di Kota Lhokseumawe saat meninjau langsung progres proyek strategis tersebut, Selasa (5/5/2026). Peninjauan itu dilakukan sebagai langkah evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek yang kini memasuki fase krusial, dengan sisa waktu kontrak yang semakin terbatas.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Menteri PUPR memeriksa sejumlah titik pekerjaan utama guna memastikan progres konstruksi berjalan sesuai target, spesifikasi teknis, serta jadwal pelaksanaan yang telah ditetapkan. Selain meninjau kondisi lapangan, Menteri juga memimpin evaluasi teknis bersama unsur pelaksana proyek untuk mengidentifikasi perkembangan, tantangan, serta langkah percepatan yang harus segera diambil.
Berdasarkan laporan terakhir, progres fisik pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 1 telah mencapai 54 persen. Capaian tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan strategi percepatan pekerjaan, mengingat waktu pelaksanaan yang tersisa hanya sekitar 83 hari.
Proyek pembangunan fasilitas pendidikan ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT PP, WIKA KSO selaku pemenang tender, dengan nilai pagu anggaran sebesar Rp782.299.600.000. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pembangunan sarana pendidikan terpadu yang dirancang sebagai fasilitas belajar representatif, modern, dan berstandar tinggi bagi masyarakat Aceh, khususnya wilayah Lhokseumawe dan sekitarnya.
Dalam peninjauan itu turut hadir unsur Satuan Kerja (Satker), Direktorat Jenderal (Dirjen), serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap pengendalian, pengawasan, dan kelancaran pelaksanaan proyek di lapangan.
Sementara itu, pengawasan manajemen konstruksi dilakukan oleh konsultan KSO yang terdiri dari Elsadai Servo Cons, MC, dan Visiplan Konsultan. Keterlibatan konsultan pengawas ini dinilai krusial untuk memastikan seluruh tahapan pekerjaan tetap berjalan sesuai standar mutu, spesifikasi teknis, dan ketentuan kontrak yang berlaku.
Menteri PUPR menegaskan bahwa sisa waktu pelaksanaan proyek harus dimanfaatkan secara maksimal. Dengan tenggat kontrak yang disebut semakin dekat, seluruh unsur pelaksana diminta meningkatkan ritme kerja, memperkuat koordinasi lintas sektor, dan mempercepat penyelesaian setiap kendala teknis yang muncul di lapangan.
Ia menekankan bahwa percepatan pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pola kerja biasa. Diperlukan langkah konkret, disiplin pelaksanaan, serta pengambilan keputusan yang cepat dan terukur agar target penyelesaian proyek dapat tercapai sesuai jadwal.
“Waktu yang tersisa sangat terbatas. Seluruh pihak harus bekerja lebih terukur, lebih cepat, dan lebih solid. Setiap hambatan di lapangan harus segera diselesaikan agar progres tidak terhambat,” tegas Menteri PUPR saat memberikan arahan di lokasi proyek.
Meski percepatan menjadi prioritas utama, Menteri mengingatkan bahwa kualitas pekerjaan tetap menjadi prinsip yang tidak dapat ditawar. Ia menegaskan bahwa mutu konstruksi harus tetap dijaga secara ketat agar bangunan yang dihasilkan tidak hanya selesai tepat waktu, tetapi juga memiliki kualitas yang layak, aman, dan berkelanjutan.
“Percepatan harus dilakukan, tetapi kualitas tetap menjadi hal utama. Pekerjaan harus diselesaikan sesuai target kontrak dengan hasil yang baik, kuat, dan dapat dipertanggung jawabkan,” ujarnya.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi momentum percepatan sekaligus penguatan komitmen seluruh pihak yang terlibat dalam proyek. Dengan sinergi yang solid antara pemerintah, pelaksana, dan pengawas, pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 1 diyakini dapat diselesaikan tepat waktu dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 1 merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan yang layak dan berkualitas di daerah. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan, pemerataan layanan belajar, serta penguatan sumber daya manusia di Aceh pada masa mendatang.(Rel)
