Masjid Tuha Ulee Kareng, Jejak Islam Berusia Ratusan Tahun di Banda Aceh
Masjid Tuha Ulee Kareng mempertahankan tiang kayu dan ukiran kaligrafi lama, sekaligus menjadi situs cagar budaya di Banda Aceh.
THE ATJEH NET - Masjid Tuha Ulee Kareng di Desa Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, menyimpan jejak perkembangan Islam yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Masjid tua ini masih mempertahankan sejumlah bagian bangunan lama dan kini ditetapkan sebagai situs cagar budaya.
Masjid tersebut diperkirakan telah berdiri sejak akhir abad ke-18. Namun, tidak terdapat catatan pasti mengenai tahun pembangunannya. Sejarah setempat mengaitkan perkembangan masjid dengan kedatangan Habib Abdurrahman bin Habib Husein Al-Mahdali atau Habib Kuala Bak U dari Yaman pada 1826.
Bangunannya berbentuk persegi dengan atap limas bertingkat dua. Bentuk ini menjadi salah satu ciri arsitektur lama yang masih terlihat hingga kini.
Tiang Kayu dan Ukiran Kaligrafi
Bagian dalam masjid ditopang 16 tiang kayu. Tiang berbentuk segi delapan tersebut dihiasi ukiran kaligrafi, antara lain doa i'tikaf, qunut, dan dua kalimat syahadat.
Sebagian tiang dan galangan masih merupakan bagian asli bangunan. Namun, sejumlah kayu mulai mengalami pelapukan karena usia. Atap masjid telah mengalami perubahan dari anyaman rumbia menjadi seng.
Masjid ini juga tidak memiliki jendela seperti bangunan modern. Sirkulasi udara mengandalkan celah dan bilah kayu pada bagian dinding.
Di kompleks masjid terdapat makam sejumlah tokoh setempat, termasuk Teuku Meurah Lamgapang dan keluarganya. Teuku Meurah disebut sebagai Ulee Balang III Mukim Ulee Kareng.
Pengurus sekaligus Imam Masjid Tuha Ulee Kareng, Teungku Saifuddin, mengatakan masyarakat masih berupaya mempertahankan bentuk asli masjid.
“Tiang penyangga dan ukiran-ukirannya itu masih asli,” kata Saifuddin.
Masjid kini lebih banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan dan keagamaan. Pada sore hingga malam, bangunan ini menjadi tempat belajar Alquran bagi anak-anak. Pengajian ibu-ibu juga berlangsung setiap Jumat, selain kajian keagamaan mingguan dan bulanan.
Warga Ingin Keaslian Dipertahankan
Kondisi masjid yang berada di tengah permukiman membuat kapasitasnya terbatas. Salat berjamaah dalam jumlah besar kemudian lebih banyak dilakukan di Masjid Jami' Baitussalihin Ulee Kareng. Meski begitu, Masjid Tuha tetap terbuka bagi warga dan pengunjung yang ingin beribadah.
Rencana renovasi besar terhadap masjid sempat mendapat penolakan warga karena dikhawatirkan menghilangkan bentuk dan karakter bangunan lama.
“Warga ingin masjid ini biarlah seperti bentuk awalnya,” ujar Saifuddin.
Duta Wisata Aceh Besar, Inong Resa, menilai Masjid Tuha Ulee Kareng memiliki potensi sebagai destinasi wisata sejarah dan religi.
Menurut dia, daya tarik masjid bukan hanya pada usianya, tetapi juga pada arsitektur, ukiran kayu, makam tokoh, serta aktivitas keagamaan yang masih berlangsung.
“Masjid tua seperti ini memiliki cerita yang tidak bisa ditemukan di bangunan baru. Keaslian arsitektur dan sejarahnya justru menjadi kekuatan yang perlu dipertahankan,” kata Inong Resa.
Ia mengatakan pengembangan wisata sebaiknya tidak mengubah fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah. Informasi sejarah yang lebih mudah diakses pengunjung juga dapat membantu memperkenalkan masjid kepada wisatawan.
“Kalau ingin dikembangkan sebagai wisata religi, yang paling penting adalah menjaga keaslian, kebersihan, kenyamanan, dan memberikan informasi sejarah yang jelas kepada pengunjung,” ujarnya.
Masjid Tuha Ulee Kareng berada sekitar 6 kilometer dari pusat Banda Aceh. Dari Simpang Tujuh Ulee Kareng, pengunjung dapat menuju Jalan Masjid Tuha yang berada di belakang MIN Ulee Kareng.
Letaknya yang berada di kawasan permukiman membuat masjid ini mudah dijangkau. Namun, ruang parkir di sekitar bangunan relatif terbatas.
Bagi wisatawan yang tertarik pada sejarah Islam dan arsitektur masjid tua, Masjid Tuha Ulee Kareng menawarkan pengalaman berbeda: melihat langsung bangunan lama yang masih digunakan masyarakat, sekaligus menelusuri jejak sejarah Islam di salah satu kawasan tua Banda Aceh. [Adv]
Baca Juga: