BREAKING NEWS

Keserakahan Manusia dan Luka Panjang Bencana di Bireuen

Foto kesunyian bencana Alam

BIREUEN- Bencana yang terus berulang di Kabupaten Bireuen tidak lagi pantas disebut semata-mata sebagai musibah alam. Di balik banjir, longsor, kerusakan sungai, dan lumpuhnya aktivitas masyarakat, tersimpan satu persoalan besar yang selama ini seolah sengaja diabaikan: kerakusan manusia terhadap alam.

Setiap tahun rakyat dipaksa menyaksikan cerita yang sama. Hujan turun beberapa jam, sungai meluap, jalan terputus, rumah warga terendam, sawah rusak, dan masyarakat kecil kembali menjadi korban. Namun anehnya, setelah bencana berlalu, semuanya kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada evaluasi serius. Tidak ada langkah besar yang benar-benar menyentuh akar persoalan. Yang tersisa hanya janji, seremoni, foto bantuan, dan pidato penuh empati yang cepat hilang bersama surutnya air banjir.

Padahal publik tahu, bencana di Bireuen bukan lahir begitu saja dari langit. Alam sedang memberi peringatan keras akibat kerusakan yang terus dilakukan manusia secara sistematis dan tanpa kendali.

Hutan ditebang demi keuntungan sesaat. Kawasan resapan air dialihfungsikan tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Sungai dibiarkan dangkal dan menyempit akibat sedimentasi serta minimnya normalisasi. Gunung dikeruk, bebatuan diambil, dan pembangunan berjalan tanpa menghitung daya dukung lingkungan. Semua dilakukan atas nama investasi, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi.

Ironisnya, ketika alam kehilangan kemampuannya menahan air dan menjaga keseimbangan ekosistem, rakyat kecil yang pertama kali menerima akibatnya. Mereka kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan tidak sedikit kehilangan anggota keluarga. Sementara pihak-pihak yang menikmati keuntungan dari eksploitasi alam sering kali tetap aman di balik meja kekuasaan dan kepentingan bisnis.

Inilah wajah pembangunan yang kehilangan nurani.

Pemerintah daerah seharusnya tidak hanya hadir saat kamera menyorot lokasi bencana. Kehadiran negara tidak boleh berhenti pada penyerahan bantuan darurat atau kunjungan simbolik yang dipenuhi pencitraan politik. Rakyat membutuhkan kebijakan nyata, bukan sekadar empati sesaat.

Lebih menyakitkan lagi, di tengah penderitaan masyarakat, penguasa justru terlihat sibuk dengan agenda seremonial dan retorika pembangunan, seolah lupa bahwa keselamatan rakyat jauh lebih penting daripada panggung-panggung formalitas. Padahal anggaran infrastruktur dan penanganan bencana terus tersedia setiap tahun. Pertanyaannya, sejauh mana anggaran itu benar-benar menyentuh upaya mitigasi dan perlindungan lingkungan secara serius?

Jika pembangunan hanya dimaknai sebagai proyek fisik tanpa menjaga keseimbangan alam, maka yang sedang dibangun sesungguhnya bukan masa depan, melainkan jalan menuju bencana yang lebih besar.

Karena itu, pemerintah harus berhenti memandang bencana sebagai kejadian musiman. Penanganan harus dimulai dari akar persoalan. Penataan kawasan rawan bencana wajib dilakukan secara tegas. Rehabilitasi hutan tidak boleh sekadar menjadi program di atas kertas. Normalisasi sungai harus berjalan serius dan berkelanjutan. Aktivitas perusakan lingkungan, baik legal maupun ilegal, harus diawasi dan ditindak tanpa kompromi.

Namun persoalan ini juga tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat memiliki tanggung jawab moral yang sama besar. Kebiasaan membuang sampah ke sungai, membuka lahan tanpa memperhatikan dampak ekologis, hingga membiarkan eksploitasi alam berlangsung tanpa kontrol adalah bentuk kelalaian kolektif yang ikut mempercepat datangnya bencana.

Kita sering berbicara tentang kemajuan daerah, tetapi lupa bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal gedung megah dan proyek infrastruktur bernilai miliaran rupiah. Daerah yang benar-benar maju adalah daerah yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Sebab alam bukan warisan yang bebas dihabiskan demi kepentingan sesaat. Alam adalah titipan yang harus dijaga demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Bireuen hari ini sedang menerima pelajaran yang sangat mahal. Dan jika keserakahan terhadap alam terus dipelihara, maka banjir, longsor, dan berbagai bencana lainnya bukan lagi ancaman, melainkan kepastian yang akan terus diwariskan dari tahun ke tahun.

Sudah saatnya semua pihak berhenti saling menyalahkan dan mulai membangun kesadaran bersama bahwa kerusakan lingkungan adalah musuh bersama. Mencegah bencana jauh lebih bermartabat daripada sibuk menghitung korban setiap kali musibah datang.

Pada akhirnya, masyarakat hanya berharap satu hal sederhana: pembangunan yang tidak mengorbankan keselamatan rakyat, tidak merusak alam, dan tidak meninggalkan penderitaan panjang bagi anak cucu di masa depan. (Penulis M. Sulaiman)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image