Empat Geuchik di Baktiya, Lomba dengan Waktu Pascabanjir
0 menit baca

ACEH UTARA - Air sudah surut, tapi urusan belum selesai. Di Kecamatan Baktiya, kerja-kerja administratif justru memasuki fase krusial: memastikan siapa yang berhak menerima bantuan, dan siapa yang tertinggal dalam daftar.
Empat gampong—Gampong Alue Dama, Gampong Tanjung Glumpang, Gampong Cot Ara, dan Gampong Matang Pinung—muncul sebagai yang tercepat. Para geuchik di desa-desa itu dinilai sigap merampungkan pendataan korban banjir, memverifikasi berkas, dan memastikan warganya masuk dalam daftar penerima bantuan Jaminan Hidup (Jadup) tahap kedua.
Kecepatan, dalam konteks ini, bukan sekadar soal administrasi. Ia berhubungan langsung dengan dapur yang harus kembali mengepul.
Camat Baktiya, Baktiar, melihat kerja aparatur desa sebagai faktor penentu. “Mereka bergerak cepat dan tepat,” ujarnya, Senin, 20 April 2026. Empat desa itu, kata dia, termasuk yang paling awal menuntaskan pengajuan dan verifikasi data di tingkat kecamatan.
Namun, kecepatan itu tak berdiri sendiri. Di baliknya ada koordinasi yang rapi antara perangkat desa, kecamatan, hingga warga yang bersedia memberikan data secara terbuka. Dalam situasi pascabencana, akurasi data kerap menjadi persoalan klasik, tergesa di satu sisi, rawan keliru di sisi lain.
Kali ini, setidaknya untuk empat desa tersebut, persoalan itu berhasil ditekan. Tokoh masyarakat setempat menilai kerja para geuchik layak menjadi contoh, terutama dalam kondisi darurat yang menuntut keputusan cepat tanpa mengorbankan ketepatan.
Bagi warga, hasilnya terasa konkret. Nama mereka tercantum dalam daftar penerima bantuan. Hak yang kerap terasa jauh, kali ini lebih dekat untuk dijangkau.
Di tingkat kabupaten, sekitar 50 desa di Kabupaten Aceh Utara masuk dalam skema penerima Jadup tahap kedua. Empat desa di Baktiya itu termasuk yang dinyatakan siap. Jika tak ada hambatan, pencairan dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 21 April 2026.
Namun, seperti banyak cerita bantuan pascabencana, ujian sebenarnya bukan pada penyaluran pertama. Ia terletak pada konsistensi, apakah ketepatan dan transparansi bisa dipertahankan saat perhatian mulai berkurang.
Di Baktiya, harapan itu kini bertumpu pada pola kerja yang telah ditunjukkan. Bahwa di tengah situasi sulit, birokrasi bisa bergerak cepat tanpa kehilangan akurasi. Sebuah hal yang, dalam banyak kasus, justru langka.
