BREAKING NEWS

Warga Gandapura Pertanyakan Lampu Jalan Terowongan Gelap Gulita, Maut Mengintai Pelintas

BIREUEN- Warga Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen, mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menjamin keselamatan pengguna jalan. Pasalnya, lampu penerangan jalan di kawasan terowongan kembar hingga kini masih padam dan membiarkan jalur tersebut tenggelam dalam gelap gulita.

Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya bagi pengendara yang melintas, terutama pada malam hari. Selain rawan kecelakaan, kawasan itu juga disebut berpotensi menjadi lokasi tindak kriminal.

Lampu penerangan jalan yang berada di sepanjang jalur mulai dari Desa Paya Rangkuluh, tepatnya Simpang Pulo Awe, hingga kawasan terowongan kereta api di Desa Cot Tunong, Kecamatan Gandapura, dilaporkan tidak lagi berfungsi sejak bencana banjir bandang melanda wilayah tersebut.
Ironisnya, hingga Jumat malam (6/3/2026), lampu tersebut belum juga diperbaiki atau dihidupkan kembali oleh pihak terkait.

Salah seorang warga Desa Cot Tunong, Muzakir yang akrab disapa Yahcut, mengatakan kondisi gelap di kawasan terowongan itu sudah berlangsung lama tanpa adanya langkah nyata dari pemerintah.

"Lampu jalan dari Simpang Pulo Awe sampai ke terowongan kereta api Desa Cot Tunong sudah lama padam sejak banjir bandang. Sampai sekarang belum pernah dihidupkan lagi," ujar Yahcut kepada wartawan.

Menurutnya, situasi gelap total di kawasan itu sangat membahayakan masyarakat yang melintas setiap malam. Bahkan, kata dia, beberapa kejadian kecelakaan lalu lintas dan aksi penjambretan pernah terjadi di lokasi tersebut.

"Kalau malam hari benar-benar gelap. Pengendara sangat sulit melihat kondisi jalan. Ini sangat berbahaya, apalagi sudah pernah terjadi kecelakaan dan penjambretan di kawasan terowongan itu," ungkapnya.

Ia menilai, jika kondisi tersebut terus dibiarkan tanpa penanganan, bukan tidak mungkin akan memakan korban berikutnya.

"Ini bukan sekadar soal lampu mati. Ini soal keselamatan masyarakat. Bisa dibilang maut sedang mengintai para pelintas jalan setiap malam," tegas Yahcut.

Yahcut mengaku persoalan tersebut sebenarnya sudah berulang kali disampaikan kepada Dinas Perhubungan Kabupaten Bireuen. Bahkan laporan itu sudah dilakukan sejak masa kepemimpinan Kepala Dinas Perhubungan sebelumnya.

"Dulu pernah saya sampaikan saat Pak Murdani masih menjabat Kepala Dishub Bireuen. Waktu itu lampu penerangan jalan sangat lancar hidupnya. Namun setelah pergantian kepala dinas, lampu itu sampai sekarang tidak pernah dihidupkan lagi," katanya.

Ia juga mengaku sempat kembali berkoordinasi ketika Bob Mizwar menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan Bireuen. Namun hingga pejabat tersebut berpindah tugas ke tingkat Provinsi Aceh, kondisi lampu di kawasan terowongan tersebut tetap tidak berubah.

"Sudah beberapa kali kami sampaikan, bahkan sampai pergantian kepala dinas. Tapi sampai sekarang tidak ada tindakan. Padahal ini menyangkut keselamatan masyarakat," ujarnya.
Masyarakat Gandapura berharap pemerintah daerah tidak lagi menutup mata terhadap persoalan tersebut. Mereka mendesak Dinas Perhubungan Kabupaten Bireuen maupun Dinas Perhubungan Provinsi Aceh segera turun tangan memperbaiki dan menghidupkan kembali lampu penerangan di kawasan terowongan tersebut.

Warga menilai, pembiaran kondisi jalan yang gelap dalam waktu lama merupakan bentuk kelalaian yang berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

"Jangan tunggu ada korban jiwa dulu baru diperbaiki. Ini jalan utama yang setiap hari dilalui masyarakat," tutup Yahcut.

Hingga berita ini ditayangkan, wartawan masih berupaya mengonfirmasi pihak Dinas Perhubungan terkait penyebab padamnya lampu penerangan jalan di kawasan Trowongan tersebut.(MS)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image