BREAKING NEWS

Premanisme Tembus Markas Polisi, JASA Bireuen: Negara Dipermalukan di Rumahnya Sendiri!

BIREUEN- Sebuah insiden pengeroyokan brutal yang terjadi di lingkungan Polda Metro Jaya memantik kemarahan publik. Peristiwa ini tak hanya dinilai sebagai tindak kriminal biasa, tetapi juga sebagai simbol runtuhnya wibawa hukum di jantung institusi penegak hukum itu sendiri.

Ketua Jaringan Aneuk Syuhada (JASA) Kabupaten Bireuen, Tgk Muliadi, melontarkan kecaman keras. Ia menyebut insiden tersebut sebagai bentuk nyata keberanian premanisme yang kini tak lagi mengenal batas—bahkan berani masuk dan beraksi di dalam markas kepolisian.

"Ini bukan sekadar kejahatan jalanan. Ini adalah penghinaan terbuka terhadap negara dan hukum. Ketika premanisme bisa menembus markas polisi, maka yang runtuh bukan hanya keamanan, tapi juga marwah negara," tegasnya dengan nada tinggi.

Menurut Tgk Muliadi, peristiwa ini mengindikasikan adanya kegagalan serius dalam sistem pengamanan internal kepolisian. Ia mempertanyakan bagaimana aksi kekerasan bisa terjadi di ruang yang seharusnya paling steril dari ancaman kriminal.

Lebih jauh, ia menyoroti dugaan pembiaran oleh aparat yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung. "Jika aparat benar-benar hanya menjadi penonton, ini adalah pelanggaran berat. Negara tidak boleh tunduk pada kelompok yang mengandalkan kekerasan. Ini alarm keras bagi penegakan hukum kita," ujarnya.

JASA Bireuen mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk tidak menutup-nutupi kasus ini. Mereka menuntut tindakan tegas, transparan, dan tanpa kompromi terhadap seluruh pelaku, termasuk jika terdapat keterlibatan oknum aparat atau pejabat.

"Hukum tidak boleh tebang pilih. Siapa pun yang terlibat harus diproses. Tidak ada ruang bagi impunitas di negeri ini," kata Tgk Muliadi.

Ia juga menyerukan evaluasi total terhadap sistem keamanan dan kinerja aparat, khususnya di lingkungan internal kepolisian. Menurutnya, kejadian ini telah mencoreng citra hukum Indonesia di mata publik dan memperdalam krisis kepercayaan masyarakat.

"Jika markas polisi saja bisa ditembus premanisme, maka ini bukan lagi sekadar insiden, ini sinyal bahaya bagi negara. Kepercayaan publik sedang di ujung tanduk. Negara harus hadir dengan tindakan nyata, bukan sekadar retorika," pungkasnya.(Red)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image