DT Peduli dan Pemkab Bireuen Bangun 45 Huntap untuk Penyintas Banjir di Jangka
0 menit baca
BIREUEN- Upaya pemulihan pascabencana banjir bandang di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, mulai memasuki tahap konkret. Daarut Tauhid Peduli bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen resmi membangun 45 unit Hunian Tetap (Huntap) bagi warga penyintas di Desa Alue Kuta dan Desa Kuala Ceurape.
Komitmen bersama tersebut ditandatangani di Pendopo Bupati Bireuen, Kamis (19/2/2026), oleh Bupati Bireuen, Ketua Yayasan DT Peduli Ir. M. Bascharul Ashana, M.BA, serta perwakilan masyarakat, Dedi Hermanto. Penandatanganan ini menjadi tonggak dimulainya pembangunan kawasan huntap berbasis kolaborasi dan gotong royong.
Skema Pembangunan Dua Tahap
Dalam kesepakatan tersebut, DT Peduli akan membangun 45 unit rumah tipe 36 yang diperuntukkan bagi penerima manfaat yang telah diverifikasi dan disahkan oleh Pemkab Bireuen. Setiap unit akan dilengkapi instalasi listrik, kamar mandi, serta sistem sanitasi internal yang layak.
Pembangunan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama sebanyak 25 unit, disusul tahap kedua sebanyak 20 unit. Skema ini dirancang agar proses konstruksi berjalan efektif sekaligus memastikan kualitas bangunan tetap terjaga.
Ketua Yayasan DT Peduli, Ir. M. Bascharul Ashana, menyebut program ini sebagai bagian dari komitmen lembaganya dalam menghadirkan solusi jangka panjang bagi korban bencana.
"Hunian tetap bukan sekadar membangun rumah, tetapi membangun kembali harapan dan kemandirian masyarakat," ujarnya.
Peran Pemkab: Infrastruktur dan Legalitas
Sementara itu, Pemkab Bireuen bertanggung jawab menyiapkan infrastruktur pendukung kawasan. Tanggung jawab tersebut meliputi pematangan lahan (land clearing), pembangunan jalan lingkungan dan akses masuk, sistem drainase, penyediaan jaringan listrik rumah, Penerangan Jalan Umum (PJU), hingga pengurusan Sertifikat Hak Milik (SHM) bagi warga penerima.
Langkah ini dinilai krusial agar kawasan huntap tidak hanya layak huni, tetapi juga memiliki kepastian hukum dan akses infrastruktur yang memadai.
Bupati Bireuen dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, lembaga filantropi, dan masyarakat menjadi kunci percepatan pemulihan pascabencana.
"Kami berkomitmen penuh memastikan seluruh infrastruktur pendukung dapat diselesaikan tepat waktu. Kawasan ini harus menjadi hunian yang sehat, aman, dan memiliki legalitas yang jelas bagi masyarakat," tegasnya.
Lahan Swadaya dan Partisipasi Warga
Masyarakat Desa Alue Kuta dan Kuala Ceurape turut berkontribusi dengan menyediakan lahan seluas 6.567 meter persegi. Pembangunan rumah juga akan dikerjakan secara swadaya oleh para penerima manfaat dengan pendampingan teknis, sehingga mendorong rasa memiliki serta memperkuat solidaritas sosial di antara warga.
Pendekatan partisipatif ini diharapkan mampu mempercepat adaptasi sosial dan pemulihan psikologis warga yang sebelumnya tinggal di tenda darurat atau hunian sementara.
Harapan Pemulihan Berkelanjutan
Program pembangunan huntap ini diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga menjadi fondasi pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat terdampak banjir bandang.
Dengan hadirnya hunian permanen yang lebih tangguh terhadap risiko bencana, warga dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih stabil dan produktif.
Pembangunan kawasan huntap ini menjadi contoh nyata kolaborasi multipihak dalam penanganan pascabencana di Kabupaten Bireuen, sekaligus menandai babak baru kebangkitan masyarakat di Kecamatan Jangka.(Red)