BREAKING NEWS

Andai Ada Huntara, Korban Banjir Bireuen Tak Perlu Hidup di Tenda Darurat

BIREUEN- Ratusan korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen, Aceh, hingga kini masih bertahan di tenda-tenda darurat. Di tengah bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, mereka menjalani sahur dan berbuka dalam kondisi serba terbatas, tanpa kepastian kapan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap) yang dijanjikan pemerintah akan benar-benar terwujud.

Hingga Kamis (19/2/2026), para pengungsi mengaku belum melihat langkah konkret pembangunan huntara. Sementara itu, huntap yang sebelumnya dijanjikan Pemerintah Kabupaten Bireuen juga belum menunjukkan progres signifikan.

"Kami belum punya tanah lagi. Rumah dan tanah kami hilang ditelan arus sungai saat banjir dan longsor 26 November 2025 lalu. Kalau ada huntara, kami tidak perlu berbulan-bulan tinggal di bawah tenda seperti ini," ujar seorang pengungsi di Kecamatan Juli.

Sebaran Pengungsi di Tujuh Kecamatan

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, pengungsi tersebar di 28 desa pada tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Kutablang, Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, Jangka, Juli, dan Jeumpa.
Salah satu titik pengungsian terbesar berada di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli. Sebanyak 43 Kepala Keluarga (KK) dengan ratusan jiwa masih bertahan di tenda darurat yang berdiri di lintas nasional Bireuen-Takengon Km 9.

Mayoritas penghuni tenda adalah anak-anak, perempuan, dan lanjut usia. Saat hujan turun, air kerap masuk ke dalam tenda. Ketika cuaca panas, suasana di dalam tenda menjadi pengap dan menyengat. Tumpukan tas berisi pakaian, kardus perlengkapan rumah tangga, kompor, hingga ember dan timba berserakan di ruang sempit yang mereka sebut "rumah".

Para korban yang kehilangan rumah akibat banjir bandang akhir November 2025 itu kini hidup dalam ketidakpastian. Sejumlah warga bahkan memperkirakan mereka bisa bertahan di tenda hingga setahun lebih jika tidak ada langkah cepat dari pemerintah.

Tiga Huntap Belum Bisa Dihuni

Ironisnya, di Desa Balee Panah sudah berdiri tiga unit rumah percontohan huntap. Namun hingga kini, rumah tersebut belum dapat ditempati. Belum tersedianya sumber air bersih dan belum tersambungnya jaringan listrik menjadi alasan utama.

Warga menduga tiga unit tersebut hanya sebatas proyek percontohan. "Katanya ini tahap awal, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda pembangunan huntap lain. Padahal sebelumnya dijanjikan 1.000 unit huntap tahap pertama untuk Bireuen," kata warga setempat.

Janji pembangunan 1.000 unit huntap sempat menjadi angin segar bagi para korban bencana. Namun tanpa kejelasan jadwal dan tahapan pembangunan, harapan itu kini berubah menjadi tanda tanya besar.

Huntara Mendesak, Bukan Sekadar Janji

Sejumlah warga menilai, di tengah proses panjang pembangunan huntap, seharusnya pemerintah lebih dahulu membangun huntara agar para pengungsi tidak terlalu lama hidup di tenda darurat.

"Tidak mungkin huntap selesai dalam waktu singkat. Yang kami butuhkan sekarang hunian sementara yang layak. Jangan biarkan masyarakat berbulan-bulan menderita di tenda," ujar warga lainnya.

Apalagi, dalam kondisi musim hujan dan Ramadhan, para pengungsi harus menjalani ibadah puasa dalam keterbatasan. Mereka berharap Pemkab Bireuen segera mengambil langkah nyata, bukan sekadar menyampaikan janji.

Hingga berita ini diturunkan, para korban banjir dan tanah longsor di Bireuen masih bertahan di bawah tenda, menanti kepastian hunian yang lebih manusiawi.(Red)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image