Jembatan Dibuka, Ribuan Kendaraan Lintas Provinsi Picu Polusi Debu
0 menit baca
PIDIE JAYA — Belum genap seminggu warga Desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, keluar dari kepungan lumpur akibat banjir, derita lain kembali menyambut mereka. Sejak jembatan penghubung Simpang Tiga–Meunasah Bie dibuka kembali pada Jumat, 12 Desember 2025, permukiman warga langsung diselimuti kabut debu dari ribuan kendaraan yang melintas di jalur utama lintas provinsi tersebut.
Dari pantauan kontributor, perubahan terjadi begitu cepat. Sisa lumpur yang sebelumnya menggenangi jalan kini mengering, berubah menjadi debu pekat yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Motor dan mobil yang hilir-mudik sejak pagi menciptakan pemandangan seperti badai pasir kecil di tengah desa.
"Dua pekan kemarin kami mandi lumpur, hidup dalam gelap karena listrik padam. Hari ini malah mandi debu," ujar Samidhan (43), warga Meunasah Bie, ketika ditemui di depan rumahnya. Ia menunjuk ke arah jalan yang tampak seperti diselimuti asap tipis. "Sejak jembatan dibuka, sejak itu pula kami menghirup debu. Derita kami bukan berkurang, tapi bertambah."
Warga mengaku tak bisa lagi membuka jendela rumah. Pakaian yang dijemur harus dipindahkan ke dalam. Anak-anak terpaksa bermain di ruang tamu. Debu yang terus menerus naik ke udara membuat kondisi desa tak jauh berbeda dari kawasan industri kering.
Bagi mereka, pembukaan jembatan memang penting untuk mobilitas. Namun tanpa penanganan lanjutan dari pemerintah, warga adalah pihak pertama yang menanggung risikonya.
"Kami hanya minta satu saja, bang," lanjut Samidhan. "Tempatkan satu mobil tangki untuk menyiram jalan ini, supaya debunya tidak setebal ini. Itu saja harapan kami."
Hingga laporan ini disusun, belum terlihat adanya penyiraman jalan atau langkah mitigasi lain dari pihak terkait. Sementara aktivitas kendaraan terus meningkat, seiring jalur tersebut menjadi satu-satunya akses utama pascabanjir.
Bagi warga Meunasah Bie, bencana seakan datang bergelombang. Usai lumpur dan mati lampu, kini polusi debu menjadi ujian berikutnya. [Kh]
