Tuih: Stop Pencitraan! Rakyat Bireuen Bosan dengan Janji Kosong Bupati
0 menit baca
BIREUEN- Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bireuen di bawah kendali Bupati H. Mukhlis dan Wakil Bupati Razuardi kini kian disorot publik. Janji-janji kampanye yang dulu dielu-elukan, kini dinilai hanya menjadi hiasan pidato politik tanpa bukti nyata.
Kritik paling keras datang dari Iskandar alias Tuih, aktivis sosial dan pemerhati kebijakan publik, yang menyebut pemerintahan Mukhlis-Razuardi tersesat dalam labirin pencitraan tanpa arah dan kehilangan ruh kepemimpinan.
"Sudah hampir setahun mereka berkuasa, tapi yang rakyat lihat bukan perubahan, melainkan pertunjukan. Janji besar hanya tinggal kata-kata indah di baliho, sementara realitas di lapangan getir dan gelap," tegas Tuih kepada wartawan, Jumat (7/11/2025).
Lima Janji Rakyat yang Kini Jadi Luka
Tuih mengurai secara lugas lima janji politik Mukhlis-Razuardi yang menurutnya kini telah menjadi "bukti kegagalan moral dan visi kepemimpinan."
1. Janji Peningkatan Ekonomi-Gagal Total
Menurutnya, ekonomi Bireuen kini mati suri. Tidak ada program nyata yang menggairahkan sektor riil.
"Rakyat makin tercekik. Pasar sepi, harga hasil tani tak berpihak, dan program pemberdayaan rakyat kecil hanya berhenti di ruang rapat. Ini bukan pembangunan ekonomi, tapi pembiaran kemiskinan!" ujarnya dengan nada geram.
Ia menegaskan bahwa ukuran kesejahteraan bukan laporan angka, tapi "isi perut rakyat yang kosong dan harapan yang semakin padam."
2. Janji Pembangunan Infrastruktur,- Hanya Retorika
Tuih menilai wajah Kabupaten Bireuen tak berubah sedikit pun. Jalan rusak tetap terbengkalai, drainase tersumbat, dan proyek strategis tidak jelas arah.
"Pemerintah seakan buta terhadap penderitaan rakyat. Lemah melobi ke pusat, tak punya prioritas pembangunan. Bireuen stagnan-macet di titik nol!" sindirnya tajam.
3. Janji Masyarakat Islami-Tergadai di Panggung Hiburan
Kritik paling pedas dilontarkan terhadap pelaksanaan HUT ke-26 Kabupaten Bireuen yang justru diwarnai konser musik campur-baur antara laki-laki dan perempuan.
"Ini penghinaan terhadap nilai-nilai syariat! Tahun-tahun lalu MPU dan Dinas Syariat Islam sudah melarang acara serupa. Tapi kini malah difasilitasi pemerintah. Di mana komitmen moral dan visi keislaman itu?" kecam Tuih.
Ia menilai pemerintah telah mengorbankan citra daerah syariat demi kepuasan sesaat dan sorotan kamera.
4. Janji Pemerintahan Bersih dan Berintegritas, Terkapar di Nepotisme
Tuih menuding roda pemerintahan saat ini terkontaminasi oleh nepotisme dan politik balas jasa.
"Ketika jabatan diberikan karena hubungan keluarga, bukan kompetensi, itu bukan reformasi birokrasi-itu pengkhianatan terhadap rakyat!" tegasnya.
Ia mengingatkan kembali peringatan Wakil Ketua DPRK Bireuen, Surya Dharma, SH, yang menolak pelantikan pejabat karena faktor hubungan keluarga.
"Kalau DPRK saja sudah mencium bau busuk dinasti kekuasaan, rakyat tidak perlu lagi pura-pura percaya," katanya tajam.
5. Janji 'Mobil Dinas Jadi Rumah Rakyat' Cuma Gimmick Politik
Janji fenomenal Bupati untuk mengalih kan dana mobil dinas menjadi rumah bagi rakyat miskin ternyata, kata Tuih, hanya omong kosong populis tanpa realisasi.
"Cek saja APBK Perubahan, tak ada satu rupiah pun untuk rumah rakyat. Janji itu hanya ilusi politik untuk memancing simpati. Ini bukan kepemimpinan, tapi sandiwara pencitraan!" serunya.
Dana HUT Bireuen: 'Gelap dan Sarat Tanda Tanya'
Tuih juga menuntut transparansi penuh terkait penggunaan dana HUT ke-26 Kabupaten Bireuen, baik yang bersumber dari APBK maupun dari sumbangan pihak ketiga.
"Dana publik bukan uang pribadi pejabat. Semua harus dibuka: berapa anggaran, siapa penyumbang, untuk apa dipakai. Jangan ada sepeser pun yang gelap!" desaknya.
Menurutnya, perayaan HUT itu lebih mirip panggung pencitraan elite ketimbang momentum membangkitkan semangat rakyat.
"Yang ditampilkan musik dan pesta, bukan capaian pembangunan. Rakyat disuguhi panggung, tapi tidak diberi harapan," katanya getir.
"Bangkitlah Rakyat Bireuen!"
Menutup pernyataannya, Tuih menyerukan agar rakyat Bireuen tidak lagi tunduk pada manipulasi pencitraan dan propaganda kekuasaan.
"Cukup sudah! Rakyat Bireuen jangan terus dibuai baliho, slogan, dan senyum palsu. Bireuen tidak butuh panggung hiburan, yang dibutuhkan adalah moralitas, kerja nyata, dan keberpihakan," pekiknya lantang.
Ia juga menggugah kesadaran publik agar kembali kritis terhadap penguasa:
"Bangkitlah, wahai singa-singa parlemen jalanan! Tagih janji pemimpinmu, lawan kebohongan, dan tolak pencitraan murahan yang mengkhianati nurani rakyat!"
Pernyataan ini merupakan kritik terbuka dari aktivis sosial terhadap Pemerintahan Kabupaten Bireuen.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemkab Bireuen belum memberikan tanggapan resmi atas kritik tajam yang disampaikan Iskandar alias Tuih.(Rel)