Hebat: Desa Samuti Aman Berhasil Menurunkan Angka Stunting 17/% Dari Tahun Sebelumnya

author photoM. Sulaiman
9 Nov 2021 - 00:25 WIB

BIREUEN- Mari kita lihat hasil penguku ran, peningkatan stunting di tahun 2020 (36%), disebabkan jumlah inputan di aplikasi eppbm meningkat 85% dari tahun sebelumnya. Sehingga permasalah gizi dapat tergambar dengan lebih luas, suatu menjadi masalah besar di lingkungan Masyarakat Desa Samuti Aman Kecamatan Gandapura.


Namun dari grafik yang telah tergambar jelas, sehingga terjadi penurunan Angka Stunting menjadi (17%) di tahun 2021 sangat tajam, berkat upaya yang dilakukan oleh Desa Samuti Aman Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireuen melalui pemberian PMT Me bu gateng di desa tersebut.


Adapun. Kecamatan Gandapura terdaftar 40 Desa, sementara Desa Samuti Aman terletak di penghujung barat, bersebela han dengan Desa Mon keulayu, namun Desa Samuti Aman yang merupakan wilayah kerja puskesmas Mon keulayu Kecamatan Gandapura dibawah naungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen.


Hal ini dikatakan Keuchik Desa Samuti Aman Kecamatan Gandapura. Mulyadi, senin 8 November 2021 Malam, kepada TheAtjehNet. Menyebutkan, Gambaran Wilayah Desa Samuti Aman salah satu desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Mon Keulayu yang terdiri dari 4 dusun Dengan jumlah penduduk 975 jiwa, 243 KK, terdapat sejumlah bayi dan balita 83 orang dan jumlah ibu hamil 23 orang pertahun.

Sementara perkembangan sebaran Pravalensi Stunting. Dari grafik di atas, Desa Samuti Aman terjadi peningkatan angka stunting di tahun 2020 (36%) peningkatan angka tersebut terjadi karenakan jumlah inputan di aplikasi eppbm meningkat 85% dari tahun sebelumnya.


Sehingga permasalahan gizi dapat tergambar dengan lebih luas. dari grafik tersebut juga dapat di lihat terjadi penurunan angkat stunting menjadi (17%) di tahun 2021 sangat cepat, ini semua berkat upaya yang di lakukan Desa Samuti Aman melalui pemberian PMT Me bu gateng di desa setempat" Sebut Keuchik Mulyadi.


Lanjutnya. Namun masih banyak upaya yang perlu dilakukan untuk meningkat kan penurunan prevalensi stunting max di angkat 14% sesuai RPJMN.


Berdasarkan table Faktor Determinan di atas dapat terlihat ada 1 balita stunting yang tidak memiliki jamban sehat dan 1 balita tidak memiliki JKN, untuk perilaku merokok masih sangat tinggi serta masih kurangnya kesadaran imunisasi. Terlepas dari hal tersebut, sebutnya.


Sehingga Pengetahuan ibu tentang Asi ekslusif juga selalu di berikan oleh tenaga kesehatan di posyandu maupun  saat di kunjungi ke rumah, tetapi angka pemberian Asi Eksklusif sangat rendah karena masih banyak ibu masih menganggab bahwa pemberian Asi saja tidak cukup sehinga bayi diberikan makanan pendamping Asi 0-6 bulan.


"Sedangkan faktor ekonomi juga salah satu penyebab terjadinya stunting bagi balita, dikarenakan kurangnya pendapatan dalam keluarga sehingga dapat menyebabkan orang tuanya kurang maksimal dalam memenuhi gizi bagi anak, dimana mayoritas orang tua balita di Samuti Aman terdapat menjadi buruh tani, dan buruh tambak," Ungkap Keuchik Samuti Aman Mulyadi.(MS)
KOMENTAR