Daya Beli Turun, Pengembang Resah

author photoRedaksi
13 Okt 2019 - 14:40 WIB

BANDA ACEH - Kebijakan dan aturan terus dikeluarkan pemerintah pusat khususnya untuk perumahan bersubsidi bersumber dari dana anggaran belanja Negara, mulai dari harusnya ada SLF (sertifikat Laik Fungsi) dari pihak dinas terkait sampai ada permen tentang PPJB diatur dan juga adanya peraturan menteri ATR tentang pertimbangan teknis pengguna lahan diatas 1 Ha dengan biaya cukup besar yang harus pengembang keluarkan termasuk biaya pecah sertifikat sudah lama dan mahal.

Pengembang (developer) yang tergabung dibawah asosiasi Apersi terus mengeluh tentang waktu proses dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi pembangunan rumah bersubsidi apalagi kondisdi sekarang kouta saja sudah tidak jelas ketersediaannya sehingga sangat menganggu keuangan para pengembang. 

Padahal Bapak Presiden telah mengeluarkan statemen untuk menambah kouta rumah kepada menteri Pupera sebanyak 20.000 unit sampai dengan 30.000 unit rumah dengan anggaran 2 triliun tetapi belum kunjung tersedia.
 
Ketua Apersi Aceh, Afwal Winardy menyampaikan, terima kasih kepada dewan pengurus pusat Apersi terus memperjuangkan aspirasi para pengembang agar kouta rumah bisa tersedia, sebenarnya pemerintah juga memberikan beberapa solusi untuk masyarakat bisa memiliki rumah dengan skema BP2BT berbasis tabungan tapi belum popular dimasyarakat karena ini barang baru untuk itu Apersi Aceh dalam waktu dekat akan melaksanakan sosialisasi terhadap skema tersebut akan dilaksanakan oleh Korwil Apersi kota Langsa bersama pemerintah kota, kementerian Pupera dan perbankkan supaya para pengembang tidak resah dengan konsidi sekarang ini. 

"Jumlah pengembang Apersi Aceh diseluruh aceh 148 perusahaan hanya 108 perusahaan aktif membangun rumah ini dan hamper 40% ada dikorwil kota langsa meliputi wilayah kota langsa, Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Idi," ujarnya kepada Media Online Banda Aceh, Jum'at (11 Oktober 2019).

Afwal berharap, kepada seluruh pengembang Apersi saat untuk bisa berkolaborasi Karena tantangan bisnis saat ini luar biasa berat, karena dengan berkolaborasi sesama pengembang membuat bisnis efisien jadi tidak saling mengkanibal proyek lain dan sinergi dengan stakeholder akan meningkatkan percepatan perputaran cashflow pembangunan perumahannya dan Afwal Winardy mengharapkan kepada masyarakat Aceh untuk segera membeli rumah dengan skema berbagai kemudahan dan menanyakan juga kepada developer atau pengembang nama perusahaan dan konsumen dapat melihat apa terdaftar atau tidak dikementerian melalui Sireng (system informasi pengembang) melalui website esmi milik kementerian Pupera. (Ulan)
KOMENTAR