Mewujudkan Aceh Carong, Disdik Aceh Gelar ToT Kurikulum Eduteknopreneur Islami

author photoRedaksi
17 Jun 2019 - 20:32 WIB

BANDA ACEH – Dinas Pendidikan Aceh menggelar Training of Trainer (ToT) SMK Kurikulum Eduteknopreneur Islami. Kegiatan yang diikuti oleh 50 peserta yang merupakan pengembang kurikulum itu dibuka Kepala Dinas Pendidikan Aceh Syaridin di Banda Aceh, Senin (17/06/2019).

Kurikulum tersebut sebagai upaya Dinas Pendidikan Aceh mewujudkan visi Aceh Carong guna mewujudkan Aceh Hebat, yang merupakan visi-misi Pemerintah Aceh dalam bidang pendidikan.

Saat membuka Training of Trainer (ToT) SMK Kurikulum Eduteknopreneur Islami, Kadisdik Aceh Syaridin mengatakan, standar nasional pendidikan (SNP) baru khusus SMK telah terbit sejak Desember 2018 lalu.

"Nah, merujuk Permendikbud nomor 34 tahun 2018 tentang SNP SMK/MAK yang memperbaharui seluruh permendikbud tentang standar pendidikan terdahulu. Maka Kurikulum Aceh juga harus mengacu pada perubahan 8 standar pendidikan yang ada di satuan pendidikan SMK/MAK," ujar Kadisdik Aceh.

Menurutnya, kurikulum Aceh yang sesuai dengan amanah Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) Nomor 11 tahun 2006 dan Qanun Aceh tidak berseberangan dengan Kurikulum Nasional, akan tetapi Kurikulum Aceh memperkaya kurikulum nasional.

"Eduteknopreneur atau pendidikan berbasis teknologi dan kewirausahaan Islami diharapkan berfungsi membentuk danmenghasilkan lulusan yang mampu menguasai teknologi, bersaing di dunia kerja dan atau membuka usaha baru berdasarkan pendidikan Islami," katanya.

Sementara pendidikan islami, terangnya lagi, berfungsi mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia (akhlakul karimah), sehat berilmu, cakap, kreatif dan menjadi negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

"Nah, salah satu urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintahan Aceh yang merupakan pelaksanaan keistimewaan Aceh adalah penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan islami dengan ditandai menambah materi sesuai dengan syari'at Islam," terang Syaridin.

Ia juga menyampaikan, UUPA Nomor 11 tahun 2006 termaktup dalam pada pasal 218  ayat 1  disebutkan bahwa, Pemerintah Aceh dan pemerintah Kabupaten/Kota menetapkan kebijakan mengenai penyelenggaraan pendidikan formal, pendidikan dayah dan pendidikan nonformal lain.

"Tentunya melalui penetapan kurikulum inti dan standar mutu bagi semua jenis dan jenjang pendidikan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan SMK, belajar akan lebih bermakna jika peserta belajar mengalami apa yang dipelajarinya, bukan sekedar mengetahuinya," imbuhnya.

Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.

Masih kata Kadisdik Aceh, pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) dan pembelajaran pengalaman (experiential learning) adalah konsep belajar mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta belajar membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

"Dengan melibatkan enam komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), komunitas belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment), maka hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna," lanjutnya.

Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan. strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil (depdiknas, 2005).

Lebih lanjut ia mengatakan, konstruktivisme sebagai aliran filsafat, banyak mempengaruhi konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran.

"Konstruktivisme menawarkan paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan paradigma pembelajaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri," sambungnya.

Ia menambahkan, kurikulum edutechnoprenuer menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis tempat kerja atau sering disebut wbl (work based learning) yang diturunkan dari premis bahwa "setting pembelajaran pada konteks tempat kerja yang riil" tidak hanya membuat pembelajaran akademik lebih mudah dicerna para peserta didik, tetapi juga meningkatkan kedekatan sekolah dengan industri (engagement in schooling industri).

"Aktivitas sekolah membantu memperkuat dan memperluas pembelajaran yang dicapai pada tempat kerja sementara peserta didik mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dari pengalaman dua tempat (sekolah dan tempat kerja/industri) serta memungkinkan tersambung pembelajaran dengan sesuai dengan tempat kerja (real-life work activities)," tutupnya. (Adv)
KOMENTAR